Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 22 Februari 2018

TUNAIKAN AMANAH SEBELUM AJAL MENJELANG


 Firman Allah Swt yang artinya: Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya (takut mati) itu pasti akan menemui kamu sekalian, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang Mengetahui yang salah dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Al Jumu’ah: 8)
            Kematian tak segan-segan menghampiri siapapun dan dimanapun. Nenek tua sedang makan pagi meninggal karena kejatuhan pintu rumah yang roboh akibat gempa. Seorang abang becak beranak banyak mendadak meninggal karena tertindih bangunan yang roboh. Seorang mahasiswa yang pagi itu harus ujian, ternyata meninggal di tempat tidurnya karena gempa yang dahsyat di pagi hari misalnya.
            Kematian bisa saja menimpa pekerja tambang karena rerunthan tanah. Seorang jama’ah maghrib padasujud terakhir lama tidak bangun, ternyata setelah diamati dia telah meninggal. Bisa saja seseorang meninggal di kursi ruang sidang ketika mengkuti sidan atau pertemuan ilmiah. Kematian dengan cara yang bermacam-macam itu   merupakan bukti kekuasaan Allah yang dalam waktu singkat Allah memanggil hamaNya yang dikehendaki.
            Berangkat dari kematian yang tidak mesti didahului oleh sakit itu  patut menjadi renungan  bahwa kita perlu segera menunaikan amanah. Amanah berarti kepercayaan. Bila orang diberi amanah berarti diberi kepercayaan. Kata amanah ini serumpun dengan kata iman. Maka amanah ini lahir dari kekuatan iman. Bila iman kuat, maka semakin kuat dalam memegang amanah. Tetapi apabila tidak bisa dipercaya berarti imannya lemah. Jadi antara iman dan amanah ibarat dua keping mata uang. Dalam hal ini Rasulullah Saw menegaskan dalam sabdanya:” Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama orang yang tidak menunaikan/menepati janji” (H.R.Ahmad).
            Sebagaimana pengertian istilah lain, maka amanah dapat diartikan secara sempit dan secara luas. Secara sempit amanah berarti memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya seperti semula. Kemudian amanah dalam arti luas mencakup banyak makna, yakni menjaga diri, menyimpan rahasia, menjaga titipan, menjaga pemberian Allah Swt, menunaikan tugas dari Allah, dan tidak menyalahgunakan kekudukan/jabatan
Menjaga Diri
            Diri orang merupakan sesuatu yang berharga. Maka ada pesan jangan sampai menjual harga diri. Penafsiran harga diri kadang-kadang berlebihan. Mungkin hanya soal sepele saja justru menjadi tawuran dengan alasan membela harga diri.
Menjaga diri adalah upaya agar diri kita tetap dihormati, memiliki kewibawaan, diakui eksistensi kita, tetap dihormati, dan dapat dicontoh orang lain. Orang semacam ini mampu menempatkan dan menyesuaikan diri dalam pergaulan masyarakat umum maupun masyarakat karirnya.
Menyimpan Rahasia
            Masing-masing individu, rumah tangga, lembaga, bahkan negara memiliki rahasia sendiri-sendiri. Rahasia ini mungkin merupakan aib tetapi bisa juga rahasia itu justru merupakan kekuatan atau kekayaan yang disembunyikan. Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga antara suami istri ada hal-hal yang harus menjadi rahasia. Sampai masalah ranjang pun tidak boleh diceritakan kepada orang lain.
            Seorang suami yang membeberkan aib istrinya, justru itu merupakan tindakan yang tidak terpuji. Demikian pula, apabila isteri melakukan konferensi pers tentang penyelewengan suami misalnya. Tindakan ini sebenarnya justru merusak citra rumah tangga sendiri. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda yang artinya:” Sesungguhnya amanah yang paling besar di sisi Allah pada hari kiamat ialah apabila seorang suami berkumpul dengan isterinya kemudian hal ini disebarluaskan kepada orang lain tentang rahasia isterinya” (H.R. Muslim).
Menjaga Titipan
            Apabila dititipi barang, anak, harta, pesan, bahkan salam orang lain, maka titipan itu harus dijaga sebaik-baiknya. Apabila sewaktu-waktu titipan itu diambil oleh yang menitipkannya, maka titipan itu harus ikhlas untuk mengembalikannya.
            Kecuali itu, apabila kita renungkan penuh kesadaran bahwa harta, anak, ilmu, bahkan nyawa itu merupakan titipan. Titipan ini sewaktu-waktu akan diminta kembali oleh Dzat yang Menitipkannya. Kita pun harus ikhlas untuk melepaskannya meskipun berat di hati.
            Dalam suatu kisah diceritakan bahwa pada masa Rasulullah Saw ada suami isteri yang saling asah, asih, dan asuh. Suami itu bernama Abu Thalhah dan isterinya bernama Ummu Salim. Pada suatu hari Abu Thalhah baru pulang dari berniaga/dagang. Ketika sampai di rumah beberapa saat sebelum kedatangannya, anaknya meninggal dunia. Ummu Salim tidak segera memberitahukan kejadian itu kepada suaminya. Sebab sang suami masih capai dan pikirannya belum tenang. Setelah dihidangkan minuman dan makanan ala kadarnya, lalu istirahat sejenak. Kemudian Abu Thalhah menanyakan keadaan putranya yang ketika ia pergi kebetulan anaknya itu sedang sakit. Maka Ummu Salim mengatakan :”Wahai suamiku anak kita lebih tenang dari sebelumnya. Dikatakan selanjutnya : “Wahai suamiku apabila apabila seseorang meminjamkan barang kepada seseorang dalam jangka waktu tertentu, lalu setelah habis masa itu lalu itipan itu diambil oleh pemlinya melalui seorang utusan. Di satu sisi, peminjam itu masih enggan mengembalikannya. Berat rasanyaapabila barang titipan itu diambil oleh pemiliknya. Nahapakah peminjam itu berhak untuk mencegahnya (tidak boleh diambil). Mendengar ini, Abu Thalhah pun menjawab “Tentu saja tidak”. Lalu Ummu Salim mengaakan bahwa putra kita telah dipanggil oleh Allah Swt dan kini sedang berbaring di kamar. Abu Thalhah lalu menghampiri jenazah putranya itu seraya mengatakan inna lillahi waina ilaii rajiun.
            Keesokan arinya, Abu Thalhah menghadap kepada Rasulullah Saw dan menceritakan apa yang dikatakan oleh Ummu Salim kepadanya. Beliau bersabda “: Demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran, Allah telah melontarkan ke dalam rahimnya  seorang laki-laki sebagai balaan atas kesabarannya ditinggal anaknya.”.
            Sungguh mengagumkan kesabaran Ummu Salim sebagai  seorang istri yang menyaari bahwa semua itu hanya titipan. Beliau memang panai menjaga perasaan suami yang baru saja pulang dari niaga berbulan lamanya.  
Menjaga Pemberian Allah
            Harta,isteri, anak,dan ilmu pegetahuan yang diberikan oleh  Allah harus dipelihara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Harta benda misanya harus dipergnakan sebaik mungkin untuk mencari ridha Allah, baik untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, maupun untuk kepentingan umat. Demikian pula halna dengan ilmu  pengetahuan yang kita miliki harus dimanfaatkan untuk kesejaheraan umat manusia.
Menunaikan Tugas dari Allah
            Manusia dberi kepercayaan/aanah oleh Allah untuk menjadi pemimpin/khalifah di muka bumi ini. Amanah yang berat ini semula ditawarkan kepada bumi,langit, dan gunung-gunung .Hal ini sebagaimana difirmankan oleh AllahSwt dalam S. Al Ahzab 72:
Artinya:” Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah keada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu karena mereka khawatir (tidak kuat memikul) bahkan khawatir untuk menghianatinya. Kemudian amanah itu dibebankan kepada manusia. Sesungguhnya manusia itu dhalim dan amat bodoh”. Semua tugas yang dibebakan kepada manusia harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sebab apapun yang dikerjakan manusia harus dipertanggungjawabkan.    
Tidak Menyalahgunakan Kedudukan/jabatan.
            Kedudukan adalah kepercayaan/amanah dan sekaligus kehormatan,baik kedudukanformal atau kedudukan nonformal. Apabila orang mampu menjaga kedudukannya secara baik, maka dia akan tetap memiliki wibawa dan pengaruh meskipun secara formal tidak menduduki  jabatan (struktural) lagi.Sebaliknya betapa banyak orang yang  hancur namanya begitu turun dari kedudukan dan jabatannya. Bahkan keluar rumah saja tidak berani.Ini semua sebagai akibat menyalahgunakan kedudukan dan jabatannya untuk kepentingan prbadi, partai, maupun kroni-kroninya.

  
Lasa Hs







0 komentar:

Posting Komentar