Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 18 Januari 2018

BUDAK dan ANJING

  Pemberian yang pantas apalagi sesuatu yang diberikan itu masih kita senangi sebenarnya merupakan penghormatan bagi yang diberi dan menjaga martabat  pemberi. Kalau memang mampu, memang sebaiknya pemberian itu dalam jumlah banyak dan ikhlas. Sedikitpun asal ikhlas itu juga sudah ada kebaikan dan syukur rutin. 
          Dulu ada seorang kaya raya dan dermawan bernama Abdullah bin Ja’far yang memiliki putra bernama Ja’far bin Abi Halaib.  Pada suatu hari yang panas, beliau berjalan-jalan mengelilingi kebunnya. Setelah dirasa cukup mengelilingi kebun, ia pun bermaksud berteduh di bawah pohon milik orang lain. Kebun itu dijaga oleh seorang budak yang saat itu membawa bekal 3 (tiga) potong roti.
          Dari kejauhan ada seekor anjing lari-lari sambil menjulurkan lidahnya karena lapar dan kehausan. Anjing itu mendekati budak tadi sambil menggerak-gerakkan ekornya dan menjilat-jilat sesuatu di sekitar budak tadi. Melihat perilaku anjing itu, hati budak terketuk dan memberikan sepotong rotinya. Anjing itupun memakannya sampai habis. Akan tetapi anjing itu masih penasaran dan tetap menengadah meminta kepada budak yang masih memegang dua potong roti itu. Lalu diberikanlah sepotog roti lagi dan anjing itupun memakannya sampai habis. Dasar anjing, sudah diberi dua  potong roti,nampaknya masih kurang juga.
          Melihat kondisi anjing yang memelas seperti itu, budak itu tidak tega makan roti yang tinggal satu potong itu. Dia pun merelakan sepotong roti terakhir untuk anjing itu. Dia sendiri tidak makan roti. Sedianya satu potong untuk makan di pagi hari, satu potong siang hari, dan satu potong lagi untuk makan nanti sore. Berhubung 3 (tiga) potong habis diberikan pada anjing, maka jatah makan hari itu habis.
          Menyaksikan kejadian itu, Abdullah bin Ja’far memanggil budak tadi dan bertanya.” Hari Saudara, berapa potong roti yang diberikan tuanmu untuk makan hari ini ?”. Budak itu menjawab, :”Ya sebnyak yang Bapak lihat, yakni 3 (tiga) potong roti yang sudah saya berikan pada anjing tadi”. Kemudian dia melanjutkan :”Saya melihat anjing itu bukan anjing dari sekitar sini. Sepertinya anjing itu datang dari jauh dan mengembara sampai ke sini karena kelaparan. Saya sangat kasihan pada anjing tadi dan tidak sampai hati melihatnya kelaparan dan tak berdaya”  lanjutnya..
          Abdulah pun seperti mengulang pertanyaannya lagi :”Lalu apa yang kau makan hari ini?”. Dengan lugas budak itu menjawab,:”Aku akan mengikatkan ikat pinggangku kuat-kuat agar tidak terasa lapar.”, tkasnya.
Mendengar jawaban budak itu, Abdullah bin Ja’far termenung dan berkata pada dirinya sendiri.”Sampai di mana aku dikenal sebagai seorang dermawan. Padahal budak itu lebih dermawan dari pada aku. Ia telah memberi makan pada anjing. Padahal roti itu   akan dimakan untuk satu hari hanya karena tidak tahan melihat seekor anjing nyaris mati karena kepalaran”.
          Abdullah bin Ja’far merenung beberapa saat, kemudian ia memanggil budak tadi dan minta ditunjukkan rumah majikannya. Setelah diberi alamat yang jelas, ia pergi ke rumah yang dituju yaitu majikan budak tadi. Sesampai di suatu rumah, ia ditemui langsung oleh sang majikan. Kemudian Abdullah bin Ja’far mengutarakan maksudnya bahwa ia ingin membeli sepetak kebun dan budak (saat itu budak dijualbelikan)  yang menjaga kebun itu yang selanjutnya akan dimerdekakannya.
          Setelah mendapatkan kesepakatan harga, lalu dibayarlah harga kebun dan budak itu. Abdullah bin Ja’far lalu pergi ke toko alat-alat perkebunan. Dari sana, beliau langsung menemui budak tersebut di kebun yang dijaganya. Saat itu, budak sedang menjaga sambil menahan lapar dan haus. Dijelaskannya, bahwa kebun yang dijaganya dan diri budak itu telah dibeli oleh Abdullah.
          Tak disangka, kemudian  Abdullah bin Ja’far berkata, :”Mulai sekarang kebun ini saya serahkan kepadamu. Dan engkau sendiri sekarang telah menjadi orang merdeka (bukan budak lagi). Kemudian semua peralatan perkebunan ini gunakanlah sebaik-baiknya untuk mengelola dan mengembangkan kebun. Hiduplah engkau dengan bahagia dalam memelihara dan memberdayakan kebun ini untuk kehidupanmu yang lebih baik ”.



Lasa Hs.     

0 komentar:

Posting Komentar