Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Rabu, 17 Januari 2018

MENGELOLA KONFLIK (2)


Macam-macam konflik
      Konflik yang terjadi dalam organisasi, lembaga, partai politik, maupun perpustakaan bisa terdiri dari berbagai macam, antara lain:
  1. Konflik dalam diri sendiri
Setiap individu memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi  tugas, kewajiban, dan tanggung jawab, baik itu tugas baru maupun  tugas lama. Konflik bisa terjadi pada diri seseorang apabila menghadapi ketidakpastian tugas, mendapat tugas di luar kemampuannya, atau banyaknya tuntutan tugas atau perintah atasan.
  1. Konflik antarindividu
Perbedaan peran dan perbedaan kepribadian antarindividu dapat menimbulkan konflik dalam suatu perpustakaan. Konflik ini bisa terjadi antara atasan dan bawahan, sesama bawahan, atau antarunit kerja dalam suatu perpustakaan. Konflik ini bisa saja disebabkan oleh individu-individu yang malas, egois, pendengki, iri, mau menang sendiri, dan lainnya. Mereka perlu diberi pengarahan dan pembinaan.
  1. Konflik individu dengan kelompok
Seseorang dapat saja diasingkan, dikucilkan bahkan dikeluarkan dari kelompok atau komunitasnya. Mereka dianggap tidak bisa menyesuaikan diri dan melanggar norma-norma adat. Pihak yang diasingkan itu akan mengalami konflik yang dapat membuat suasana kaku bahkan bisa menjadi ketegangan tersendiri.
  1. Konflik antarkelompok
Terjadinya pertentangan antarbagian di suatu perpustakaan memungkinkan terjadinya konflik antarkelompok. Misalnya saja bagian pelayanan berkeinginan agar buku-buku baru itu segera dapat dipinjamkan. Namun bagian pengolahan tidak bisa melakukan pengolahan buku secara cepat karena semua harus menggunakan prosedur yang berlaku. Ketidaksesuaian sistem kerja ini kadang menimbulkan konflik antarunit kerja
  1. Konflik antarorganisasi, paham, dan aliran
Kepentingan politik, kepentingan ekonomi, perbedaan keyakinan, persaingan karier, dan perbedaan kultur dapat menimbulkan konflik organisasi. Konflik seperti inilah yang kadang menimbulkan keresahan dan kerusuhan yang kadang berakhir dengan pengasingan, pengorbanan, bahkan pembunuhan (Lasa Hs., 2005: 34-35).
Konflik dalam organisasi maupun perpustakaan merupakan dinamika tersendiri apabila pihak-pihak yang terlibat mampu menyikapinya dengan arif. Adanya konflik itu akan membuat semua pihak memahami kekurangan dan menghargai keinginan masing-masing serta dapat diselesaikan secara baik. Namun apabila tidak disadari, konflik itu justru menjadi penyebab perpecahan.
Penyelesaian konflik
Konflik tidak sekonyong-konyong terjadi begitu saja, tetapi ada penyebab awal dan melalui tahapan proses. Yakni suatu benturan, pergulatan, pertarungan, bahkan pertentangan berbagai kepentingan, opini, maupun tujuan yang terjadi dalam diri, bahkan bangsa dan negara.
      Dalam berbagai literatur dapat dikemukakan beberapa cara penyelesaian konflik antara lain:
  1. Kompromi atau negoisasi
Kompromi merupakan strategi penyelesaian konflik ketika semua pihak yang terlibat saling menyadari dan sepakat pada keinginan bersama. Penyelesaian strategi ini sering diartikan sebagai lose-lose situation. Yakn kedua belah pihak yang terlibat saling menyerah dan menyepakati  hal yang telah diperbuat. Biasanya penyelesaian ini digunakan dalam tingkat manajemen atas (top management) dan manajemen menengah (middle management).
  1. Kompetisi
Strategi kompetisi ini sering disebut sebagai win-lose situation. Dalam penyelesaian konflik ini menekankan hanya ada satu orang atau kelompok yang menang tanpa mempertimbangkan pihak yang kalah. Akibat negatif dari strategi ini adalah timbulnya kemarahan, putus asa, bahkan kerusuhan. 
  1. Akomodasi
Akomodasi sering disebut dengan cooperative situation. Pada strategi ini seseorang berusaha mengakomodasi permasalahan dan memberi kesempatan pihak lain untuk menang. Pada cara ini, masalah utama yang terjadi sebenarnya tidak terselesaikan. Strategi ini biasanya digunakan oleh partai politik atau kelompok-kelompok yang berebut kekuasaan dengan segala konsekuensinya.
  1. Smothing
Teknik ini merupakan penyelesaian konflik dengan cara mengurangi komponen emosional dalam konflik. Pada strategi ini, individu yang terlibat dalam konflik berupaya mencapai kebersamaan dari perbedaan dengan penuh kesadaran dan intropeksi diri. Strategi ini bisa diterapkan pada konflik yang ringan dan tidak digunakan untuk mengatasi konflik yang bersifat besar
  1. Menghindar
Pada strategi ini, semua pihak yang terlibat dalam konflik menyadari tentang masalah yang dihadapi. Namun mereka memilih menghindar atau sengaja tidak menyelesaikan masalah. Strategi ini dipilih apabila ketidaksepakatan dianggap akan membahayakan kedua belah pihak.
  1. Kolaborasi
Strategi ini biasa disebut dengan win-win solution. Dalam cara ini kedua belah pihak yang terlibat menentukan tujuan bersama dan bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan. Keduanya yakin akan bisa mencapai tujuan bersama itu. Strategi kolaborasi tidak akan bisa berjalan apabila kompetisi insentif sebagai bagian dari situasi tersebut, kelompok yang terlibat tidak mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan masalah, dan tidak adanya kepercayaan dari kelompok/seseorang (Nursalam, 2015).



                               Oleh :Lasa Hs
                                 (Tulisan II)



0 komentar:

Posting Komentar