Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 05 April 2018

SABAR ITU PERISAI

Sabar memang mudah diucapkan, tetapi kadang berat untuk dilaksanakan. Hakikat sabar menurut Imam Ghazali adalah tetap tegaknya dorongan agama ketika berhadapan dengan hawa nafsu. Sedangkan dorongan agama merupakan hidayah dari Allah Swt untuk manusia agar mereka mengenal Allah Swt, RasulNya, mengetahui ajaran dan mengamalkan ajaranNya untuk mencapai kemashlahatan dan juga akibat-akibatnya.
            Kadang orang lebih bisa sabar dalam menghadapi penderitaan, tetapi tidak kuat menghadapi kegembiraan. Betapa banyak orang yang tidak sabar ketika memiliki kekuasaan dan bergelimang harta. Mereka tidak tidur di rumahnya yang mewah. Justru mereka tidur di penjara dengan baju seragam narapidana. Mobil mewahnyapun ndongkrok  di garasi. Fir’aun hancur karena tidak bisa sabar dalam mengendalikan hawa nafsu kekuasaan. Hitler mati bersama gundiknya  Eva  Braun di gua lantaran menuruti nafsu kekuasaan dan nafsu biologisnya. Abu Lahab mati mengenaskan  lantaran menurutkan nafsu keningratannya dan menolak kebenaran.
Sebaliknya, betapa kuatnya Nabi Ayyub a.s. yang mendapat cobaan bertubi-tubi berupa keludesan harta benda, anak-anaknya meninggal dunia, dan dirinya sendiri menderita sakit bertahun-tahun lamanya. Demikian pula dengan Bilal si muadzin yang begitu sabar ketika disiksa oleh orang-orang kafir laknatullah. Firman Allah Swt yang artinya:” Orang yang sabar dalam menderita kemiskinan (kekurangan) dan kemelaratan, itulah orang-orang yang benar pengakuan keimanannya dan itu pula orang-orang yang taqwa (Q.S. Al Baqarah: 177).
            Hakekat sabar bukan sekedar menyerah pada nasib tanpa usaha untuk keluar dari penderitaan. Sabar berarti sementara menerima suatu kondisi yang kurang menyenangkan disertai dengan perbuatan terpuji dan menjadikan pengalaman itu sebagai pendorong untuk maju karena memiliki kemauan yang keras dan iman yang teguh.
            Beberapa ulama membagi sabar dalam 5 macam yakni:
1.      Sabar dalam ibadah (ashshobru fil ‘ibadah)
Hakekat melaksanakan perintah adalah menunjukkan ketaatan seorang hamba kepada Allah Swt. Dalam pelaksanaan perintah ini terdapat godaan, cobaan, dan kendala, kesulitan, bahkan tantangan tersendiri. Ketika Rasulullah Saw akan melaksanakan shalat, lalu dilempari kotoran oleh orang-orang Quraisy. Ketika Nabi Musa akan menyampaikan misi tauhidnya, maka terpaksa harus berhadapan dengan Fir’aun.Oleh karena itu dalam melaksanakan perintah perlu kesabaran tersendiri. Firman Allah Swt :”Tuhan yang menguasai langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya. Oleh karena itu sembahlah Allah Swt dan sabarlah untuk menyembahNya. Adakah kau kenal suatu kaum yang mampu memberi nikmat tiada terbatas yang oleh karenanya patut diibadahi sama dengan Dia ?”.  
2.      Sabar dalam musibah (ashshobru ‘indal mushibah)
Ketika orang sedang sehat, orang kadang lupa suatu ketika akan sakit. Di kala muda tak terpikirkan bagaimana nanti kalau sudah tua.Apabila hal-hal yang tidak menyenangkan itu suatu ketika menimpa seseorang, maka mereka  sering berkeluh kesah. Dalam hal ini sebenarnya diperlukan keteguhan hati dalam menerima hal-hal yang kurang menyenangkan. Lukman Hakim pernah mengingatkan bahwa emas dan perak itu diuji dengan api, maka orang mukmin diuji dengan berbagai cobaan.
3.      Sabar dari maksiat (ashshobru ‘anil mashiyat)
Sabar dari maksiat berarti upaya menjaga diri dan orang lain jangan sampai melakukan kemaksiatan. Benteng pengendalian ini kadang jebol lantaran kuatnya pengaruh lingkungan. Pergaulan dan lingkungan sangat memengaruhi seseorang dalam pengendalian diri/sabar ketika menghadapi kemaksiatan.
4.      Sabar dalam perjuangan (ashshobru fil jihad)
Perjuangan memerlukan keihklasan dan pengorbanan. Bahkan dalam keadaan tertentu justru nyawa taruhannya. Sabar dalam perjuangan berarti tabah dan tahan serta teguh dalam mewujudkan cita-cita luhur dan bukan sekedar demi kepentingan sesaat.
5.      Sabar terhadap kehidupan dunia (ashshobru ‘anid dunnya)
Sabar terhadap kehidupan dunia adalah sikap hati-hati dan tabah dalam menghadapi kehidupan dunia. Perlu disadari bahwa kehidupan dunia bukan tujuan akhir, melainkan hanya suatu terminal untuk sampai pada tahap-tahap kehidupan berikutnya yang lebih abadi. Pepatah Arab menyatakan :al’aqilu ya’kulu liya’isya, wal jahilu ya’isyu liyakkula”. Artinya , orang pintar itu makan untuk sekedar hidup, sedangkan orang bodoh itu hidup untuk makan.  
Sikap sabar selalu diperlukan ketika menerima hal-hal yang menyedihkan maupun hal-hal yang menggembirakan. Sabar adalah perisai dalam kehidupan.


Lasa Hs
           

0 komentar:

Posting Komentar