Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Rabu, 14 Februari 2018

Embedded Librarian dan Upaya Self-Disruption Perpustakaan Perguruan Tinggi


Embedded Librarian dan Upaya Self-Disruption Perpustakaan Perguruan Tinggi
Oleh:
Atin Istiarni
Pustakawan Universitas Muhammadiyah Magelang

Fenomena tumbangnya industri konvensional akhir-akhir ini membuat beberapa pelaku industri mulai resah. Perubahan dirasa begitu cepat setelah adanya teknologi dan internet. Perubahan yang yang mampu mengubah gaya hidup masyarakat secara global dalam waktu sangat cepat. Industri paling terlihat perubahannya adalah industri jasa transportasi. Bisa kita lihat semakin masifnya perkembangan ojek online. Masyarakat dimanjakan dengan jasa transportasi yang cepat, aman, dan murah. Bukan hanya itu, kebutuhan masyarakat juga cepat terpenuhi dengan adanya layanan seperti Go-Food misalnya. Orang mudah mendapatkan apa yang diinginkan tanpa pindah tempat. Perubahan yang tentu sangat menakjubkan.
            Namun sayangnya, perubahan yang terjadi tidak mudah diterima oleh semua orang. Pertentangan antara ojek online dan ojek konvensional sampai menimbulkan pertikaian yang seperti tak berujung, hingga pemerintah menurunkan maklumatnya dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017. Itu baru dari sisi transportasi, belum lagi tumbuh suburnya onlineshop yang mampu menurunkan minat orang untuk datang ke pusat perbelanjaan. Kemudian, dalam ranah informasi, perpustakaan mungkin menjadi organisasi yang paling merasakan dampaknya. Pencari informasi yang selanjutnya disebut pemustaka lebih memilih google dan buku elektronik yang bisa diakses lewat gadget mereka.
            The library is a growing organism, begitulah hukum yang ditetapkan oleh S. R. Ranganathan pada 1931. Perpustakaan terus berkembang mengikuti pola belajar masyarakat. Saat ini, ekspansi sebuah perpustakaan sudah mampu memberikan layanan 24 jam melalui layanan online. Peminjaman dan pengembalian buku melalui perpustakaan maya dalam wujud I-pusnas milik Perpustakaan Nasional RI misalnya. Semua serba digital, mudah, murah, dan memuaskan pembaca. Lantas, bagaimana dengan pustakawan jika yang semula dikerjakaannya  diambil alih oleh mesin? Perpustakaan adalah organisasi yang terus berkembang mengikuti perubahan yang ada. Tentunya, pustakawan juga seharusnya mengubah paradigma pekerjaannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.


Perpustakaan Era Baru
            Era baru menuntut kesedehanaan dan keefektivan. Rhenald Kasali mengungkapkan jika Disruption akan mudah terjadi pada lembaga yang high regulated. Waktu sangat berharga dan hal ini harus dipahami oleh pustakawan. Pekerjaan yang semula seperti “penjaga warung” sudah saatnya dirubah. Perpustakaan Perguruan tinggi mulai berbenah dengan penerapan teknologi canggih untuk memberikan layanan yang sederhana dan efektif. Penggunaan teknologi sepertinya menjadi acuan atas kesederhanaan dan keefektivan dan itu disepakati oleh dunia global. Perubahan gaya bekerja pustakawan perguruan tinggi saat ini mengarah pada upaya edukasi kepada pemustaka. Pustakawan tidak lagi sibuk dengan katalog, shelving, peminjaman dan pengembalian serta pekerjaan teknis lainnya. Embedded librarian adalah istilah yang digunakan untuk pustakawan yang terlibat dalam pemberian edukasi bagi civitas akademika kampus. Edukasi dalam bentuk kegiatan Literasi Informasi, pelatihan menulis dan mungkin juga kemas informasi dalam bentuk knowled management kini telah dikembangkan oleh pustakawan. Seorang embedded librarian mampu untuk diajak kolaborasi dengan dosen maupun peneliti. Keahlian pustakawan dalam mengakses dan mengelola informasi baik teks maupun digital membuat pustakawan dibutuhkan saat proses pencarian referensi untuk penelitian maupun tugas akademis lain.
Kesadaran pustakawan maupun pengelola perpustakaan akan hadirnya era baru menjadikan pustakawan mulai berbenah melalui rekonstruksi kebijakan perpustakaan. Saat ini mahasiswa dimanjakan dengan teknologi dan layanan cepat yang diberikan perpustakaan. Lebih dari itu, fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi untuk mencari solusi juga terwujud. Pustakawan siap sedia memberikan solusi pencarian referensi yang kredibel, mutakhir, dan relevan. Pustakawan juga bisa menjadi Pustakawan menjadi mitra belajar mahasiswa maupun dosen. Dengan begitu perpustakaan bukan lagi tempat “terasing” atau “pengasingan” yang kehadirannya sekedar aksesoris untuk akreditasi saja. Jika pustakawan mampu memberikan layanan seperti itu berarti pustakawan dan perpustakaan juga menjadi pihak yang terlibat dalam peningkatan mutu serta kualitas akademik di perguruan tinggi. Maka, menjadi embedded librarian merupakan langkah strategis untuk melakukan Self-Disruption dalam masa era baru seperti yang saat ini terjadi agar perpustakaan tidak ikut “gulung tikar” dan dilupakan masyarakat milenial.






0 komentar:

Posting Komentar