Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 17 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 3 )


Anggapan tentang penulisan
            Dalam masyarakat kita terdapat beberapa anggapan bahwa menulis itu menakutkan, bakat, seni, mengoplos ide, dan dapat dipelajari
  1. Menakutkan
Orang enggan menulis mungkin lantaran berbagai ketakutan. Mereka takut kalau tulisannya itu ditolak penerbit, padahal sudah punya nama beken. Mereka juga was-was kalau tulisannya itu terdapat kesalahan dan kekurangan, sehingga takut dikritik, dicemooh, atau diserang orang lain melalui rensensi atau dalam bentuk buku. Bahkan banyak yang  khawatir jangan-jangan bukunya nanti dibajak. Padahal buku itupun belum tentu laku. Sebab buku yang dibajak itu adalah buku-buku yang best sellers. Sedangkan buku mutu belum tentu laku karena kurang marketable.
Dunia penulisan sebenarnya bukan dunia lain yang menakutkan. Para pelaku ilmu pengetahuan dan moral yang takut menulis buku ibarat burung bersayap satu yang hanya mampu meloncat dari dahan/pohon satu ke dahan/pohon lain. Mereka juga bisa dimisalkan seorang yang berani menceburkan diri ke sungai tetapi idak bisa berrenang. Lama kelamaan akan mati tenggelam. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ilmuwan itu akan tamat riwayatnya setelah pensiun yang itu merupakan kematian apabila tidak memiliki kemauan dan keamampuan menulis buku/lain. Maka  penakut itu akan mati seribu kali dan pemberani hanya mati sekali. Sebab penakut itu telah mati sebelum melangkah. 
  1. Bakat
Memang ada beberapa penulis itu benar-benar bakat. Mereka mendasarkan penulisan pada ide dan inspirasi yang kuat. Bagi mereka, menulis itu tidak akan memerlukan waktu khusus. Ia hanya menantikan ide sampai datangnya perasaan untuk menulis. Setelah itu biasanya mereka menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini mereka menggerakkan tangannya untuk menulis karena adanya sentuhan magis/magic touch yang datang tiba-tiba.
  1. Seni
Tulisan merupakan hasil ekspresi ide atau perasaan sebagaimana lukisan yang merupakan curahan perasaan seorang pelukis. Pengungkapan ini lantaran munculnya gerak batin secara tiba-tiba seperti orang yang mendadak menyanyi atau bersiul karena kegembiraan. Dalam hal ini Claude Levi-Strauss (antropolog Perancis) menyatakan bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk mengatur masa sekarang dan masa depan (the Liang Gie, 1992: 9)
            Proses penulisan memerlukan kreativitas dan harus memiliki naluri bahasa yang kuat, lincah, dan efektif. Kemahiran memilih kata memerlukan instuisi yang tinggi di samping adanya inspirasi yang muncul.
  1. Cuma mengoplos ide orang lain
Dalam penulisan karya ilmiah memang terjadi saling mengutip pendapat atau tulisan orang lain. Pengutipan ini bukan berarti sekedar mengoplos. Sebab menulis itu merupakan bentuk ekspresi diri secara total yang dalam prosesnya memerlukan ilmu pengetahuan, pelatihan, renungan, dan menuntut berbagai kecerdasan antara lain kecerdasan kata/word smart.
            Pengutipan atau penyitiran dalam penulisan karya ilmiah itu dibolehkan asal menyebutkan data bibliografi secara lengkap. Pola sitiran ini menggambarkan adanya hubungan antara sebagian atau seluruh artikel yang disitir dengan artikel yang menyitir. Adanya pengutipan ini akan memberikan nilai yang obyektif dan manfaat antara lain:
a.       adanya pengakuan atas prestasi orang lain
b.      menjunjung etika keilmuan
c.       membantu pembaca dalam penemuan kembali

  1. Dapat dipelajari, berlatih, dan mencoba
Menulis (buku, artikel, resensi, berita, dll.) itu sebenarnya dapat dipelajari asal ada kemauan, keberanian, sabar, ulet, telaten, dan tak mudah putus asa. Membaca buku-buku teori penulisan kiranya kurang berkembang apabila takut mencoba. Sebab dengan ketakutan mencoba ini, maka selamanya tidak pernah bisa menulis. Membaca teori itu baru sekedar belajar tentang menulis dan belum belajar menulis. Dalam hal ini, Abdul Hadi WM (2002) menjelaskan bahwa bakat menulis itu hanya 5 % lalu keberuntungan 5 %, sedangkan sisanya sebanyak 90 % tergantung pada kesungguhan dan kerja keras.
Belajar, berlatih, dan berani mencoba merupakan salah satu cara untuk maju. Albert Einstein menyatakan “Learn from yesterday, hope for tumorrow. The important things is not stop questioning:. Artinya belajarlah dari hari kemarin, lakukanlah untuk hari ini, dan berharaplah untuk hari esok. Yang penting jangan pernah berhenti bertanya.
Barbara Sher seorang penulis ulung juga menasehatkan bahwa untuk bisa menulis harus banyak berlatih dan tidak mudah putus asa. Dalam hal ini beliau menyatakan “You can learn new things at any time in your life if you’re willing to be beginner. If you actually learn to like a beginner, the whole worlds opens up to you”. Artinya anda bisa memelajari sesuatu yang baru kapan saja asalkan berpikir sebagai pemula. Jika anda benar-benar mau belajar seperti pemula, maka dunia akan terbuka bagi anda. 
Hambatan
            Suatu keinginan itu pasti ada hambatan baik dari dalam diri orang atau dari  luar diri sendiri. Dalam hal ini bukan takut hambatan itu, tetapi bagaimana mengenal hambatan itu dan berusaha untuk mengatasinya. Adapun beberapa hambatan calon penulis atau penulis pemula antara lain:
  1. Hanya ingin dan belum/tidak punya kemauan
  2. Mudah putus asa
  3. Kurang ulet
  4. Malas berlatih
  5. Malas bertanya dan berguru
  6. Terlalu ideal, gengsi
  7. Kurang percaya diri
  8. Berbagai ketakutan.
Calon penulis termasuk para akademisi bisa mengalami ketakutan yang berlebihan antara lain takut :
    1. ditolak penerbit
    2. dikritik
    3. disepelekan
    4. ketahuan kapasitas keilmuannya
    5. dibajak
    6. difotokopi
    7. dibohongi penerbit
    8. tak dibayar royali
Saran/solusi
            Sekecil apapun hambatan, perlu adanya upaya mengatasinya. Sebab kebakaran itu berasal dari percikan api. Beberapa saran solusi bagi penulis pemula antara lain:
  1. ada kemauan yang kuat
  2. putus asa sama dengan “mati gantung diri” sebelum perang
  3. sabar, ulet, dan telaten
  4. malu bertanya sesat ke kuburan
  5. orang bisa renang karena berlatih, bukan hanya membaca buku tentang renang
  6. percaya diri itu potensi terpendam
  7. Hantu itu hanya ada pada diri kita
  8. Berlatih menulis
Belajar teori saja tidak menjamin seseorang akan menjadi penulis. Berani mencoba dan berlatih terus merupakan modal untuk bisa menulis. Balajar menulis tidak harus melalui sekolah menulis. Belajar di manapun selau ada gunanya. Sekolah baru disebut berhasil apabila mampu menggugah orang untuk senantiasa belajar dan mencari. (Prama, 2004:7)
     Bersambung
     Salam Iqra’

     Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar