Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 08 Juni 2018

BERHASIL KARENA TEKUN BEKERJA


Artinya “dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Allah pasti memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjdi puas”. (Q.S. Adh Dhuha: 4 – 5)
Setiap orang ingin mencapai kemajuan dan keberhasilan. Mereka berkeinginan agar hari esok lebih baik daripada hari ini. Hari ini diushaakan lebih baik daripada hari kemarin.
Perubahan ini akan terjadi apabila orang memahami apa makna hidup.Hidup adalah anugerah Allah yang sangat berharga. Anugerah itu harus disyukuri antara lain dengan melakukan dan menghasilkan sesuatu yang positif  atau manfaat untuk diri dan orang lain. Salah satu pilihan untuk menghasilkan yang positif itu adalah bekerja.
Bekerja memiliki banyak maknadan bukan sekedar mendapatkan uang. Bekerja dapat dinilai sebagai bentuk syukur dan ibadah kepada Allah. Sebab dengan melakukan suatu pekerjaan berarti kita memanfaatkan potensi yang ada untuk diri dan orang lain. Putaran otak, gerakan tangan, dan langkah kaki untuk menggapai kemanfaatan diri atau orang lain sebenarnya merupakan langkah positif meskipun belum menghasilkan.
Agama apapun tidak mengajarkan pengikutnya untuk bermalas-malasan. Pada umumnya agama-agama di dunia ini menganjurkan umatnya untuk berusaha dan bekerja. Sebab dengan bekerja akan menaikkan status seseorang dan tidak menjadi beban orang lain.
Suatu ketika Rasulullah SAW kedatangan seorang laki-laki yang mengadukan kefakirannya. Mendengar keluhan itu, lalu Rasulullah SAW memberikan dua dirham dan bersabda :”Apakah kamu memiliki sesuatu ?. “Tidak, wahai Rasulullah”. Jawab orang itu. Lalu orang itu diberi lagi uang sebanyak 2 dirham dan Rasulullah SAW bersabda lagi “Terimalah uang ini. Belilah makanan sekedarnya untuk kamu dan keluargamu. Sisanya coba belikan kampak. Dengan kampak itu engkau mencari kayu di hutan lalu juallah kayu itu. Hal ini akan lebih baik dan bermakna daripada engkau menjadi pengemis (minta-minta pada orang lain) “. Setelah 15 hari dari pertemuan itu, lelaki itu sowan pada Rasulullah SAW dan matur “Wahai Rasulullah, Allah sungguh telah memberkahi apa yang telah Rasul perintahkan kepadaku. Alhamdulillah,kini kami telah berhasil mengumpulkan uang sebanyak 10 dirham. Uang yang 5 dirham saya gunakan untuk beli makanan anak isteri dan yang 5 dirham saya gunakan  membeli pakaian untuk mereka”. Mendengar cerita keberhasilan itu, Rasululah nampak berkenan, lalu bersabda “Hal itu lebih baik dari pada engkau meminta-minta kepada orang lain”.
Dengan bekerja, seseorang akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi bila dibandingkan dengan orang yang menganggur. Sebab orang yang bekerja tidak menjadi beban orang lain. Orang yang bekerja tidaklah dipandang sebelah mata oleh orang lain. Bahkan predikat orang bekerja menjadi “penghasil sesuatu” dan bukan lagi sebagai peminta. Dengan kata lain, orang yang bekerja ibarat baju yang bermerek. Tentunya baju yang bermerek harganya lebih mahal daripada baju yang tidak punya merek.
Bekerja dapat menaikkan status dan gengsi seseorang dan keluarga.Maka tak heran apabila sebagian besar orang cenderung mencari pekerjaan yang bergengsi dan prospektif. Sebab dengan prestise tinggi diharapkan akan mendatangkan banyak fasilitas. Namun demikian ada pula orang yang mementingkan pada pekerjaan/bidang yang ditekuninya  itu. Dia tidak mementingkan prestise. Baginya memaknai pekerjaan itu lebih penting daripada mengejar prestise. Sebab prestise hanya bersifat sementara dan kadang orang terjebak oleh pengejaran prestise. Betapa banyak orang yang sekedar mengejar gengsi lalu kehilangan makna hidup. Maka dalam hal pekerjaan ini yang penting adalah fungsinya dan bukan statusnya. Apalah artinya status kalau toh nyatanya tidak mampu berfungsi pada bidang tertentu.
Orang-orang yang bekerja dengan baik dalam bidangnya akan memberikan makna dalam kehidupan dan namanya akan dikenang sepanjang masa. Sekedar contoh adalah karyawan sekolah tertentu, ketika masih hidup menyaksikan para siswa praktek biologi dengan tengkorak buatan. Dia berpikir alangkah bagusnya apabila anak-anak itu bisa praktek dengan tengkorak sungguhan. Dia menyadari bahwa praktek dengan tengkorak asli jauh berbeda dengan praktek dengan tengkorak buatan. Tak lama, lalu  dia berwasiat kepada keluarga dan sekolah apabila sewaktu-waktu meninggal dunia, maka tengkoraknya supaya diambil dan digunakan sebagai media praktek para siswa sekolah tersebut. Wasiat inipun dilaksanakan dan tengkorak itupun digunakan sebagai media paktek dan sekarang tersimpan di ruang leboratorium sekolah tersebut.
Meskipun karyawan tersebut termasuk pegawai rendah, namun ternyata ia mampu memberikan makna dalam kehidupan keilmuan. Sekecil apapun pekerjaan seseorang asal dilakukan dengan baik, maka  akan memberikan makna tersendiri. Dalam hal ini Martin Luther King Jr. mengatakan “Kalau anda terpanggil menjadi tukang sapu jalan, maka sapulah jalan itu seperti Michelangelo melukis,  atau Bethoven mengubah musik, atau seperti Shakespeare menulis sajak. Sapulah jalan itu sedemikian baik, sehingga semua penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak untuk mengatakan “Di sini pernah hidup seorang tukang sapu jalan yang hebat yang sangat baik kerjanya”.
Keberhasilan tidak begitu saja datang dari langit. Orang yang sukses adalah orang yang berusaha, mampu mengatasi kendala, dan memperoleh sesuatu yang diinginkan. Pemalas adalah orang yang enggan bekerja, takut gagal, dan maunya dapat enaknya. Kemudian orang yang berusaha adalah orang yang mampu memaknai hidup. Mereka yang malas berarti tidak tau tentang makna hidup. Bekerja merupakan salah satu upaya memberikan makna dalam kehidupan.
Apabila orang memahami bahwa bekerja merupakan makna hidup, maka dia akan merasa bahagia dalam melaksanakan pekerjaan. Sebab sesepele apapun pekerjaan asal dilaksanakan dengan baik dan senang, maka akan mendatangkan keberhasilan dan kebahagiaan. Dengan bekerja membuat seseorang tidak menganggur, dapat menghasilkan sesuatu, dan dapat memenuhi kebutuhan hidup. Kiranya tidak perlu dipusingkan dengan adanya kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan. Tak perlu takut dengan kelelahan. Sebab di balik kelelahan itu akan tumbuh kebahagiaan lantaran memperoleh sesuatu sebagai hasil jerih payahnya.
Untuk memperoleh hasil yang diharapkan orang harus berani kompetisi dalam berebut kesempatan. Maka bangun pagi lalu melakukan aktivitas merupakan salah satu sikap siap untuk berkompetisi. Sebab bangun siang itu rizkinya sudah dipatuk ayam.
Berkatian dengan itulah, maka Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk bangun pagi hari dengan sabdanya bahwa shalat fajar itu lebih baik daripada dunia dan isinya. Artinya dengan shalat fajar tersebut orang akan bangun pagi lalu melakukan serangkaian kegiatan yang produktif. Pengertian ini bukan berarti setelah shalat fajar dan shubuh lalu tidur-tiduran atau malas-malasan. Berkaitan dengan malas-malasan ini, suatu ketika Rasulullah SAW menghampiri tempat tidur putri tercinta yakni Fatimah Az-Zahra. Saat itu Fatimah sedang tiduran seusai melaksanakan shalat subuh. Melihat putrinya yang sedang malas-malasan itu, beliau menggoyang tubuh putrinya itu dan bersabda :”Wahai putriku, bangunlah dan sambutlah rizki Allah dan jangan lalai. Sebab Allah itu membagi-bagi rizki kepada manusia antara terbit fajar sampai menjelang matahari terbit” (H.R. Baihaqi).
Pada pagi hari pikiran masih fresh yang dapat digunakan untuk kegiatan yang memerlukan konsentrasi dan perencanaan. Bagi seorang ilmuwan waktu itu dapat digunakan untuk kegiatan baca dan tulis.Bagi penjual makanan, maka pagi itu dapat digunakan untuk masak . Demikian pula bagi rumah tangga, sepagi itu banyak hal-hal yang dapat dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bahkan jalan atau lari pun merupakan olah raga murah meriah dan menyehatkan.
Kemalasan akan melahirkan penyesalan. Kemalasan membuat orang enggan beranjak, tangan malas bergerak, kaki berat melangkah, pikiran terbelenggu, dan  kemauan beku. Kemalasan membuat hidup menjadi redup, langkah mundur, mata tertidur, dan maunya yang enak-enak tidur di atas kasur. Sikap inilah yang membuat  orang, masyarakat, bahkan bangsa ketinggalan dari yang lain. Untuk itu Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan akan bahaya kemalasan dalam sabdanya :”Beberapa hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa umatku yakni besar perut (doyan makan) terus menerus tidur, lemah, dan lemah keyakinan “ (H.R. Daruqutni).   


Lasa Hs                                       


0 komentar:

Posting Komentar