Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 05 April 2018

PEMBERIAN YANG PANTAS

Pemberian yang pantas atau sesuatu yang masih disukai merupakan kehormatan bagi yang diberi dan menjaga martabat bagi yang memberi. Dengan cara ini akan terjadi ukhuwaah/persaudaraan yang  hakiki diantara sesama.
Suatu petang, Rasulullah Saw kedatangan seorang tamu di masjid. Tamu itu ikut shalat jama’ah Maghrib dan Insya’. Setelah selesai melaksanakan shalat jama’ah Isya’, Rasulllah Saw bertanya kepada para sahabat yang ikut berjama’ah tadi apakah diantara mereka ada yang bersedia menjamu tamu itu di rumah.Lalu ada seorang sahabat bernama AbuThalhah yang menawarkan diri untuk menerima tamu itu. Lalu tamu itu diajak ke rumah Abu Thalhah. Sesampai di rumah Abu Thalhah, beliau memberitahukan perihal tamu itu kepada isterinya. Isteri Pak Thalhah segera tanggap dan menyatakan bahwa malam itu tinggal satu porsi makanan  untuk PakThalhah.
Dengan dilandasi ukhuwah yang kuat dan penghayatan nilai-nilai Islam,suami isteri itu tetap ingin mengormati tamu itu. Kemudian disediakan makanan tadi di meja makan, dan AbuThalhah mengajak tamunya itu untuk makan malam.
Maka  mulailah tamu itu menikmati hidangan makan malam dan saat itu lampu dimatikan. Pada saat lampu mati itu,Abu Thalhah pura-pura makan dengan menggerak-gerakkan sendok di piring. Mulutnyapun seolah-olah sedang makan. Padahal beliau tidak makan apa-apa.Sebab hidangan yang satu porsi itu diberikan kepada tamunya itu. Setelah selesai makan, maka tamu itu dipersilahkan tidur. Sementara itu, suami isteri itu tidak makan sampai pagi.
            Setelah tiba waktu Shubuh, tamu itu diajak untuk melaksanakan shalat Subuh berjama’ah di masjid. Kejadian semalam yang dialami oleh Abu Thalhah itu dicertiakan kepada Rasululla Saw. Lalu Rasulullah Saw menyatakan:”Allah amat kagum melihat perbuatanmu menyelenggarakan tamu tadi malam wahai Abu Thalhah.      
            Kejadian tersebut merupakan cermin penghormatan tamu dan pemupukan persaudaraan bermasyarakaat (ukhuwah itima’iyyah) antar sesama muslim. Dengan pengamalan kebaikan (birr)  akan tercipta masyarakat yang damai, tenteram, saling menghormati dan kasih sayang. Dalam hal ini Rasulullah Saw menyatakan :” Ahli surga itu terdiri dari tiga golongan. Pertama adalah orang yang memegang kekuasaan yang berlaku adil. Kedua adalah mereka yang kasih sayang dan lembut hatinya terhadap sesama muslim, dan ketiga adalah orang mulia yang menjaga kehormatan diri sedang ia menanggung keluarga besar “. (HR. Imam Muslim dari ‘Iyadh bin ‘Imar).  

Lasa Hs



0 komentar:

Posting Komentar