Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Selasa, 03 Juli 2018

IKHLAS, MELURUSKAN NIAT (Tulisan II)


  1. Banyak berdo’a.
Diantara hal yang menolong untuk ikhlas adalah banyak berdo’a.
Diantara do’a yang sering dipanjatkan Nabi Muhammad Saw agar bisa ikhlas adalah:
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya , dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui” (HR. Ahmad).
Nabi sering memanjatkan do’a tersebut agar terhindar dari kesyirikan. Padahal kita tahu bahwa beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan.
Sementara itu, Umar bin Khattab yang dikenal adil dan wira’i itu juga sering berdo’a “Ya Allah jadikanlah seluruh amalku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh.jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahMu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain”.
  1. Meyembunyikan amal kebaikan
Kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain itu bisa membawa keikhlasan. Amal, jasa, kebaikan yang ditonjol-tonjolkan bisa mengurangi nilai amal itu, mengarah pada ‘ujub, dan bisa menimbulkan riya’ dan takabur.. Semakin ‘ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka semakin kecil dan rusak keikhlasan itu. Dalam hal ini baiklah kita perhatikan Sabda Nabi Muhammad Saw:” Tujuh golongan yang Allah akan naungi pada hari di mana tidak ada naunagan selain dari naunganNya, yaitu: pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah; laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah pula; seorang laki-laki yang diajak mesum/berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun dia mengatakan :”sesungguhnya aku takut kepada Allah; seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya itu sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendirian hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim) 
  1. Tidak terpengaruh kata orang
Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi manusia. Bahkan Rasulullah Saw pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab,:Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin” (HR Muslim).
            Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun, sebaiknya semua pujian dan celaan orang lain itu jangan sampai  mengurangi nilai amal saleh. Sebab seorang mukmin yang ikhlas adalah  seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan orang lain. Ketika mengetahui bahwa dirinya dipuji karena amal saleh atau kebaikannya, maka justru akan semakin tawadhu’ (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian dan kelebihan itu merupakan ujian bagi dirinya.
                                   


            Lasa Hs




0 komentar:

Posting Komentar