Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 13 Juli 2018

Oei Tjen Hien (1905-1998) TIONGHOA YANG MUHAMMADIYAH


Oei Tjen Hien dikenal dengan nama Haji Abdulkarim. Ia seorang tokoh Muhammadiyah dan mantan anggota Parleman RI. Ia pendiri organisasi etnis Tionghoa Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Pada tahun 1967 – 1974, ia menjadi anggota Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta yang diangkat oleh Presiden RI, menjadi anggota Dewan Penyantun BAKOM PKAB, dan anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia/MUI  Pusat.
                Ia lahir tahun 1905 di Padang Panjang dengan nama Oei Tjen Hien. Setelah lulus sekolah dasar, ia mengikuti berbagai kursus dan bekerja sebagai pedagang hasil bumi. Di samping itu, ia juga seorang pande emas yang pindah ke Bengkulu. Mula-mula ia memelajari berbagai agama melalui buku dan majalah, dan bergaul dengan orang-orang Islam. Setelah mendapatkan pengetahuan dan keyakinan yang mantap, akhirnya ia yakin benar dan penuh kesadaran pada umur 20 tahun masuk Islam. Ia aktif di Muhammadiyah sampai dengan tahun 1932. Pada  era inilah dia kemudian berkenalan dengan Prof. Dr. Hamka. Pergaulannya semakin luas dan pengalamannya pun semakin tambah lalu pada tahun 1961 ia membentuk organisasi Islam bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Organisasi ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua organisasi yang sejenis sebelumnya, yakni Persatuan Islam Tionghoa dan Persatuan Tionghoa Islam. Dalam perkembangannya nanti, nama PITI berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
                Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai seorang yang ulet dan memegang berbagai jabatan penting antara lain; Komisaris Utama BCA, Direktur Utama Asuransi Central Asia, Direktur PT Mega, Direktur Utama Pabrik Kaos Aseli 777, dan Direktur Utama Sumber Bangawan Mas. Sebagai seorang muslim yang taat, ia selalu menghitung jumlah kekayaannya dengan teliti untuk diekluarkan zakatnya. Oei dikenal pula sebagai Baba (atau Babadek menurut orang Bengkulu) yang juga akrab dengan Bung Karno. Suatu ketika, di Bengkulu, Pak Oei akan melakukan kunjungan ke cabang-cabang Muhammadiyah dengan mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir. Mobil itu berjalan pelan-pelan karena di belakang ada Bung Karno yang sedang bersepeda sambil berbincang-bincang dengan Oei. Sesampai di batas kota, kedua sahabat karib itu berpisah, dan Bung Karno bersepeda kembali ke kota dan Pak Oei melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah.
                Haji Abdulkarim Oei adalah salah seorang pionir keturunan Tionghoa yang aktif dalam upaya pembauran. Hal ini dibuktikannya dengan kesadarannya menjadi warga negara Indonesia yang otomatis harus keluar dari hidup di lingkungan etniknya. Keislamannya otomatis membawa Oei ke pola hidup baru ini. Keakrabannya dengan sejumlah tokoh seperti Buya Hamka lebih memotivasi Pak Oei dalam menggerakkan Muhammadiyah dan memperkuat upaya pembauran. Buya Hamka sendiri pernah menyatakan tentang Oei ini dalam brosur “Dakwah dan Asimilasi” tahun 1979.”Dalam tahun 1929 mulailah saya berkenalan dekat dengan seorang muslim yang membaurkan dirinya ke dalam gerakan Muhammadiyah dan langsung diangkat oleh masyarakat Muhammadiyah di tempat tinggalnya, yaitu Bengkulu. Ia menjadi Konsul Muhammadiyah Daerah tersebut sekarang namanya lebih dikenal dengan sebutan Bapak Haji Abdulkarim Oei. Telah 50 tahun kami berkenalan, sama paham, sama pendirian, dan sama-sama bersahabat karib dengan Bung Karno. Persahabatan Saudara Haji Abdulkarim Oei itu sebenarnya menguntungkan dirinya. Disamping sebagai seorang muslim yang taat, ia pun dipupuk, diasuh, dan akhirnya menjadi Nasionalis Indonesia sejati. Semasa pendudukan Jepang, H. Abdulkarim diangkat sebagai Dewan Penasehat Jepang (Chuo Sangi Kai). Pada masa kemerdekaan, ia diangkat sebagai Komite Nasional Indonesia/KNI Bengkulu dan sebagai anggota DPR mewakili golongan minoritas. Dalam kepartaian, ia memilih Partai Muslimin Indonesia/Parmusi sebagai wadah perjuangannya.
                Seluruh catatan perjalanan hidupnya kemudian tersusun dalam buku Mengabdi Agama, Nusa, dan Bangsa. Namun, pada tahun 1982, buku yang diterbitkan PT Gunung Agung Jakarta itu ditarik dari peredaran karena dinilai merugikan pihak-pihak tertentu. Bersama dengan Yunus Yahya, Oei melakukan pembinaan agama Islam kepada warga keturunan. Yunus Yahya nama aslinya adalah Lauw Chuan Tho termasuk tokoh pembaruan dari kalangan Cina muslim di Indonesia dan pernah sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam Belanda. Ia masuk Islam pada tahun 1979 dan diangkat sebagai Pengurus Majelis Ulama Indonesia tingkat nasional pada periode 1980-1985.
                Haji Abdulkarim Oei Tjen Hien meninggal dunia pada hari Jum’at dini hari, tanggal 14 Oktober 1988 dalam usia 83 tahun karena sakit tua dengan beberapa komplikasi. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta, di dekat makam isterinya Maimunah Mukhtar yang meninggal tahun 1984 dengan meninggalkan lima putra-putri dan beberapa cucu.
                                                                                                                                 
Lasa Hs


0 komentar:

Posting Komentar