Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Selasa, 10 Juli 2018

HINDARI RIYA’


   
Riya’ merupakan perilaku memperlihatkan kebaikannya agar dipuji dan disanjung. Mereka tinggi hati bila dipuji, dan putus asa bila tidak dipuja. Dengan pujian ini mereka merasa memiliki nilai lebih dari yang lain. Mereka merasa paling unggul dari yang lain.
Memang tiap orang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan dari orang lain. Mungkin dalam kedudukan, harta, keturunan, kepandaian, bakat, dan lainnya. Namun bila kelebihan itu ditonjol-tonjolkan, bisa membuat orang lain tidak simpatik. Dengan selalu mengunggulkan kelebihan maka  bisa sombong, merasa paling benar, dan tidak mau menerima kebenaran meskipun disajikan data dan fakta. Sebab diantara tanda orang takabur adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Perilaku seperti ini diingatkan Allah Swt dalam Q.S.An Najm: 32 yang artinya:Dan janganlah kamu sekalian mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang taqwa:.
            Menunjukkan kehebatan diri dan selalu menyalahkan pihak laih kadang dipandang sebagai hak individu. Dengan cara ini dikira mampu menaikan gengsi dan martabat.Namun perlu disadari bahwa prilaku ini dapat menurunkan wibawa seseorang, bahkan dibulli orang banyak.
            Riya’ dan semacamnya dapat dikatakan sebagai perbuatan syirik meskipun syirik kecil. Dalam hal ini Rasulullah Saw menyatakan: “ Aku sangat mengkhawatirkan pada kamu sekalian dari perbuatan syirik kecil. Kemudian pada sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud syirik kecil itu Ya Raslullah “. Beliau menjawab, yakni riya’. (HR. Ahmad, Thabrani, dan Baihaqi).
            Riya’ tidak mesti dalam bentuk omongan, tetapi bisa dalam bentuk perilaku. Misalnya seseorang berulang kali menggerak-gerakkan lengannya ketika berbicara di depan publik. Gerakan ini sengaja dilakukan untuk menunjukkan/pamer gelangnya atau jam tangannya bermerek.
Untuk memahami perilaku riya’, Imam  Ghazali memberikan beberapa perilaku yang dapat dikategorikan sebagai gejala riya’ yakni:
  1. Semakin meningkat ibadah dan amalannya bila dipuji/disanjung
Kadang kita ini berperilaku seperti anak kecil. Begitu bangga bila dipuja, hati setinggi gunung bila disanjung. Demikian pula ketika melaksanakan ibadah. Kadang kita ini tertipu oleh sikap dan ketakaburan perasaan diri sendiri.
Begitu nampak khusyu’ shalatnya bila dilihat orang. Sumbangannya ditambah-tambah, lantaran sumbangan pertama dimuat surat kabar atau ditayangkan oleh televise misalnya. Perilaku demikian dikira mampu meningkatkan eksistensi diri dan kroninya di mata publik
  1. Putus asa dan kurang semangat bila dicela
Tidak sedikit  diantara kita yang patah arang bila dicela. Orang begitu mudah sakit hati bila dicaci maki. Hal ini bisa terjadi lantaran perbuatan mereka tidak didasarkan pada keikhlasan. Mungkin motivasi kebaikan itu untuk memeroleh dukungan suara, memperbesar nama dan kroninya.
  1. Malas melakukan ibadah bila sendirian
Kita ini sering kena penyakit malas bila melakukan kegiatan sendirian. Mungkin berat shalat malam meskipun hanya dua rekaat. Namun bila nonton pertandingan sepak bola, justru berjam-jam kuat dan tidak mengantuk.
  1. Menunjukkan kedermawanannya bila diketahui khalayak
Memang, orang berbuat baik itu motvasinya berbeda satu dengan yang lain. Ada yang nampak dermawan lantaran mendapatkan suara dan nama diri. Apabila tidak dilihat banyak orang,justru nampak kikirnya.

Lasa Hs


0 komentar:

Posting Komentar