Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 04 Maret 2018

KIAT LOLOS CALL FOR PAPER


Pengantar
Untuk memberikan motivasi, dorongan berprestasi (pemiliahn pustakawan berprerstasi dan call for paper) dan bimbingan pada   pustakawan PTMA, bersama ini kami sajikan uraian singkat cara penulisan paper ilmiah. Semoga manfaat
                                            
                        PENULISAN PAPER ILMIAH
                                      Tulisan (1)
 Oleh : Lasa Hs.

                                          ABSTRAKS

 Kepenulisan merupakan kegiatan kemasyarakatan, keilmuan, dan profesi. Melalui tulisan dapat dilakukan transformasi ilmu pengetahuan, nilai, dan profesi dari generasi ke generasi. Kegiatan ini perlu ditumbuhkembangkan pada intelektual dan profesional.
            Pustakawan sebagai profesi memiliki kesempatan besar untuk menulis karya ilmiah maupun tulisan populer dalam berbagai bidang. Sebab mereka melakukan kegiatan kependidikan, keilmuan, dan informasi. Dalam kegiatan mereka terkait dengan sumber informasi dan fasilitas akses informasi.
            Tulisan ilmiah pada dasarnya menyajikan informasi hasil kegiatan di bidang iptek, minimal mengandung akumulasi pengetahuan baru, pengamatan empiris, dan pengembangan gagasan atau usulan. Tulisan ini menyajikan fakta, ditulis dengan kejujuran, sistematis, tak berlebihan, tidak emosional, jelas, tegas, singkat, dan teliti.
Kata kunci: Karya ilmiah. Profesi Pustakawan.Pengembangan Profesi 

Pendahuluan
           
Ilmu pengetahuan, informasi, dan profesi akan memiliki nilai keawetan dan menyebar lebih luas apabila direkam/tulis. Tulisan memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, profesi, dan kultur masyarakat meskipun memerlukan waktu lama. Rasulullah S.A.W. mampu melakukan perubahan dan pencerahan umat manusia berabad lamanya antara lain melalui ajaran Ilahiyah yang termaktub dalam Al Quran dan Sunah Rasul. Imam Ghazali mampu menggugah dan membangkitkan kesadaran umat Islam dalam beribadah melalui bukunya Ihya’ ’Ulumuddin. Umat Islam kini dan mendatang mampu memelajari pikiran-pikrian para ulama dan intelektual muslim terdahulu melalui karya tulis mereka. Muhammad Rasyid Ridha menulis Al Manar, Ibnu Khaldun menulis Mukaddimah, Hamka menulis Tafsir
 Al Azhar, Hasbi Ashshidiqi menulis Al Islam dan buku-buku tafsir, hadist, maupun fiqh.
            Penulisan ilmiah pada hakekatnya  memberikan informasi berdasarkan keadaan, fakta, data, dan peristiwa yang sebenarnya. Bahan-bahan faktawi ini diolah dan ditulis dengan sistem penulisan ilmiah maka menjadi tulisan ilmiah. Yakni tulisan yang menyajikan pengetahuan ilmiah yang ditujukan kepada ahli atau masyarakat tertentu dengan metode penyajian ilmiah dan mengikuti teknik penulisan ilmiah yang berlaku.
Latar Belakang
            Penulisan ilmiah perlu dilakukan oleh para intelektual dan profesional berdasarkan pemikiran bahwa:
1. Kekayaan intelektual dan artistik manusia perlu diawetkan dan dikembangkan
            Ide, pemikiran, dan penemuan manusia itu akan hilang apabila tidak direkam/tulis. Rekaman intelektual itu hanya akan berfungsi sebagai dokumen apabila tidak disosialisasikan dan dikembangkan. Maka benar kata Khalifah ’Ali ibn Abi Thalib yang menyatakan bahwa untuk mengikat ilmu itu dengan tulisan.
2. Menulis dianggap beban.
            Tugas-tugas penulisan masih dianggap sebagai beban bagi peserta didik, pendidik, dan profesional. Mereka merasa terbebani bahkan takut menulis terutama menulis buku. Ketakutan menulis buku ini dibuktikan pada kalangan guru sebagai tenaga pendidik yang bagi guru negeri cukup pasrah pada golongan IV/a. Sebab untuk menduduki golongan IV/b harus menulis karya tulis ilmiah.Sebagian besar guru kita tidak mau atau tidak mampu menulis tulisan ilmiah ini. Data guru se Kabupaten Bantul menyebutkan bahwa hanya 0,88 % yang menduduki golongan IV/b dari seluruh guru (Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2004).
            Kondisi inipun menimpa dosen perguruan tinggi ternama di negeri ini. Sedikitnya naskah yang diterima, maka Gadjah Mada University Press dapat dikatakan mati suri dan berubah menjadi printing house. ITB Press juga mengalami yang hampir sama. Dari 1.650 dosen ITB ternyata hanya 4 – 5 % yang menulis diktat kuliah (Lasa Hs., 2006). Demikian pula hasil penelitian Hermanto (2004) pada pustakawan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor menunjukkan bahwa rendahnya penulisan ilmiah para pustakawan itu karena rendahnya kemampuan dan minat menulis.
3. Rendah kesadaran trasfer ilmu pengetahuan, nilai, atau ajaran melalui tulisan (artikel & buku).
            Pola pikir ilmuwan dan profesional kita cenderung pragmatis dan berskala jangka pendek. Seorang intelektual dan profesional seharusnya mampu berpikir panjang dan menyadari bahwa menulis itu merupakan tanggung jawab moral. Mereka kurang memiliki daya kritis sebagai salah satu syarat untuk melahirkan tulisan yang berbobot. Dunia pendidikan kita terlanjur kurang demokratis. Para tenaga pendidik itu merasa seolah-olah merupakan satu-satunya sumber kepintaran dan kebenaran.
 4. Profesi pustakawan dimaknai dengan kegiatan ketrampilan dan bukan kegiatan intelektual.
            Sebagian besar pustakawan kita masih berasumsi bahwa kinerja profesional selama memenuhi jam/hari hadir, meskipun tidak berbuat apa-apa. Pemikiran ini kurang memberikan dampak positif terhadap pengembangan profesi pustakawan. Kinerja profesional semestinya ditunjukkan oleh produk intelektual antara lain melalui penulisan karya tulis ilmiah.
5. Rendah karya tulis ilmiah bagi pustakawan.
            Indikator rendahnya kemampuan dan kemauan menulis ilmiah oleh pustakawan antara lain sedikitnya buku, minimnya penelitian, dan tersendat-sendatnya penerbitan majalah/jurnal bidang perpustakaan lantaran sedikitnya naskah yang diterima. Rendahnya penulisan ini mungkin kurangnya penguasaan teknik menulis ilmiah,  kurang mampu berpikir ilmiah, kurang memahami tatabahasa, lingkungan kurang mendukung, dan sarana yang tidak mendukung (Suminta, 2004).
                        TUJUAN PENULISAN PAPER
                               TULISAN (2)
To Be continued.....

0 komentar:

Posting Komentar