Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 25 Januari 2018

RIYA’; Gejala dan Macamnya

Riya’ merupakan perilaku memperlihatkan kebaikannya agar dipuji dan disanjung. Mereka kadang kumalungkung bila disanjung dan sakit hati bila dicaci. Dengan pujian ini, mereka merasa memiliki nilai lebih dari yang lain.
Memang kadang orang memiliki kelebihan dan kekurangan dari orang lain. Kelebihan itu bisa dalam jabatan, pangkat, harta, keturunan, dan kekuasaan.
Menunjukkan kelebihan diri itu kadang dipandang sebagai hak. Hal ini merupakan realita yang sering dianggap benar. Namun dalam koridor etika dan agama dipandang kurang pantas.
            Dalam hal ini, pernah suatu ketika ditanyakan kepada seorang filosof tentang sesuatu yang benar tetapi jahat. Filosof itu menyatakan bahwa perilaku orang yang memuji diri sendiri itulah merupakan perbuatan benar tetapi jahat.
            Riya’ dan semacamnya dapat dikategorikan sebagai perbuatan syirik meskipun kecil. Dalam hal ini Rasulullah Saw pernah mengingatkan dalam sabdanya:” Aku sangat mengkhawatirkan kamu sekalian dari perbuatan syirk kecil”. Kemudian para sahabat bertanya :” Apa yang dimaksud syirk kecil itu ya Rasulullah ?.” Beliau menjawab :yakni riya’.
            Penyakit ini sering tersembunyi dan pelakunya kadang tidak merasa. Untuk itu perlu dipahami gejala-gejala riya’. Imam Ghazali memberikan kriteria beberapa perilaku yang merupakan gejala riya’ yakni:
1.     Semakin meningkat ibadah dan amaliyahnya bila disanjung
Orang dewasa itu kadang bertingkah seperti anak kecil. Yakni begitu ceria dan bangga bila dipuja, tinggi hati bila dipuji, dan besar hati bila disanjung. Demikian pula mereka dalam melaksanakan ibadah yang kadang tertipu oleh perasaan sendiri.
Begitu semangat shalat seseorang bila dilihat banyak orang. Sumbangannya ditambah lantaran sumbangan pertama dimuat surat kabar. Perilaku ini dikira akan meningkatkan eksistensi diri dan keluarga di mata publik.
2.     Putus asa dan kurang semangat bila dicela
Tidak sedikit diantara kita yang mudah putus asa bila dicela. Begitu mudah sakit hati bila dicaci maki. Hal ini terjadi lantaran perbuatan itu untuk manusia dan bukan untuk Allah.
3.     Malas melakukan kegiatan ibadah bila sendirian
Kadang diri kita terkena penyakit malas bila melakukan kegiatan ibadah sendirian. Mungkin malas shalat malam bila sendirian meskipun hanya 2 (dua) rekaat. Tetapi kalau menonton pertandingan sepak bola tengah malam sampai dini hari begitu asyik walau berjam-jam.
4.     Menunjukkan kedermawanannya bila diketahui orang banyak
Orang memberi sesuatu kepada orang lain dengan niat bermacam-macam. Ada yang memberi sesuatu untuk memeroleh suara, simpati, pujian, dan nama diri. Mereka menampakkan kedermawanannya bila dilihat orang banyak. Namun begitu pelit bila tak dilihat orang.

Oleh: Lasa Hs.
                                                            (bersambung)


0 komentar:

Posting Komentar