Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 24 Juni 2018

KYAI KHALIL ; Guru Para Kyai dan Penyusn Kaidah Arab Pegon


KH Muhammad Khalil atau sering dipanggil mBah Khalil, lahir 27 Januari 1820.Beliau adalah putra Kyai Abdul Latif yang menurut beberapa penuturan masih ada hubungan darah dari Sunan Gunung Jati .mBah Khalil merupakan guru beberapai kyai P. Jawa dan Madura. Para kyai yang pernah berguru kepadanya antara lain KH Hasyim ‘Asy’ari (Pendiri NU), KH Wahab Hasbullan (Jombang), KH  Munawir  (Krapyak Yogyakarta), KH Bisri Mustofa (Rembang), bahkan konon Bung Karno pernah beruguru kepadanya.
Sejak kecil sudah kelihatan sangat mencintai ilmu pengetahuan terutama pengetahuan agama Islam. Pada tahun 1850 an beliau nyantri di ponpes Langitan Tuban, lalu ke pesantren Cangaan Bangil, lalu ke pesantren Keboncandi. Di Ponpes Keboncandi ini beliau berguru kepada Kyai Nur Hasan yang  kebetulan masih ada hubungan famili. Ketika nyantri di pesanten ini, beliau menjadi buruh batik untuk mengidupi dirinya agar tidak menggantungkan diri pada orang tua. Beliau sebenarnya anak orang berada, namun jiwa kemadiriannya angat kuat. Baginya rizki yang diperoleh dari keringat sendiri itu lebih bernilai dan memberikan kepuasan dari pada pemberian pihak lain.
Kehausan akan ilmu pengetahuan tak terbendung. Beliau sagat ingin belajar ke Mekah Mukaramah. Untuk mewujudkan impian ini,beliau nyantri di Pesantren Banyuwangi.Beliau memilih pesantren ini dengan perikiraan bahwa pesantren ini memliki banyak pohon  kelapa . Dengan nyantri di pesantren ini, beliau bisa menjadi buruh pemtik buah kelapa . Uang dari memetik buah kelapa ini dia tabung. Sedangkan untuk makan sehari-hari, beliau bekerja mengisi bak mandi, mencuci pakaian, dan menjadi juru masak teman-temannya. Alhamdulillah, dengan kerja keras dan kerja cerdas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan tabungan dari buruh memetik buah kelapa akhirnya mimpi belajar ke Mekah terwujud. Pada ahun 1273 H/1859 M dengan uang tabungan memetik kelapa ini beliau berangkat ke Mekah untuk belajar.Selama belajar di sana, beliau menyalin kitab-kitab yang diperlukan para pelajar. Upah pekerjaan ini untuk menyambung hidup dan belajar selama disana.
Sepulang dari Mekah, beliau bersama dengan Syekh Nawawi Al Bantani dan Syekh Sholeh as Samarani (Semarang) menyusun kaidah penulisan Arab Pegon. Tuisan Arab Pegon ini digunakan untuk menulis kitab, surat menyurat  dalam bahasa Jawa, Sunda dan Madura yang pada prinsipnya sama dengan tulisan  Melayu/Jawi

Lasa Hs.      

0 komentar:

Posting Komentar