Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 23 Juli 2018

PERLU BELAJAR DARI PENDAHULU KITA


                                   

          Pada masa pemerintahan Bung Karno , yakni pada tahun 1960 di kalangan pucuk pimpinan Muhammadiyah pernah terjadi konflik. Hal ini memang biasa terjadi dalam suatu organisasi atau komunitas. Cuma cara penyelesaiannya inilah yang perlu menjadi pelajaran. Saat itu, Bung Karno ingin menunjuk Bapak Mulyadi Djojomartono sebagai Menteri Sosial RI. Padahal saat itu sedang terjadi ketegangan politik antara Bung Karno dan Muhammadiyah. Dimana saat itu Muhammadiyah sebagai anggota istimewa Partai Masyumi. Pada saat itu ada beberapa anggota Partai Masyumi ditahan oleh pemerintahan Bung Karno.
Menghadapi situasi yang dilematis ini, di kalangan pimpinan Muhammadiyah terjadi perbedaan pendapat. Satu pihak menghendaki agar Pak Mulyadi Djojomartono menerima jabatan itu, dan di lain pihak menentang kesempatan itu.
Melihat situasi seperti itu, Buya Hamka sebagai seorang jurnalis dan penulis lalu muncullah naluri jurnalisnya dan menulis di harian Abadi. Tulian itu berjudul Maka Pecahlah Muhammadiyah. Dalam tulisa ini Buya Hamka menyatakan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah terbelah menjadi dua. Yakni kelompok istana dan kelompok luar istana. Dalam hal ini KH Farid Ma’ruf termasuk kelompok istana, karena setuju dengan tawaran Pak Mulyadi Djoyomartono (tokoh Muhammadiyah) sebagai Menteri Sosial.
          Untuk klarifikasi dan mencari solusi perbedaan pendapat itu, lalu digelar Sidang Tanwir di Gedung Muhammadiyah. Pada kesempatan ini sidang memberikan kesempatan kepada Buya Hamka untuk menjelaskan seputar tulisannya itu. Dalam paparannya, beliau menyatakan bahwa artikel itu ditulis justru cintanya kepada Muhammadiyah. Dalam penyampaiannya yang terbata-bata itu, beliau menjelaskan bahwa sebagai seorang jurnalis dan penulis apabila menghadapi sesuatu, lalu dengan refleks memegang pena dan menulis lalu dikirim ke media (koran). Beliau jelaskan bahwa dengan tulisan itu ingin menjaga harkat dan martabat Muhammadiyah, dan bukan untuk menyinggung pihak lain. Namun kalau hal itu menyinggung perasaan pihak lain (KH Farid Ma’ruf) sebagai sahabat yang sangat dicintai, maka Buya Hamka menyesal dan minta maaf. Sebab, tidak mengira bahwa tulisannya itu bisa menimbulkan konflik internal.
Seusai itu, pimpinan sidang mempersilahkan KH Farid Ma’ruf untuk menyampaikan penjelasan mengapa beliau mendorong Pak Mulyadi Djoyomartono untuk menerima jabatan sebagai  Menteri Sosial RI. Beliau berargumentasi bahwa saat itu, Muhammadiyah yang sedang berkembang perlu dukungan Pemerintah agar gerak dan perkembangan amal usaha Muhammadiyah semakin maju. Maka diperlukan kerjasama antara Muhammadiyah dan Pemerintah. Beliau menyatakan di mimbar itu, kalau memang sikapmya itu dianggap salah, maka beliau bersedia mengundurkan diri dari kepengurusan PP Muhammadiyah.
KH Farid Ma’ruf  belum selesai pembahasannya, spontan Buya Hamka mengacungkan tangan menginterupsi pada pimpinan sidang dan dengan nada suara agak tinggi,  beliau menyatakan :” Pimpinan, Saudara Farid jangan mundur. Saudara Farid supaya tetap menjadi Pimpinan Pusat, dan saya saja yang mundur”.
Melihat sikap ini, KH Farid Ma’ruf turun dari mimbar lalu mendekati Buya Hamka. Keduanya berjabat tangan, berangkulan,  saling mengaku salah dan saling minta maaf. Keduanya menangis sesenggukan menyesali perbuatannya yang tidak mengira bahwa hal ini menjadi perbedaan pendapat yang dikhawatirkan menuju perpecahan. Melihat adegan ini, para peserta sidang Tanwir melelehkan air mata, menangis, terharu beginilah kesadaran yang tinggi pengakuan kesalahan demi keutuhan dan kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah.
Demikianlah, cara Muhammadiyah dalam menyelesaikan perbedaan pendapat dengan saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan, Disinilah perlunya tabayun agar akar rumput tidak goyah.
(Sumber: Kisah Inspiratif Para Pemimpin Muhammadiyah, 2017)

Lasa Hs





0 komentar:

Posting Komentar