Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 01 Maret 2018

MENULIS BAGI PEMULA Oleh: Lasa Hs


Tidak sedikit orang kepingin menulis apalagi menjadi penulis terkenal. Mereka senang bila bukunya dipajang di etalasi toko buku bergengsi. Mereka bangga bila namanya muncul di koran ternama. Apalagi bila bukunya menjadi buku best seller
Menulis memang perlu teori, namun kadang justru terjebak oleh teori. Terlalu banyak teori yang dibaca dan akhirnya tak menulis sampai mati. Menulis butuh keberanian, ketekunan, dan kenekadan. Tanpa berani mencoba dan mencoba, menulis hanya mimpi belaka.
Untuk bisa menulis perlu membaca (melek informasi, mengamati, meneliti). Kegiatan ini merupakan proses akses informasi. Membaca perlu diikuti penulisan sebagai kegiatan penuangan ide dan gagasan yang disampaikan kepada orang lain. Maka membaca dan menulis merupakan kegiatan yang tak terpisahkan.
Membaca tanpa menulis ibarat orang pincang berjalan. Menulis tanpa membaca ibarat orang buta berjalan. Apalagi tidak membaca dan tidak menulis , maka dapat diibaratkan seperti  orang  pincang dan buta yang berjalan.
Kegiatan membaca dan menulis  masih rendah di negeri ini. Hal ini tidak saja terjadi pada masyarakat, bahkan di kalangan akademisi juga terjadi kondisi yang sama. Penulisan di kalangan akademisi baru sebatas keterpaksaan dan adanya aturan.  Menulis belum menjadi kesadaran bagi sebagian besar para  intelektual
Menulis merupakan dunia terbuka yang boleh dimasuki siapapun. Menulis bukan monopoli para intelektual. Profesi dan pekerja bidang apapun tidak ada larangan untuk menulis. Mereka yang kepingin menulis  tidak harus mendaftarkan diri sebagai anggota penulis.
            Kegiatan membaca (akses informasi) dan menulis (proses merekam informasi & pengetahuan) merupakan dua kegiatan keilmuan. Disamping itu, dua kegiatan itu memiliki makna yang luas dalam rangka membentuk manusia berkualitas.

Pendahuluan
            Membaca dalam pembahasan ini diartikan sebagai akses informasi. Menulis dalam hal ini diartikan sebagai proses merekam informasi dan pengetahuan untuk dikembangkan dan disosialisasikan.  Membaca pada hakekatnya adalah proses mengakses informasi dan pengetahuan melalui berbagai media. Menulis adalah proses merekam, mengembangkan, dan memasyarakatkan informasi dan pengetahuan. Maka membaca dan menulis merupakan kegiatan literasi informasi dalam arti luas. Sebab literasi informasi pada hakekatnya adalah penanaman kesadaran dan kebutuhan informasi, mengidentifikasi, mengakses informasi secara efektif efisien, mengevaluasi , menggabungkan informasi, dan mengkomuniasikan informasi/pengetahuan (Lasa Hs., 2017).
            Dorongan mengakses informasi  kiranya dapat dipahami dalam Q.S. Al ‘Alaq : 1- 5 yang artinya:  Bacalah dengan (menyebut) Asma Tuhanmu Yang  menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan TuhanmuYang Maha Pemurah.  Yang mengajar ( manusia)  dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada  manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dorongan merekam informasi dapat  dipahami dari ayat Al Quran S.Al Qalam : 1  yang artiya:Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”.

Latar belakang
Perlunya motivasi dan kesadaran membaca (akses informasi)  dan menulis
(merekam informasi)   pada masyarakat terutama pada kalangan intelektual dengan pemikiran dan latar belakang  sebagai berikut:
1.Rendah produksi buku dan penerbitan.
         Produksi buku kita tergolong rendah bila dibanding dengan  produksi buku di negara-negara lain. Sekedar ilustrasi,  UNESCO pernah mencatat pada tahun 1993 bahwa jumlah judul buku yang terbit di Indonesia hanya 0,0009 % dari jumlah penduduk. Hal ini berarti bahwa pada tahun itu saja setiap satu juta orang Indonesia hanya tersedia  9 (sembilan) judul buku.
            Keadaan  ini menguatkan fakta betapa rendahnya penulisan buku di negeri ini. Kondisi ini semakin kelihatan apabila dunia perbukuan ini dibandingkan dengan perbukuan negara-negara berkembang yang rata-rata 55 (lima puluh lima) judul buku untuk setiap satu juta penduduk. Sedangkan dunia perbukuan di negara-negara maju, produksi buku telah mencapai 513 (lima ratus tiga belas) judul untuk setiap satu juta orang.
            Kemudian apabila dibandingkan dengan produksi buku di beberapa negara Asia, maka Indonesia hanya mampu menerbitkan sekitar 10.000 judul/tahun. Pada hal Korea telah mampu menerbitkan 26.000 judul/tahun, dan Jepang mampu menerbitkan 100.000 judul/tahun (Nur Zakiyah, 2002: 2).
            Perkembangan perbukuan di Indonesia dari tahun ke tahun ternyata belum menunjukkan kenaikan yang signifikan. Gibbs dalam Hernandono, (2008) mendaftar negara-negara penghasil tulisan ilmiah, maka Indonesia termasuk satu negara yang dikategorikan sebagai negara yang “kehilangan ilmu pengetahuan”. Sebab secara keseluruhan, Indonesia hanya mampu menghasilkan tulisan/ilmu pengetahuan 0,012 % diantara negara-negara lain. Kondisi inipun ternyata paling rendah di tingkat ASEAN. Sebab Singapura mampu menerbitkan 0,179 %, Thailand menerbitkan 0,084 %, Malaysia menerbitkan 0,064 % dan Filipina menghasilkan 0,035 %
2. Tulisan/rekaman sebagai media efektif dalam pengembangan diri dan potensi masyarakat
 Konon publish or perish (muncul atau musnah) menjadi icon bagi kehidupan ilmuwan mancanegara. Menulis bagi mereka merupakan ekspresi diri dan pengakuan atas reputasi keilmuan seseorang. Mereka puas dan senang bercerita tentang buku baru mereka bila bertemu dengan teman sejawat. Kondisi ini baru sebatas cerita materi, jabatan, dan proyek, bahkan cerita anak cucu  yang mereka hadapi di negeri tercinta ini. Mereka belum bergerak signifikan dan menyadari pentingnya menulis buku meskipun anggaran melimpah.
Tulisan mampu menggerakkan potensi masyarakat. Rasulullah Saw mampu merubah dunia yang penuh kegelapan (dhulumat) ke dunia terng benderang (nur) antara lain melalui ajaran-ajaran Ilahiyah yang termaktub dalam Al Quran dan Al Hadits. Bung Karno mampu menggerakkan revolusi Indonesia sampai dipenjara antara lain melalui rekaman tulisan yang tertulis dalam buku-buku Sarinah, Di Bawah Bendera Revolusi, Indonesia Menggugat dan lainnya.  
3.Menulis dianggap beban atau keterpaksaan.
Penulisan karya akademik bahkan buku nampaknya masih merupakan keterpaksaan dan belum menjadi kesadaran menulis. Rendahnya kesadaran penulisan diakui banyak pihak. Di kalangan akademisi saja, mereka menulis karena tuntutan angka kredit, terindeks Scopus, kenaikan jabatan/pangkat, dan rangsangan materi. Data ini antara lain dikemukakan oleh Ahmad Fauzi (2017: 1) selaku anggota Evaluasi Guru Besar menyatakan bahwa pada tahun 2015 jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia yang mempunyai dampak dari Scimago Journal Rank/SJR hanya 6.280. Semenatara itu, Malaysia sudah 23.414, Singapura 17.976, dan Thailand 11.632. Padahal pada tahun 2016 tercatat 5.273 orang bergelar profesor. Andaikata saja setiap tahun para profesor itu sadar untuk menulis buku  1 (satu) judul per tahun, maka setiap tahun di Indonesia akan mampu menghasilkan buku sebanyak 5.273 judul. Namun sesuatu yang seharusnya belum tentu yang senyatanya.
            Data lain menyebutkan bahwa rendahnya kesadaran menulis juga menimpa para guru yang notabene sebagai pendidik yang “digugu” dan “ditiru”. Sekedar contoh bahwa di Indonesia terdat 1,4 juta guru yang berstatus PNS pada tahun  2009. Umumna guru-guru tersebut menduduki gologan pangkat III/a – III/d yang jumlahnya 99.189 orang, golongan IV/a  sebanyak  334.189 orang, gologan IV/b  sebanyak       2.314 guru, dan  golongan IV/c  hanya 84 orang guru, dan hanya 15 orang  guru menduduki golongan pangkat IV/d (Kedaulatan Rakyat 27 Maret 2009).
Menumpuknya guru di golongan  III dan IV/a  ini kemungkinan besar ketidak mampuan mereka untuk menulis karya tulis ilmiah. Sebab  untuk naik ke golongan IV/b harus menulis karya ilmiah. Mereka bisa pensiun pada golongan IV/b karena menggelundung.             
Keterpaksaan menulis memang menimpa pada sebagaian besar sarjana kita. Mereka terpaksa menulis skripsi, tesis, dan disertasi karena adanya peraturan. Kenyataannya, sebagian besar mereka setelah lulus tidak menulis lagi. Bahkan mereka yang dianggap intelektual saja, menulis itu masih berorientasi pada angka kredit, royalti, dan popularitas yang bersifat materialis dan bukan idealis. Dalam hal ini Sudarsono (2010:138) melakukan penelitian produktivitas dosen perguruan tinggi negeri terkenal di Yogyakarta dengan 208 responden. Hasilnya adalah sebanyak 69 orang dosen (33,17 %) menulis untuk mencari angka kredit, 28 orang (13,46 %) menulis buku untuk mendapatkan royalti. Kemudian 22 orang (10.58 %) untuk mencari popularitas. Sedangkan 89 orang (43,84 %) manyatakan lainnya.  
            BERSAMBUNG

0 komentar:

Posting Komentar