Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 08 Juni 2018

HAMKA – di “penjara” pun Menulis Buku


Kata orang, bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang bisa membaca peluang, mampu memanfaatkan peluang, mau menciptakan peluang, dan berhasil mengembangkan peluang. Buya Hamka adalah salah satu orang yang memenuhi kriteria ini. Beliau doktor, setelah banyak menulis buku. Bukannnya doktor yang tak punya buku.
            Ulama kharismatik, ketua MUI pertama kali itu juga seorang pujangga, penulis buku produktif, dan da’i yang disegani di kawasan Asia Tenggara bahkan Jepang. Buku-bukunya masih bisa ditemukan di toko buku dan perpustakaan antara lain; Negara Islam, Islam dan Demokrasi, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau, Menghadapi Revolusi, Dari Lembah Cita-Cita. Novel-novelnya antara lain; Di Bawah Lindungan Ka’bah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.Buku-buku ini ditulis sejak bertemu dengan Thaha Husein (tunanetra penulis buku Al Ayyam, dan pernah menjadi Menteri Pendidikan Mesir)  dan Fikri Abadah.
            Menurut penuturan drh.H.Taufik Ismail seorang budayawan dan sastrawan bahwa ketika PKI (Partai Komunis Indonesia) berjaya dan Masyumi mengalami penurunan, Buya Hamka dijelek-jelekkan oleh orang-orang PKI melalui rubrik Lentera d Harian Bintang Timur. Suatu ketika Buya Hamka menghadiri walimatul ‘ursy anak seorang sejawatnya. Di situ, beliau terlibat pembicaraan dengan kawan-kawan lama. Entah bagaimana lalu muncul fitnah bahwa Buya Hamka dan teman-temannya bermaksud membunuh Bung Karno dan Menteri Agama saat itu (Syaifuddin Zuhri). Dari fitnah keji itu, Buya Hamka ditangkap dan dipenjarakan selama 2 tahun 4 bulan. Namun hikmah dari penjara tanpa proses hukum ini adalah beliau berhasil menyelesaikan Tafsir Al Azhar yang 30 juz itu. Di penjara ini, beliau memanfaatkan peluang untuk menulis. Tetapi yang bebas, tidak dipenjara tak menulis buku.
            Hamka bukanlah tipe pendendam dan sakit hati yang dibawa mati. Beliau menunjukkan jiwa besar dan sikap bijaknya. Ketika Bung Karo wafat, Buya Hamka memaafkannya. Bahkan beliau mengimami shalat jenazah untuk Sang Proklamator itu. Ketika ditanya mengapa Buya mau menshalatkan Bung Karno yang pernah mendhaliminya. Beliau dengan singkat menjawab “Beliau adalah sahabat saya”. Beliau tetap menjalin silaturrahmi dengan keluarga Bung Karno. Sehingga tidak ada dusta diantara kita.
            Pahlawan Nasional ini, dipanggil pulang ke Rahmatullah tanggal 24 Juli 1981 dengan meninggalkan ilmu pengetahuan kepada kita dalam berbagai bidang sepeti politik, agama, kebudayaan, filsafat, tasauf, sastra, dan lainnya. Beliau masih hidup (ilmu, pikiran,) meskipun mati (jasadnya).
            Buya Syafi’I Ma’arif dalam Suara Muhammadiyah 3 Syawal 1435 H menyatakan : Benarlah penglihatan Sutan Mansur, bahwa Hamka adalah orang besar yang bertahun-tahun ditempa penderitaan, dan membuatnya menjadi manusia tahan banting dan halus perasaaannya. Penderitaan yang dialaminya justru menjadi tangga emas baginya yang terus berkarya dan beramal :mencari jalan pulang”. Maka tak heran berjibun rakyat dari segala lapisan masyarakat menangisi kepergiannya. Sebab yang pergi itu mewakili hati nurani mereka.
            Prof. Dr. Shawki Futaki, Presiden Japan Islamic Congress menyampaikan pesan dukanya dengan kalimat :” Atas nama 50.000 umat Islam Jepang, kami sampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulang ke rahmataullah Prof.Dr.Hamka, tokoh Islam Indonesia yang bagi kami adalah seorag pemimpin yang telah memberi bimbingan selama 4 tahun terakhir. Banyak bimbingan Buya Hamka bagi kemajuan umat Islam Jepang. Umat Islam Jepang benar-benar merasa kehilangan seorag tokoh yang selama ini dirasakan sangat dekat.
(sumber : 100 Tokoh Muhammadiyah, yang Menginspirasi, 2014)


Lasa Hs.

0 komentar:

Posting Komentar