Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 12 Februari 2018

KEANGKUHAN ITU KADANG MENUTUP NURANI


Tidak jarang, orang merasa enjoy ketika terjebak dalam kesombongan diri. Mereka justru sering bangga dengan status. Keangkuhan itu ibarat makan buah simalakama. Satu sisi ingin menonjol dan terpandang.  Tetapi di satu sisi jiwanya tertekan karena terjadi split dalam dirinya.
            Dahulu pada permulaan Islam, Abu Dzar al-Ghifari bersahabat baik dengan Amr bin Hisyam (nantinya bernama Abu Jahl). Mereka berdua sama-sama pedagang terkenal saat itu. Abu Dzar sering datang ke Makkah membawa berbagai macam barang dagangan untuk kemudian dijulakan oleh Abu Jahal.
            Pada suatu saat Abu Dzar datang ke Makkah dengan tangan kosong, tidak membawa dagangan sama sekali. Saat tu beliau hanya sekedar melihat-lihat kondisi pasar. Kira-kira barang apa yang menjadi permintaan pasar.
Ketika sedang duduk-duduk, datanglah Abu Jahl. Abu Jahl pun menyapa :”:Hai sahabat, kali ini dagangan apa yag kau bawa ?. “. Abu Dzarpun menjawab sekenanya :”Ah, kali ini aku tak membawa apa-apa. Aku hanya ingin santai-santai sajalah. Sesekali tak memikirkan duit “. Lalu untuk apa , kau jauh-jauh ke sini kalau hanya sekedar santai-santai saja”. Sergah Abu Jahl. “Ya , sebenarnya aku punya keperluan dengan kemenakanmu” Jawab Abu Dzar. “Kemenakanku yang mana ?.kan kemenakanku banyak”Kata Abu Jahl.
            “Itu lho, kemenakanmu yang bernama Muhammad. Aku dengar dari beberapa teman bahwa kemenakanmu itu diangkat sebagai Rasul. Bukankah Muhammad itu kemenakanmu ?. Seharusnya engkau bangga bahwa kemenakanmu itu menjadi orang pilihan”. Jawab Abu Jahl.
            Mendengar ucapan tersebut berubahlah roman muka Abu Jahl. Sambil mengernyitkan kening lalu berucap ”Sahabat, coba dengarkan baik-baik nasihatku. Sebaiknya engkau tak usah ketemu Muhammad kali ini. Begini kawan. Muhammad itu orangnya menarik. Siapapun orang yan kenal pasti terpikat. Wajahnya bersih, tutur katanya bermakna. Perilakunya lemah lembut dan sopan. Bahasanyapun menawan. Bahkan ketika membacakan wahyu, maka semua kalimatnya menyentuh jiwa”. Demikian ujar Abu Jahl menasihati sahabatnya itu.
            “Jadi kau percaya kepada Muhammad ?”.Tanya Abu Dzar dengan nada menyerang. “Apa” tanya Abu Jahl sambil  menyeringai, dan mukanya agak merah. Maksudku, apakah kau telah masuk  Islam ?. “ Tanya Abu Dzar menimpali.”Aku masih tetap seperti dulu. Aku tetap Abu Jahl. Aku belum miring. Dibayar berapapun aku tetap Abu Jahl”. Ketus Abu Jahl sambil menunjukkan keangkuhannya.
“Bukankah engkau yakin bahwa Muhammad itu benar ?” Sela Abu Dzar. “Ya, benar saya yakini bahwa Muhammad itu benar. Namun aku tetap melawan  Muhammad sampai kapanpun “. Jawab Abu Jahl. “Mengapa demikian ?. sela Abu Dzar .”Begini kawan, kalau aku mengikuti ajaran Muhammad, maka kedudukanku akan  hancur di mata orang-orang Quraisy. “ Abu Jahl menjelaskan..
“Kalau begitu pendapatmu keliru kawan” Sahut Abu Dzar. “Ya, memang kuakui bahwa aku keliru. Bahkan aku juga tahu bahwa besok di akhirat aku akan dimasukkan ke neraka Jahanam . Namun di dunia ini aku tidak mau ditaklukkan Muhammad meskipun besok di akhirat aku benar-benar kalah”. Jawab Abu Jahl.
            Demkianlah kalau nurani tertutup oleh keangkuhan dan kesombongan. Meskipun seseorang itu mengakui kebenaran, namun karena tertutup oleh kedudukan, jabatan, dan pangkat tertentu  maka tetap saja menolak kebenaran itu. Kiranya masih banyak orang-orang yang bersikap seperti Abu Jahl yang tidak mau mengikuti kebenaran karena faktor tertentu.


Lasa Hs.            



0 komentar:

Posting Komentar