Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 06 September 2018

ASJMUNI ABDURRAHMAN

Pakar Fikih Kontemporer
Pengisi rubrik Tanya jawab agama Islam Harian Kedaulatan Rakyat sejak 1996 ini merupakan tokoh fikih kontemporer dan penulis yang produktif. Lulusan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah ini pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia/MUI DIY 1975 – 1995 dan Ketua MUI Pusat Bidang Fatwa serta Bidang Hukum dan Perundang-Undangan. Pribadi yang dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah itu pada tahun 1970 – 1975 menjadi anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.
Semasa kepemimpinan beliau sebagai Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah 1990 – 1995, mucullah pemikiran perlunya penentuan hukum Islam terhadap masalah-masalah kontemporer seperti masalah bayi tabung, pencangkokan jantung, keluarga berencana, emansipasi wanita, dan lainnya.
Sebagai akademisi dan santri “Wetan Kali Opak” beliau merupakan pribadi  yang produktif dengan menghasilkan buku-buku antara lain; 1) Qaidah Fikih (1976(; 2) Pengantar Kepada Ijtihad (1978); 3) Kedudukan Adat Kebiasaan Dalam Hukum Islam (1982); 4) Pencangkokan Dalam Sorotan Hukum Islam(1982) ; 5) Hukum Syar’i dan Pembagiannya (1983); 6) Metoda Penetapan Hukum Islam (1986); 7) Ushul Fikih Syiah, 8) Sejarah Peradilan di Indonesia; 9) Sholat Berjama’ah (2003); 10) Manhaj Tarjih Muhammadiyah Metodologi dan Aplikasi (2005); 11) Memahami Makna Tekstual, Kontekstual dan Liberal (2005); 12) Mahkamah Konstitusi Sejarah, Tugas, wewenang dan Strukturnya, 13) Badan Arbitrase Syari’ah Nasional (2005).
Dalam berbagai tulisannya, beliau merespon berbagai masalah seperti masalah Bank Syari’ah, Virus HIV/AIDS, liberalism.  Kini memang diperlukan Bank Islam yang dikelola secara profesional dan itu sudah menjadi kebutuhan umat. Mengenai penyakit HIV/AIDS, beliau menyatakan dalam makalahnya berjudul “Transplantasi (Pencangkokan Organ) dalam Sorotan Hukum Islam”. Dalam makalah yang disampaikan pada Muktamar Tarjih di Klaten tahun 1980 itu, beliau menyatakan: Hujkum melakukan pencangkokan dengan tujuan pengobatan, yang kalau tidak dilakukan akan membahayakan jiwa pasien, ialah mubah, kaena darurat. Hukum [encangkokan dengan tujuan pengobatan cacat badan seperti dimasukkan darurat, kaenasangat dihajatkan untuk tidak menimbulkan komplikasi kejiwaan, maka hukumnya juga mubah”.
            Pribadi yang santun, sederhana, dan rendah hati itu dalam berbagai kesempatan ,melontarkan gagasan agar Majelis Tarjih PP Muhammadiyah memunculkan Putusan Tarjih pada masalah-masalah kontemporer. Putusan ini akan menjadi fiki dalam bidang tertentu, misalnya fikih lingkungan, fikih informasi, fikih air, fikih bencana dan lainnya
                                                                                                (Lasa Hs)

0 komentar:

Posting Komentar