Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 05 Januari 2018

MENYIKAPI SAKIT

Hampir semua orang kepingin sehat terus dan bila mungkin tak perlu sakit. Sakit bagiya merupakan penderitaan yang menyiksa diri dan merepotkan sanak saudara. Baik sakit jasmani maupun rohani. Itulah keinginan manusia. Namun realita kehidupan tidak mesti demikian. Sebab yang namanya senang, susah, sehat, dan sakit itu merupakan pasangan.
Menghadapi sakt ini perlu kekuatan yang kokoh. Tanpa benteng ini, bisa-bisa si penderita putus asa dan berlaku dhalim terhadap diri atau pada orang lain. Pendhaliman ini akan mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan akhirat nanti.
Sakit merupakan salah satu bentuk cobaan sejauh mana ketabahan seorang hamba dan seberapa kualitas iman seseorang. Apabila dia seorang mukmin yang baik, maka pasti akan sabar atas penderitaan itu. Namun bila mereka itu tidak sabar,, maka patut dipertanyakan tingkat keimanan seseorang. Sebab seorang mukmin yang baik, akan beranggapan  bahwa apapun yang terjadi pada dirinya pasti ada hikmahnya. Bila mereka menerima cobaan, pasti sabar. Namun bila menerima kegembiraan mereka akan bersyukur.
Menyikapi hal ini, baiklah kita renungkan dan pahami firman AllahSWT yang menyatakan bahwa :”Aku pasti mencoba/menguji kamu sekalian dengan ujian-ujian antara lain berupa kekhawatiran, kelaparan, berkurang harta benda, jiwa, dan buah-buahan, Maka berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yakni mereka yang apabila ditimpa musibah, lalu menyatakan bahwa kita ini milik Allah dan swaktu-waktu pasti kembali pada Allah. Mereka itu akan mendapatkan shalawat dan rahmat dari Tuhan/Rabbnya dan mereka itu adalah orang-orang yang mendaptkan petunjuk (Q.S.AlBaqaah: 155  157).
Rahasia di balik sakit
                Semua peristiwa (termasuk penderitan) yang dialami manusia secara individu maupun kelompok tertentu memiliki nilai tersendiri.Mungkin nilai ini belum diketahui saat mengalami penderitaan. Hal ini disebabkan oleh keterbasan akal   manusia dan tumpulnya mata hati manusia.  Dalam hal ini Ibnul Al Qayyim mengatakan:” Andaikata itu bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaanNYa, maka tak kurang dari ribuan hikmah yang bisa diambil saripatinya. Namun akal manusia itu terbatas dan pengetahuan kita terlalu sedikit. Ilmu semua mahluk didunia ini bukan apa-apa bila dibandingkan dengan ilmu Allah. Perbandingan ini ibarat lilin dibawah sinar matahari di siang hari. Toh inipun sekedar mengira-ira. Adapun keadaan sebenarnya lebih dari itu (Abdullah bin Al Juatsin, 1995). Dari paparan Ibnul A Qayyim ini dapat dipahami bahwa terdapat banyak hikmah yang terkandung dari suatu penderitaan antara lain berupa ampunan, peningkatan derajat, pembuka jalan ke surga, penyelamatan diri dari siksa api neraka,dan agar manusia itu sadar atas kelalaianya.
Ampunan dosa
Sakit yang diderita seseorang bisa berarti ada ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan oleh hati, pikiran, mulut, tangan, maupun kaki seseorang. Bisa juga diartikan bahwa penderitaan itu merupakan bentuk hukuman atas kesalahan yang dilakukan oleh seorang anak manusia. Oleh karena itu,manusia perlu mawas diri dan menyadari atas kekeliruan dan kesalahan selama ini. Dalam hal ini, Rasulullah SAW mengingatkan dalam salah satu sabdanya yang artinya:”Ketika seorang muslim ditimpa penyakit, kesusahan, gangguan, kesediaan, sampai kena duri, maka Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya (H.R.Bukhari & Muslim). Dari hadits ini dapat dipahami bahwa yang namanya sakit itu tidak hanya sakit jasmani, tetapi juga sakit rohani. Sakit rohani itu antara lain; kesedihan, hasad, takabur, dan lainnya.
Peningkatanderajat
                Dalam kehidupan seseorang terdapat keinginan untuk selalu ada peningkatan. Orang berusaha untuk menggapai derajat, status, jabatan, kehormatan, dan kekuasaan. Dalam usaha ini, tidak sedikit kendala yang menghadangnya. Apabila mereka berhasil mengatasi duri dan onak ini, maka kemungkinan besar mereka itu mampu menggapai keinginan tersebut. Perjuangan mengatasi rintangan inilah sebenarnya merupakan ujian atas kemampuan seseorang.
                Demikian halnya dengan penderitaan yang dialami seseorang yang sebenarnya juga merupakan ujian agar sabar dan tabah menerimanya. Maka Allah akan menaikan derajat orang itu. Dalam hal ini, ‘Aisyah r.a. berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :”Apabila seorang muslim tertusuk duri atau lebih dari itu, maka Allah akan menetapkan/menaikkan derajat dan menghapus dosanya” (H.R. Muslim)
Pembuka jalan ke surga
                Jalan menuju pada keberhasilan memang penuh lika-liku, tanjakan, dan kanan kiri terdapat jurang yang menganga. Jalan ke surga dirintangi duri, onak, belukar, dan hal-hal lain yang tidak menyenangkan. Jalan ke surga memang membelenggu bahkan menyiksa hawa nafsu. Sebaliknya, arah ke neraka sangat mudah diikuti dan  menyenangkan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita dalam sabdanya :”Jalan ke surga itu diliputi hal-hal yang tidak menyenangkan. Tetapi jalan ke neraka dilingkupi hal-hal yang menyenangkan” (H.R.Bukhari dan Muslim).
Sakit merupakan keadaan yang tidak menyenangkan siapapun dan ini merupakan sesuatu yang dibenci oleh hawa nafsu. Sebab ketika sakit, aktivitas nafsu itu terganggu seperti nafsu makan, nafsu tidur, nafsu memfitnah, nafsu dengki, dan lainnya. Oleh karena itu apabila orang itu tabah dan sabar dalam menerima penderitaan, maka Allah akan mengampuni dosanya dan membuka jalan menuju ke surga.
Keselamatan dari sksa api neraka
                Surga dan neraka adalah sesuatu yang gaib. Informasi keberadaannya memang sulit dilacak oleh otak manusia.Namun agamalah yang memberikan informasi lengkap atas keberadaannya dan hal-hal yang terkait. Maka persoalannya tergantung pada sejauh mana keteguhan iman seseorang kepada yang gaib ini.
                Orang yang sakit dan sabar atas penderitaan itu, Insya Allah akan dijauhkan dari siksa api neraka. Suatu hari, Rasulullah SAW menjenguk seseorang yang sedang sakit demam disertai Abu Hurairah. Setelah duduk sejenak beliau bersabda yang artinya:” Bergembiralah,karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :” Inilah neraka-Ku. Aku menganjurkannya menimpa hamba-Ku yang mukmin di dunia ini, agar dia jauh dari siksa api neraka besok pada hari akhirat (Hadits ditahrij oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan Al Hakim dirwayatkan oleh Abu Hurairah).
Agar sadar atas kelalaiana.
Manusia sering lalai dari tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah dan sebagai makhluk yang dipercaya memegang kepemimpinan/khalifah di muka bumi ini. Kelalaian itu antara lain tidak melaksanakan kewajiban, tidak memerhatikan yang lemah, korupsi, bohong, dan lainnya.
Ketika manusia sibuk dengan keduniaannya, kadang melupakan Tuhannya. Dalam keadaan begini, syetan memanfaatkannya untuk menyeret ke kubangan syahwat dan kedurhakaan. Apabila nanti Allah mencobanya dengan berbagai macam musibah atau penyakit,maka mereka mungkin akan menyadari atas kekeliruan langkah mereka. Dalam hal ini Allah mengingatkan manusia agar menyadari kelalaiannya dalam firmanNYa yang berarti :”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan agar mereka memohon (kepada Allah) dengan tuduk dan penyerahan diri (Q.S. Al An’am: 42)
Dengan penyakit dan penderitaan yang menimpa seseorang, bisa menyadarkan seseorang bahwa dalam hidup dan kehidupan ini menusia membutuhkan pertolongan Allah. Bila disadari manusia, bahwa sepanjang hayat manusia sebenarnya tidak bisa lepas sedetikpun dari nikmat Allah. Dalam hal ini Ibnu Taimiyah mengatakan :”Musibah yang diterima karena Allah semata, itu lebih baik padamu daripada adanya nikmat yang jutsru bisa melupakan diri pada Allah”.



Lasa Hs
Perpustakaan UMY


0 komentar:

Posting Komentar