Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 24 Agustus 2018

DASRON HAMID; Berkhidmat di Muhammadiyah




Pribadi yang sederhana, jujur, profesional, ikhlas, dan rendah hati itu telah memberikan kontribusi besar kepada Persyarikatan Muhammadiyah. Kotribusi yang monumental itu antara lain; pendirian , penyelamat, dan melambungkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pembangunan Sportorium UMY (sebagai ajang Muktamar satu Abad) dan persepakbolaan Muhammadiyah. Karir sebagai dosen dan aktivitas Muhammadiyah telah menggoreskan tinta emas pemikiran dan langkah pendidikan Muhammadiyah.
Kasus “Banyugeni” yang menimpa UMY dan mencederai dunia perguruan tinggi itu, maka Pak Dasron Hamidlah sebagai penyelamat dunia pendidikan pada umumnya. Dengan kepiawaian manajemen dan networknya, dengan langkah pasti UMY bangkit kembali menjadi kampus yang Unggul Islami, Muda Mendunia dan menjadi PTM papan atas dan termasuk PTS yang diperhitungkan.
Dasron Hamid yang dididik dan dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah dan didewasakan dalam kancah perjuangan Muhammadiyah memang mewarisi beberapa sepak terjang ayahandanya Abdul Hamid yang dalam bahasa Jawa disebut :” nunggak semi”. Apabila dulu Bapak Abdul Hamid pernah menjadi bendahara PP Muhammadiyah, maka Pak Dasron pun pernah menjadi bendahara Persyarikatan. Bapaknya dulu, berulang kali menjadi ketua panitia muktamar, maka Pak Dasronpun menjadi Ketua Muktamar Muhammadiyah di Solo tahun 1985 sampai Muktamar Muhammadiyah Satu Abad di UMY Yogyakarta tahun 2010. Namun satu hal yang tidak diikuti, yakni dulu Bapak Abdul Hamid pernah aktif di Partai Masyumi sebagai bentuk keterlibatan dalam politik praktis. Sedangkan Pak Dasron tidak terjun ke dunia politik praktis. Bila ayahnya dulu pernah menjabat sebagai Ketua DPRD DIY, maka Pak Dasron pernah menjadi utusan Daerah MPR RI.
Memang Pak Dasron di kala muda sering diiming-imingi jabatan politis termasuk diajak Pak Amien Rais untuk memperkuat Partai Amanat Nasional/PAN. Namun semua kesempatan dan iming-iming jabatan politik praktis itu tidak direspon. Beliau memilih pengabdian berkhidmat di Muhammadiyah terutama dalam pendidikan tinggi. Hal ini bukan berarti bahwa generasi muda Muhammadiyah tidak berpolitik, tetapi juga harus melek politik. Namun dalam pandangannya bahwa bila ada kader Persyarikatan terjun ke dunia politik praktis hendaknya berpolitik ala Muhammadiyah. Yakni berpolitik yang santun, jujur, bahkan beradab, tidak memanfaatkan Muhammadiyah untuk kepentingan politiknya. Nanti bila telah lepas dari jabatan politik praktis, maka harus melepaskan baju politiknya bila ingin kembali ke Muhammadiyah.Bagi Pak Dasron, “pesan sakti” KH Dahlan :Hidup-hidupi Muhammadiyah, dan jangan cari penghidupan di Muhammadiyah” harus dimaknai secara cerdas.
Memamg dalam sejarah pendirian UMY, beliau bukan termasuk generasi awal. Saat itu sebagai pendiri UMY awal terdiri dari tujuh orang  sebagai Tim Tujuh yakni; Mustofa Kamal Pasha (Allahu Yarham), Muhadi SH (AllahuYarham), Humam Zainal SH (Allahu Yarham), Darwin Harsono (Allahu Yarham), Fahmi Muqoddas, Abdullah Effendi, dan Alfian Darmawan. 
Untuk mengenang itu, maka sampai kini masih ada satu mobil UMY bernomor  polisi AB 7017, yang berarti 7 (tujuh) 0 (orang) 1 (satu) 7 (tujuan).
Namun demikian keterlibatan Pak Dasron dengan UMY sangat intens, sehingga UMY identik dengan Dasron Hamid. Beliau yang mengembangkan, mempromosikan, menyelamatkan , dan melambungkan UMY dengan mencurahkan tenaga, waktu, pemikiran, dan material secara ikhlas, Keunggulan ini didukung dengan rasionalitas, kebersamaan, kesepahaman, kepemimpinan, dan “nguwongke liyan”.
Pak Dasron yang menjabat Rektor UMY dua periode  itu (2008 – 2010, 2010  2012) memang lihai dalam mempromosikan UMY antara lain selalu mengundang (ngampirke) orang penting yang ke Yogya untuk ceramah, dialog di UMY. Maka saat itu UMY sering disebut sebagai Universitas Menteri Yogyakarta. Beberapa langkah yang merupakan perjalanan mengembalikan citra dan melambungkan UMY dalam kinerja nyata antara lain; meningkatkan animo dan calon mahasiswa baru, peningkatan kualitas proses belajar mengajar, peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengabdian pada masyarakat, peningkatan beasiswa & prestasi mahasiswa, kerjasama nasional dan internasional, peningkatan perpustakaan dan peran humas, serta akreditasi prodi

(Lasa Hs)                   



0 komentar:

Posting Komentar