Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 02 Maret 2018

TAWAKAL


           Sabar itu tidak bisa dipisahkan dengan tawakal. Tanpa tawakal bukanlah sabar yang sesungguhnya. Sabar merupakan benteng kuat untuk membanguan kekuatan dalam  meraih apa yang tertunda. Tanpa kesabaran hari ini, berarti kita tidak bisa membangun masa depan.
          Tawakal merupakan penyerahan diri kepada Allah Swt dengan tetap melaksanakan perintahNya atas segala usaha yang telah dilakukannya. Hasil akhir yang diharapkan tergantung atau pasrah pada ketentuan Allah Swt.
          Atas ketentuan ini, seseorang menerima dengan ridha dan yakin bahwa di balik itu semua harus didahului dengan usaha atau ikhtiar secara optimal. Bukan pasrah tanpa usaha. Ini bukan tawakal. Dalam hal ini Rasulullah Saw. menyatakan :”Tidak dinamakan tawakal bagi orang yang mengobatkan dirinya dengan besi panas atau dengan rajahan”. (H.R. Ahmad)
          Orang-orang yang hidupnya susah kadang memiliki jiwa tawakal tinggi. Mereka telah dididik oleh keadaan untuk memiliki jiwa yang kuat dalam menerima penderitaan dan kepapaan. Masalah penderitaan dan kesusahan kiranya telah menjadi bagian kehidupan mereka. Lain halnya dengan orang yang serba kecukupan. Mereka sering mengeluh bahkan cengeng bila mendapatkan musibah sedikit saja. Jiwa tawakal mereka sangat rapuh.
          Apabila orang betul-betul tawakal kepada Allah Swt setelah berusaha optimal, maka Allah akan memberikan perlindungan dan pertolongan. Pertolongan ini sering tak terbayangkan oleh manusia.
          Suatu ketika Rasulullah Saw. pergi ke rumah Ka’ab bin al Asyaraf seorang Yahudi Bani Nadhir. Kepergian ini disertai para sahabat seperti Abu Bakar as Shidiqi, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, dan Abdurrahman bin Auf untuk pinjam uang sebagai pembayar denda (diyat).
          Ketika Rasulullah Saw dan para sahabat itu sampai di rumah orang Yahudi itu, maka orang-orang Yahudi itu mengambil makanan untuk para tamu itu. Ketika Rasulullah Saw dan para sahabat sedang duduk-duduk, Haj bin Akhtan berkata kepada kawannya tanpa sepengetahuan Nabi Saw. Katanya:”Kalian tidak dapat melihatnya lebih dekat daripada sekarang ini. Maka cobalah timpakan batu di kepalanya agar mereka mati. Kalian sangat mudah untuk melakukannya”.
          Orang-orang Yahudi itu kemudian mengangkat batu besar penggiling gandum untuk ditimpakan kepada Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Namun Allah Swt menahan batu itu, dan menyelamatkan Rasulullah dan para sahabat.
          Orang-orang yang mampu bertawakkal dalam arti sesungguhnya, maka mereka itu memiliki iman yang kokoh. Mereka selalu tenang dalam menghadapi hari esok dalam setiap langkah. Mereka tidak cemas tentang apa yang dimakan besok pagi, lusa, dan seterusnya. Mereka itulah sebenarnya sebagai orang yang kuat. Rasulullah Saw bersabda :”Apabila ingin menjadi orang kuat, hendaknya bertawakal kepada Allah Swt. Apabila ingin menjadi orang paling kaya, maka mantapkanlah atas jaminan Allah melebihi (kekayaan) yang telah dipegangnya (harta yang telah ada)”. (HR Ibnu Abbas r.a.)
          Disamping itu, baik juga kita simak, renungkan, dan pahami apa yang tersirat pesan Lukman Al Hakim kepada putranya:” Wahai anakku, sampai saat ini telah banyak pesan-pesanku kepadamu. Sekarang bapak akan berpesan enam perkara sebagaimana telah dipesankan orang-orang terdahulu dan orang-oang sebagai generasi mendatang yakni:
Pertama, jangan terlalu sibuk dengan urusan duniamu, kecuali sekedar mencukupi keperluan sisa umurmu di dunia ini.
Kedua, beribadahlah kepada Allah Swt sebagai Tuhanmu
Ketiga, beramallah untuk akhiratmu sesuai keinginan hidupmu di sana nanti.
Keempat, berusahalah ntuk membebaskan diri dari siksa api neraka.
Kelima, dengan kekuatan sabarmu, maka kuatkan dirimu untuk mencegah kemunkaran.
Keenam, carilah tempat yang tidak dilihat Allah Swt dan malaikatNYa bila engkau ingin berbuat maksiat kepadaNya”.

Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar