Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 12 Februari 2018

Efektivias Kepemimpinan Perpustakaan


Kepemimpinan besar pengaruhnya terhadap perubahan dan pengembangan organisasi, lembaga, dan perpustakaan.  Sukses atau kegagalan  perpustakaan ditentukan oleh  kepemimpinan. Sebab, kepemimpinan pada umumnya didasarkan pada kekuasaan dan kemampuan untuk  memengaruhi, mendorong, dan menggerakkan orang lain (atasan, pejabat lain,anak buah) secara bersama-sama untuk mencapai tujuan  perpustakaan.
Kepemimpinan adalah kemampuan memengaruhi seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk itu, seorang pemimpin/kepala perpustakaan harus menguasai ketrampilan manajemen, ketrampilan teknis, manusiawi, dan memiliki kompetensi konsepsional. Dalam hal kepemimpinan ini, keberhasilan kepemimpinan antara lain dapat diketahui melalui berbagai indikator antara lain; 1) memimpin dengan visi yang jelas; 2) memimpin dengan keteladanan; 3) seorang komunikator yang handal; 4) mampu memenangkan kepercayaan bawahannya; 5) tenang dalam menghadapi situasi yang sulit; 6) tampil dalam citra profesional  (Lasa Hs., 2009).
Kepemimpinan sebenarnya merupakan proses pengaruh sosial yang mengikutsertakan bawahan dalam usaha pencapaian tujuan. Dengan demikian, memang ada implikasi bahwa pemimpin telah membawa perubahan pada bawahan. Pemimpin adalah ahli strategi yang menetapkan tujuan organisasi eksternal dan internal (Timpe, 1999 dalam Lasa Hs 2001). Dalam teori ini  ditegaskan bahwa kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu membawa perubahan. Sebab pemimpin (kepala, ketua, komandan, koordinator dll) memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk memengaruhi orang lain. Oleh karena itu, dalam memimpin perpustakaan diperlukan kepemimpinan yang efektif. Efektivitas kepemimpinan perpustakaan dipengaruhi banyak faktor antara lain; kemamuan memotivasi, komitmen, pengendalian situasi, bertanggung jawab, adil, dan percaya diri.
  1. Kemampuan memotivasi
Keberhasilan pencapaian tujuan perpustakaan dipengaruhi oleh intensitas kepemimpinan dalam proses manajemen dan memotivasi bawahan. Oleh karena itu proses kepemimpinan ini tidak bisa lepas dari motivasi sebagai pendorong. Seorang pemimpin (kepala perpustakaan, misalnya) terdorong oleh motivasi kekuasaan, sedangkan bawahan terdorong oleh motivasi untuk memenuhi kebutuhan mereka.
                Motivasi merupakan energi untuk melaksanakan suatu kegiatan. Motivasi yang tinggi berarti keikhlasan. Mereka yang ikhlas akan bekerja keras dan tidak mengharap imbalan dari orang serta terlepas dari kepentingan pribadi, jabatan, pangkat, penghargaan, maupun pujian. Mereka tidak butuh untuk dipuji. Orang yang ikhlas tidak pernah patah semangat, meskipun tidak ada atasan yang menungguinya. Orang yang ikhlas tidak pernah kecil hati bila tidak dipuji. Sebab  mereka yakin bahwa ada sesuatu yang lebih utama dari itu semua.
                Ikhlas berarti menjaga profesionalisme dan prestasi dalam setiap level jabatan. Ketika menjadi bawahan telah berprestasi, ketika menduduki jabatan pun berusaha untuk berprestasi. Demikian pula bila telah menduduki jabatan, beliau tetap penuh tanggung jawab dan bukan takut kehilangan jabatan. Jabatan baginya adalah amanah dan bukan sekedar kesempatan.
                Pada masa pemerintahan ‘Umar bin Khattab r.a. terjadi perang dahsyat dengan panglima perang Khalid bin Walid. Ketika perang tengah berkecamuk, beliau menerima sepucuk surat dari Khalifah ’Umar bin Khattab r.a. Surat itu berisi penggantian panglima perang dari Khalid bin Walid kepada Abu Ubaidah bin Jarrah. Setelah membaca sura itu, beliau tetap berperang di garis depan dan berkata :”Aku berperang bukan karena ‘Umar, tetapi aku berperang karena Allah Swt”. (Lasa Hs, 2017:44). Ketika menjadi panglima perang beliau di garis depan, dan ketika menjadi anak buah, juga tetap berperang di garis depan.  
  1. Komitmen
Komitmen adalah sikap menyesuaikan diri dengan mantap pada sasaran yang akan dicapai seseorang atau kelompok. Mereka yang memiliki komitmen tinggi akan kelihatan kinerjanya. Mereka yang rendah komitmennya akan menghindar dari tugas dan tanggung jawab. Bahkan selalu mengedepankan hak dari pada kewajiban.
Orang-orang yang memiliki komitmen tinggi biasanya:
1)      Mau berkorban untuk mencapai sasaran, profesi, komunitas maupun bidang tertentu;
2)      Selalu mencari peluang dan memanfaatkan peluang untuk berprestasi;
3)      Merasa ada dorongan dalam dirinya untuk selalu berkembang dan meningkatkan prestasi.
Orang yang memiliki komitmen tinggi akan memiliki inisiatif. Mereka yang memiliki inisiatif akan berusaha mencari peluang, memanfaatkan peluang, mengembangkan peluang, bahkan mampu menciptakan peluang. Dengan demikian, orang atau pimpinan yang memiliki inisiatif tinggi sebenarnya telah siap menang karena mampu membaca, memanfaatkan, mengembangkan, dan menciptakan peluang. Mereka yang berinisiatif biasanya memiliki karkateristik:
1)      Siap memanfaatkan peluang;
2)      Mampu berprestasi melebihi rata-rata kemampuan orang lain;
3)      Dalam kondisi tertentu berani melawan arus dan sudah diperhitungkan tidak akan terbawa arus;
4)      Berani melakukan petualangan dan berani berkorban untuk orang lain;
5)      Mengajak dan memotivasi orang lain untuk memperbaiki langkah, sikap, maupun cara berpikir   yang selama ini dianggap kurang, lemah, atau salah;
6)      Siap menghadapi kritik, celoteh, gosip, cemoohan, suara sinis dari siapapun.
Orang-orang yang memiliki inisiatif biasanya bersikap berani menanggung resiko. Orang-orang ini akan memeroleh keberhasilan yang sebenarnya. Sememntara itu, orang-orang yang tidak punya inisiatif cenderung mudah menyerah, pasrah sebelum melangkah, dan pilih mati sebelum perang. Katanya, toh sama-sama mati, lebih baik mati sebelum perang.
  1. Pengendalian situasi
Seorang pemimpin harus mampu mengendalikan situasi dan anak buahnya. Di sini diperlukan kecakapan, pengalaman, dan kewibawaan seorang pemimpin. Kepemimpinan yang tidak memiliki kewibawaan akan sulit mengendalikan situasi perpustakaan maupun anak buahnya.
  1. Bertanggung jawab
Seorang pemimpin harus bertanggung jawab untuk membuat perencanaan, melakukan koordinasi, dan melaksanakan evaluasi. Perencanaan adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Koordinasi adalah proses pengintegrasian tujuan pada satuan-satuan yang berpisah dalam suatu organisasi (perpustakaan) untuk mencapai tujuan secara efektif efisien. Koordinasi ini penting dan bertujuan untuk menyatukan langkah, mengurangi benturan tugas, dan meminimalisir konflik internel. Evaluasi pada dasarnya adalah proses mengamati, mengoreksi, dan menimbang sungguh-sungguh tentang baik buruknya masalah. Sebaiknya evaluasi ini dilakukan oleh tim secara formal dengan dasar, standar, dan/atau pedoman tertentu dan pemberian penghargaan sesuai kualitasnya.
  1. Adil    
Kepemimpinan harus menciptakan keadilan. Sebab pada dasarnya setiap orang itu mendambakan keadilan. Bagaimanapun juga, keadilan dalam suatu lembaga (perpustakaan) merupakan daya penggerak yang bisa memotivasi semangat kerja seorang pegawai. Penilaian dan pengakuan mengenai perilaku bawahan harus dilakukan secara obyektif dan bukan atas dasar suka dan tidak suka. Dalam hal ini,  pemberian kompensasi maupun hukuman harus didasarkan pada penilaian yang obyektif dan berdasarkan fakta dan data.

Lasa Hs.


0 komentar:

Posting Komentar