Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 24 Agustus 2018

KI BAGUS HADIKUSUMO; Penyelamat Pembukaan UUD 1945




Putra Kauman Yogyakarta ini telah mewariskan pemikiran dan sumbangsih bagi Islam, Muhammadiyah, dan Negara. Sebagai tokoh pemikiran Islam di Indonesia, memang beliau berpikir bercorak neo-sufistik, rasional,  dan selalu menggunakan referensi Al-Quran dan as Sunah.Santri KHA Dahlan ini pada periode awal Muhammadiyah sudah menjadi aktivis Persyarikatan antara lain pernah menjadi Ketua Majelis Tarjih pada tahun 1922, menjadi Ketua Majelis Tarjih, sebagai anggota komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah tahun 1942 – 1953.
 Ki Bagus dikenal sangat produktif dalam penulisan sehingga pada tahun 1925 telah menerbitkan 14 jilid buku. Hal ini didukung oleh kemampuan berbahasa Arab, bahasa Ingris, dan bahasa Belanda. Dengan kemampuan ini beliau mengenal dan memperdalam pemikiran-pemikiran Muhammad ‘Abduh. Rasyid Ridha,Imam Ghozali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rusyd dan lainnya.  Diantara karya-karyanya berupa buku adalah; 1) Poestaka Iman; 2) Poestaka Islam ; 3) Risalah Katresnan Djati; 4) Poestaka Ikhsan; 5) Islam Sebagai Dasar Negera dan Akhlak.
Dulu, para tokoh Muhammadiyah memang ada beberapa yang terjun ke politik praktis. Sebab saat itu memang suatu tuntutan dan partai politik sebagai alat perjuangan umat Islam dan pengembangan Muhammadiyah. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan pribadi maupun kelompok.Maka Ki Bagus bersama tokoh Islam lain seperti KHA Wahid Hasyim, KH Abdul Kahar Mudzakir, dan Abikusno Tjokrosujono pernah duduk sebagai anggota DPR Pusat.
Ki Bagus pada tahun 1938 juga termasuk sebagai salah satu tokoh berdirinya Partai Islam Indonesia (PII). Bahkan pada tanggal 7 November 1945, Muhammadiyah di bawah kepemimpinan beliau menjadi teras pembentukan Partai Masyumi (Majlis Syuro Umat Islam) sebagai satu-satunya parti Umat Islam saat itu. Dalam hal ini Ki Bagus dipercaya seagai Wakil Ketua Masyumi sampai tahun 1950.
Andil beliau pada kelahiran NKRI cukup besar sehingga beliau diakui sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 116/TK/2015 tanggal 4 Nopember 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Peran yang dimainkan pada awal kemerdekaan RI antara lain bahwa beliau sebagai anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia0 dan bPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Suatu ketika di bulan Juni 1945, Bung Karno mengemukakan konsep dasar negara. Dalam konsep itu beliau mengusulkan “Ketuhanan” di bagian akhir sebagai dasar negara. Dalam hal ini Ki Bagus merasa keberatan dan menolak konsep itu. Beliau mengusulkan agar kata “Ketuhanan” diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan diletakkan di bagian pertama sebagai dasar negara. Ternyata usulan ini diterima dan ini merupakan keberhasilan diplomasi tokoh Muhammadiyah.  Dengan bahasa lain dapat dipahami bahwa Muhammadiyah ikut mendirikan NKRI ini yang merupakan rumah besar bangsa Indonesia yang menurut bahasa Muhammadiyah sebagai Darul ‘Ahdi wasy Syahadah.
Beliau berulang kali terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah melalui berbagai muktamar, dan dua kali terpilih sebagai ketua Majelis Tarjih yakni pada tahun 1922 dan 1936.
Kemudian pada masa pendudukan Jepang, umat Islam dan Muhammadiyah mengalami tekanan terutama dalam akidah. Jepang saat itu ingin merubah ketauhidan menjadi kemusyrikan dengan cara menghadap ke timur menyembah matahari. Untuk mengatasi kondisi ini, Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Ki Bagus membentuk mubaligh/da’i yang dikirim ke seluruh pelosok Jawa dan Madura untuk menguatkan akidah, memotivasi amal shaleh, dan menyemangati perjuangan melawan ketidak adilan dan kebatilan.
(Lasa Hs)  



0 komentar:

Posting Komentar