Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Rabu, 07 Maret 2018

MEMAAFKAN ORANG LAIN Oleh Lasa Hs.


Kata maaf memang mudah diucapkan dan perlu penghayatan. Namun bagi orang tertentu kadang berat untuk minta maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat. Tetapi ada juga orang yang hatinya keras dan tidak mau memaafkan orang lain.
 Orang yang memaafkan orang lain termasuk perbuatan mulia. Perilaku ini termasuk menabung energi positif.  Tabungan kebaikan itu sebenarnya menyimpan energi positif  dan suatu ketika akan kembali pada pelakunya. Orang seperti ini mendapat kedudukan tinggi menurut pandangan Allah,  dihormati masyarakat, dan disegani musuhnya.
          Suatu ketika Zainab binti Al Harits pernah melakukan percobaan  pembunuhan  kepada Baginda Nabi Muhammad Saw dengan racun. Zainab adalah isteri Salam bin Masykam (salah seorang tokoh Yahudi) . Zainab berhasil membubuhkan racun pada sate kambing yang disajikan kepada Rasulullah Saw yang saat itu dimakan bersama Bisyr bin Bara’ bin Ma’rur. Saat itu Bisyr sempat menelan daging beracun itu lalu beberapa saat meninggal dunia. Sedangkan Rasulullah Saw baru tahap mengunyah lalu memuntahkannya kembali lalu mengatakan bahwa :” Daging itu memberitahukan padaku bahwa ia beracun”. Setelah kejadian yang kejam itu, Zainab dipanggil oleh Rasulullah Saw dan ditanya:” Mengapa engkau sampai hati melakukan peracunan ini?. Kemudian wanita jahat ini menjawab :” Kiranya bukan rahasia lagi bahwa kaumku ingin membunuh tuan. Apabila tuan adalah seorang raja pasti sudah mati kena racun tadi. Akan tetapi apabila tuan itu seorang Nabi, maka tuan pasti diberitahu oleh Allah bahwa daging itu beracun. Nyatanya demikian, karena tuan sebagai Nabi, maka tuan selamat”. Kemudian Rasulullah Saw memaafkan dan melepaskan wanita kejam tadi. Begitu mulianya contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, maka wanita itu masuk Islam.
          Pada suatu saat, ada seseorang menghadap Rasulullah Saw dan bertanya:”Apakah agama itu?” Beliau menjawab :”Budi pekerti yang baik”. Kemudian orang itu datang lagi dari sebelah kanan Nabi dan bertanya lagi:” Apakah agama itu ?”. Beliaupun menjawab :”Budi pekerti yang baik”. Kemudian orang itu datang lagi dari sebelah kiri Nabi Saw dan bertanya lagi :”Apakah agama itu ?” Beliaupun menjawab lagi :”Budi pekerti yang luhur”. Orang itu pun datang lagi dari belakang Nabi Saw dan bertanya lagi :”Apakah agama itu ?”. Beliau menjawab :”Agama itu ialah “Jangan marah”. (HR Muhammad bin Nashr dari Abu Al A”la bin Sjuhair – mursal).
Menciptakan kerukunan dapat dimulai dengan meniadakan dengki, menjauhkan sikap saling mencurigai, dan hindari saling menghujat. Rasulullah Saw bersabda :”Jangan ada diantara kalian saling mendengki, saling intip, maupun saling marah dan jangan saling bertolak belakang, dan jangan pula sebagian kamu itu membeli sesuatu di atas (harga) pembelian yang lain, jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara “. (HR Muslim)
          Dengan adanya kedengkian, dendam di antara kita berakibat kerusuhan yang menimbulkan kesengsaraan masyarakat. Tidak sedikit gedung terbakar, mobil rusak, bahkan jiwa melayang sia-sia. Hal ini lantaran adanya dendam antarkelompok.Tentunya hal ini tidak kita inginkan.
Kita ini bangsa yang besar dan memang ditakdirkan berbeda. Perbedaan tidak harus dipertajam, tetapi bunga itu indah di taman karena warna-warni yang berbeda.


0 komentar:

Posting Komentar