Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 30 Juli 2018

AHMAD AZHAR BASYIR (1928-1994) Ahli Fiqh Taraf Internasional


Putra Kiai Muhammad Basyir Mahfudz ini pernah ketangkap Belanda. Ketika itu sebagai pejuang, ia mendapat tugas dari Bapak Sarbini untuk mengadakan kontak dengan kota. Beliaupun masuk pasar Beringharjo Yogyakarta. Begitu masuk, nampaknya mata-mata Belanda sudah mencium adanya seorang pejuang  masuk pasar. Mata-mata Belanda itu mengintai Pak Azhar di pasar itu. Kemudian tak lama Pak Azhar digeledah dan ditangkap. Melihat kejadian itu, orang-orang pasar sama bingung dan takut,  lalu  bubar dan   tidak jadi jual beli.
Peristiwa masuk sel Belanda di Ngupasan selama 23 hari itu merupakan kenangan tersendiri bagi putra Kauman yang pernah belajar di Universitas Bagdad Irak itu.Keterlibatannya dalam perang sebenarnya suatu panggilan untuk melawan penjajah Belanda saat itu. Memang para santri saat itu menghimpunkan diri pada kesatuan lasykar Hizbullah dan Sabilillah dengan nama Angkatan Perang Sabil/APS. Di bawah kesatuan inilah, Ahmad Azhar ikut bergerilya melawan Belanda di wilayah Jawa Tengah maupun Yogyakarta.
Kondisi politik yang tidak menentu itu mengharuskan para pemuda untuk cancut taliwondo  membela tanah air. Ekonomi saat itu morat marit tidak karuan karena kekayaan negeri ini dikuras oleh  Jepang. Jepang yang mengaku saudara tua itu justru menyengsarakan bangsa kita, meskipun menjajah Indonesia dalam waktu singkat yakni 3,5 tahun. Begitu nekatnya Jepang mengeruk dan mengangkut kekayaan negeri ini karena Jepang terlibat perang dengan Sekutu. Jadi kekayaan itu untuk membeayai perang tersebut.
Kondisi politik dan ekonomi seperti itu,  juga memengaruhi proses pendidikan bangsa. Pendidikan yang kacau balau itu menimpa setiap anak-anak Indonesia termasuk pada diri Ahmad Azhar. Dulunya beliau pernah belajar di pondok pesantren Termas yang hanya berlangsung satu tahun. Sehubungan situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk belajar dengan tenang, maka para santri pulang ke kampung halaman masing-masing.
Sepulang dari Termas, Ahmad Azhar masuk sekolah di Madrasah Al Falah yakni tempat sekolahnya dulu. Saat itu beliau memang sudah dikenal sebagai anak yang kutu buku. Setelah tamat dari madrasah ini, beliau meneruskan sekolah di Madrasah Muballighin Muhammadiyah Yogyakarta yang ditempuhnya dalam jangka waktu 2 tahun. Setamat dari madrasah ini, beliau menerjunkan diri dalam gerakan membela negara melawan Belanda. Di bawah kesatuan Angkatan Perang Sabil/APS, Ahmad Azhar ikut bergerilya di berbagai front di Jawa Tengah maupun di dalam kota Yogyakarta.
Tahun 1946 – 1949 merupakan tahun-tahun paling sengit dalam pertempuran melawan Belanda dan bangsa sendiri. Beliau menjadi komandan Kompi pada batalyon 33 Resimen IV Brigade X TNI. Di kala itu, beliau dan kawan-kawan sering terlibat langsung kontak senjata dengan Belanda. Nah, di tengah-tengah berkecamuknya melawan Belanda, ternyata orang-orang PKI menohok dari belakang dengan mengadakan pemberontakan yang dikenal dengan Pemberontakan/Affair Madiun pada tahun 1948. Affair ini banyak membawa korban pada umat Islam. Pemberontakan ini dapat ditumpas oleh TNI dalam waktu yang singkat.
Seusai itu, maka Ahmad Azhar kembali ke Yogya lagi untuk melanjutkan studi karena kondisi telah memungkinkan untuk dilakukan proses belajar mengajar. Beliau melanjutkan sekolah di Madrasah Menengah Tinggi/MMT Kauman Yogyakarta yang kebetulan ayahnya juga menjadi pengasuh disana. Sayang hanya dua   bulan sekolah di sini. Maka Azharpun bergabung lagi dengan pasukan tempur yang pernah diikutinya. Sebab saat itu Belanda menduduki kota Yogyakarta. Setelah Belanda hengkang dari kota gudeg ini, beliaupun sekolah lagi ke MMT dan selesai pada tahun 1952.
Setamat dari sekolah ini, beliau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri/PTAIN (sekarang menjadi Universitas Islam Negeri/UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengambil Jurusan Qadha. Pada waktu duduk di tingat doktoral (tahun ke empat atau kelima), beliau mendapat tawaran beasiswa untuk belajar di Universitas Bagdad Irak. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan dan pada tahun 1956 beliau ke Bagdad memilih Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab Universitas Bagdad di Irak. Di sini beliau belajar hanya satu tahun. Kemudian beliau ke Kairo Mesir untuk studi di Jurusan ‘Ulumul Islamiyah Fakultas Darul ‘Ulum Universitas Kairo pada tahun 1958-1965. Dari sini beliau menyelesaikan studinya dan berhasil menggondol gelar Master of Art/MA dari perguruan tinggi tersebut. Seusai studi, beliau tidak segera pulang ke tanah air. Beliau masih ingin menambah pengalaman dulu dan memperdalam pengetahuannya. Sebelum keinginan ini tercapai, beliaupun dipanggil pulang oleh ayahnya. Sebab sang ayah memang sudah sangat kangen dan sudah tua. Sebagai anak sholeh, maka  Ahmad Azhar pun memenuhi panggilan orang tuanya ini.
Sekembalinya dari Kairo, Ahmad Azhar duduk dalam jajaran pimpinan pusat Majelis Tarjih PP Muhammadiyah. Kepakarannya dalam bidang fiqh memang diakui oleh banyak pihak. Maka beliau diminta menduduki posisi penting sesuai bidangnya oleh Departemen Agama, Departeman Kehakiman, dan Majelis Ulama Indonesia. Bahkan di dunia internasional, beliau duduk sebagai anggota tetap pada al Majma’ al Fiqh al Islam/Akademi Fiqh Islam yakni sebuah lembaga pendidikan di bawah Organisasi Konferensi Islam Sedunia/OKI. Disamping itu, Pak Ahmad Azhar juga sibuk sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi terkenal seperti IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, UGM, UII, UMS, maupun UMM. Itupun masih sempat menulis buku-bulu sekitar 40 judul lebih dan ratusan makalah yang disampaikan dalam berbagai pertemuan ilmiah di dalam maupun luar negeri.
Kiyai yang intelektual dan santun ini dalam memangku jabatan sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah tidak sampai pada akhir masa jabatannya. Pak Ahmad Azhar dipanggil pulang ke Rahmatullah dalam usia 66 tahun. Beliau wafat tanggal 28 Juni 1994 di RSUP Dr. Sardjito setelah beberapa hari dirawat di PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Kemudian jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Karangkajen Yogyakarta diantar oleh ribuan umat.  .
                                                           
                                   
Lasa Hs.
                                 
    

0 komentar:

Posting Komentar