Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 14 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan 1 )


Pendahuluan
            Menulis masih dianggap beban dan keterpaksaan dalam kehidupan intelektual dan kemasyarakatan kita. Oleh karena itu, bangsa kita belum mampu bersaing dalam kehidupan keilmuan dengan bangsa lain. Justru budaya menonton dan ngomong yang berkembang pesat.
            Lambannya perkembangan penulisan karena kurangnya kesadaran, ketidakmampuan, dan rendahnya kemauan menulis di kalangan ilmuwan dan masyarakat kita. Dunia tulis menulis sebenarnya merupakan media efektif untuk menyimpan, melestarikan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengekpresikan diri dan mampu memenuhi kebutuhan fisiologis, sosial, penghargaan, dan eksistensi diri.
            Melalui tulisan seseorang akan mampu mengekspresikan diri, mampu bersaing secara terbuka, memberikan manfaat kepada sesama, dan mengabadikan diri dalam perjalanan hidupnya. Pikiran-pikiran mereka akan menjadi pelajaran, acuan, dan pengembangan diri orang lain meskipun jasad penulis itu telah hancur dimakan tanah. Oleh karena itu  nama sebenarnya bukan nama yang tertulis di batu nisan kuburan kita nanti.
            Untuk itu perlu dorongan, penciptaan kesadaran penulisan untuk bisa melahirkan karya-karya unggulan dengan pemikiran-pemikiran inovatif produktif untuk mencapai kemajuan.
Latar Belakang
            Perlunya menumbuhkan minat dan motivasi penulisan didasarkan pada pemikiran dan realita :
  1. Rendah minat baca dan tulis
Minat baca dan minat tulis bangsa kita rendah bila dibanding dengan minat baca/tulis bangsa lain. Justru yang menonjol adalah minat ngomong dan minat menonton. Di era teknologi  informasi ini seharusnya masyarakat kita beranjak pada literasi informasi. Yakni kemampuan untuk mengakses, mengelola, dan mengembangkan sumber informasi untuk meningkatkan kualitas hidup yang penuh persaingan ini. 
  1. Rendah produksi buku dan penerbitan
Produksi buku kita tergolong rendah bila dibanding dengan produksi buku di negera-negara lain. Sekedar ilustrasi bahwa UNESCO pernah mencatat pada tahun 1993 bahwa jumlah judul buku yang terbit di Indonesia hanya 0,0009 % dari jumlah penduduk. Hal ini berarti bahwa pada tahun itu saja setiap satu juta orang Indonesia hanya tersedia 9 judul buku. Padahal di negeri ini tiap tahun diluluskan sekian ribu sarjana S1, S2, S3, bahkan sekian puluh  profesor.
Kondisi ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan kondisi perbukuan negara-negara berkembang yang rata-rata 55 (lima puluh lima) judul buku untuk setaip satu juta penduduk. Sedangkan dunia perbukuan di negara-negara maju, produksi buku telah mencapai 513 (lima ratus tiga belas) judul untuk setiap satu juta orang.
Kemudian apabila dibandingkan dengan produksi buku di beberapa negara Asia, maka Indonesia hanya mampu menerbitkan sekitar 10.000 judul/tahun. Padahal Korea telah mampu menerbitkan 26.000 judul/tahun, dan Jepang mampu menerbitkan 100.000 judul/tahun (Nur Zakiyah, 2002: 2).    
  1. Menulis dianggap beban dan keterpaksaan
Bagi sebagian besar akademisi, menulis karya akademik seperti menyusun skripsi, tesis, dan disertasi dianggap beban berat. Mungkin masa perkuliahan hanya 2 semester, tetapi tugas penulisan karya akhir bisa  10 tahun lebih. Demikian pula bagi para profesor, yang pidato pengukuhannya cuma dibacakan selama 25 menit, tetapi menyusunnya bisa satu semester.
Para guru sekolahpun mengalami hal yang sama. Guru yang PNS cukup pasrah pada golongan IV/a untuk pensiun. Sebab untuk naik ke jenjang berikutnya harus memiliki kemampuan menulis karya tulis ilmiah. Maka di negeri ini masih langka guru yang mampu menyandang guru utama.. Padahal sebagian besar mereka telah memiliki pendidikan minmal S1, bahkan beberapa ribu telah berpendidkan S2, dan beberapa puluh bergelar doktor. Hal ini mungkin terbentur keterbatasan kemampuan penulisan ilmiah.
Hasil penelitianpun sebagian besar hanya berfungsi sebagai dokumen ilmiah dan jarang dimanfaatkan karena para peneliti kurang mampu menulis buku, artikel jurnal, atau menulis artikel di surat kabar. Akhirnya penelitian yang menghabiskan jutaan bahkan milyaran rupiah itu seolah-olah hanya menghasilkan kertas beberapa lembar, coin, dan point.
Bagi jabatan fungsional pun tidak jauh berbeda. Dalam usulan kenaikan  jabatan, pangkat dan golongan  fungsional pustakawan dengan berkas yang “berbobot”  tetapi kurang bermutu. Mereka bangga dengan ketebalan kertas yang isinya sekedar statistik peminjaman dan pengembalian dan daftar buku yang diolah, meskipun itu Pustakawan Muda bahkan Pustakawan Madya.   
  1. Tulisan/rekaman sebagai media efektif dalam pengembangan diri dan potensi masyarakat
Penulis atau pengarang adalah profesi yang terhormat dan tidak semua orang  mampu meraih posisi itu meskipun berpendidikan tinggi secara akademis. Sebaliknya terdapat penulis-penlis terkenal meskipun secara formal hanya mengenyam pendidikan SLTA.
Konon publish or perish (muncul atau bunuh diri) menjadi icon bagi kehidupan keilmuan di beberapa negara luar negeri. Maka menulis merupakan ekspresi diri dan pengakuan atas reputasi keilmuan seseorang. Mereka bangga dan bercerita tentang karya-karya mereka terutama buku bila ketemu dengan teman sejawat mereka. Hal ini jauh berbeda dengan kehidupan keilmuan para ilmuwan kita yang bangga dengan proyek dan  jumlah jabatan struktural yang dipangkunya. Mereka tidak tergerak untuk menulis buku meskipun telah disediakan anggaran sekian juta bahkan milyaran rupiah.Toh anggaran itu tidak terserap.
Penulis mampu  berperan sebagai seorang guru, pendidik, ustadz, dan ilmuwan yang memberikan nilai, ajaran, norma, dan ilmu pengetahuan bukan karena semata-mata keterpaksaan tetapi berkat panggilan.
Tulisan-tulisan mereka mampu menggerakkan potensi masyarakat, merubah sikap, dan mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan meskpun perlu waktu. Rasulullah SAW mampu melakukan perubahan tatanan kehidupan manusia berabad lamanya lantaran ajaran-ajarannya yang dibukukan dalam Al Quran dan hadist. Karl Marks mampu mengubah Rusia melalui pikiran-pikiran yang tertuang dalam bukunya  Das Capital. Galileo seorang ilmuwan lulusan Fakulatas Kedokteran Universitas Pisa itu sempat menggegerkan masyarakat Eropa dan dikenal sebagai penulis metode eksperimen. Demikian pula dengan buku Ayat-Ayat Cinta, Lasykar Pelangi, dan lainnya.
       (Bersambung)
      Salam Iqra’

      Lasa Hs


0 komentar:

Posting Komentar