Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 05 Januari 2018

KUNTOWIJOYO (1943 – 2005) – Sastrawan, Budayawan Muslim, Penulis Produktif

Mas Kunto, begitu panggilan akrabnya. Beliau dilahirkan di kalangan Muhammadiyah dan dunia seni. Ayahnya seorang anggota Muhammadiyah dan dalang. Budayawan muslim dan penulis produktif ini telah banyak memberikan pemikirannya kepada Muhammadiyah, dunia sastra, sejarah, dan kebudayaan. Buku sebagai produk intelektual dan artistik menjadi koleksi berbagai perpustakaan dan masih bisa kita baca, pelajari, dan kembangkan. Maka pikiran penulis itu masih hidup dalam kematian jasadnya.
Guru besar sejarah FIB UGM itu telah memberikan sumbangan pemikiran kepada Muhammadiyah antara lain dalam buku berjudul Intelektualisme Muhammadiyah; Menyongsong Era Baru. Dalam hal ini Prof. Syafii Maarif (Buya Syafi’i) pernah menyatakan bahwa Kuntowijoyo merupakan sosok pemikir Islam yang sangat berjasa pada umat Islam dan Muhammadiyah. Kritiknya memang pedas, namun hal itu merupakan pemikiran yang sangat mendasar.
            Pemikir muslim ini memang mendalami sejarah. Baginya, mendalami sejarah adalah belajar kearifan. Memang beliau mendalami dan menerapkan kearifan ini dalam kehidupan intelektual, budayawan, sastrawan, dan penulis. Hidup untuk menulis, dan menulis agar tetap “hidup” tampaknya menjadi filosofi hidupya. Beberapa buku sebagai produk intelektual dan artistiknya antara lain; 1) Intetektualisme Muhammadiyah;Menyongsong Era Baru; 2) Kereta Api Berangkat Pagi Hari (novel, 1966); 3) Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, (cerpen, 1968); 4) Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976); 5) Mantra Penjinak Ular (cerpen, ; 6) Identitas Politik Umat Islam; 7) Paradigma Islam; Integrasi Ilmu sejarah; 8) Demokrasi dan Budaya; 9) Pengantar Ilmu Sejarah; 10) Dinamika Umat Islam Indonesia (1985); 11) Budaya dan Masyarakat (1987); dan 12) Radikalisasi Petani dan masih banyak lagi.
            Kesadaran dan semangat menulis seharusnya menjadi karakteristik seorang intelektual. Bukan sekedar gelar yang berjajar. Kesadaran dan semangat inilah yang tetap membara, meski mengalami serangan virus enchepalitis pada 6 Januari 1992. Beliau tetap menulis sampai pada detik-detik terakhir hayatnya. Mas Kunto biasa bangun pukul 03.00 dinihari lalu shalat tahajud dan berdzikir sampai menjelang subuh. Begitu waktu shubuh tiba, beliau melaksanakan shalat shubuh. Seusai shalat, dzikir, dan mengaji lalu meneruskan menulis. Rata-rata dua hari sekali, beliau berjalan-jalan bersama isteri (Ibu Dra. Susilaningsih)  sekitar 5 km untuk melemaskan otot-ototnya. Setelah sarapan pagi, lalu menulis lagi. Siang hari tidur sejenak, lalu bangun dan menulis lagi sampai sore hari. Kemudian sehabis shalat Isya’ beliau menulis lagi sampai larut malam.
            Pada suatu hari Minggu, mereka berdua berjalan-jalan ke rumah ibunya di Klitren Yogyakarta lalu putar-putar menuju Nogotirto untuk menengok rumah milik putranya. Setelah dirasa cukup, lalu pulang dan masih sempat mengetik naskah buku Mengalami Sejarah. Bahkan beliau sempat menyatakan bahwa beliau akan menulis buku tentang Muhammadiyah dalam rangka menyambut Muktamar Muhammadiyah di Malang (2005).
            Seperti biasanya, Pak Kuntowijoyo mengetik dulu di Minggu sore itu dan setelah selesai dan dirasa capai lalu istirahat. Minggu malam itu, beliau tidur pada pukul 22.30. Kemudian pada pukul 24.00 beliau merasakan sakit di pinggangnya dan diobati oleh Ibu Susilaningsih (isterinya). Namun pada pukul 03.00 dinihari beliau menderita diare lalu dibawa ke rumah sakit Prof. Dr, Sardjito Sekip Yogyakarta di Paviliun Cendrawasih sampai sore hari. Di Paviliun ini kondisinya semakin menurun dan pada puku 20.00 beliau dirawat di ICU RS Prof.Dr.Sardjito. Berbagai upaya telah ditempuh, namun takdir tak dapat ditolak. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada pukul 16.00 tanggal 22 Februari 2005. Beliau meninggalkan pemikiran-pemikiran yang telah terekam dalam buku yang Insya Allah menjadi ‘ilmu yuntafa’u bih dan amal jariyah. Perlu disadari bahwa otak kita berisi jutaan informasi dan ilmu. Untuk apa?. Otak itu mungkin hanya akan menjadi santapan cacing di kubur nanti. Sebaiknya kita tulis dan rekam mumpung masih ada waktu.



Saemuri 



0 komentar:

Posting Komentar