Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 30 September 2018

PERUBAHAN MENUJU KEMAJUAN Tulisan - 1 Makna Perubahan


Perubahan pada hakikatnya adalah transformasi dari keadaan lalu menuju keadaan sekarang, dari keadaan sekarang menuju keadaan yang akan datang. Kalau keadaan sekarang berubah menjadi lebih baik, berarti suatu kemajuan dan  keberhasilan. Apabila keadaan sekarang sama (tidak berubah) dengan keadaan yang lalu, maka berarti suatu kerugian karena stagnan.Apabila keadaan sekarang berubah menjadi lebih buruk dari keadaan yang lalu, maka berarti suatu  kecelakaan bahkan malapetaka.
              Adanya perubahan sebagai tanda adanya  kehidupan dan perkembangan.Maka apabila tidak terjadi perubahan, maka berarti bahwa kehidupan itu mandeg dan tidak berkembang. Namun demikian pengalaman empiris menunjukkan bahwa adanya usaha perubahan sering  mampu meningkatkan kinerja lembaga lebih maju secara  pesat.Perlu juga  disadari bahwa banyak pula usaha perubahan, namun kenyataannya tidak berhasil. Hal ini kadang menimbulkan keragu-raguan pada diri orang/kelompok dan orang/kelompok  lain untuk berusaha berubah.
Perubahan merupakan keniscayaan yang perlu dilakukan terus menerus dalam rangka menuju kemajuan. Maka logis bila Allah menyiratkan perlu perubahan dalam Q.S. Ar Ra’d: 11 yang artinya:” Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Merubah pada hakekatnya meningkatkan kebaikan dan menjauhi kegiatan-kegiatan yang merusakkan. Oleh karena itu Rasulullah Saw menegaskan untuk merubah kemunkaran dengan kekuasaan, lisan, maupun diam (tidak melakukan kejahatan). Perintah ini ditegaskan dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Sa’ad Al Khudhri yang artinya: Apabila kamu sekalian menyaksikan/mengetahui kemungkaran, hendaknya dirubah dengan tangan (kekuasaan). Apabila kamu tidak mampu, maka hendaknya dirubah dengan lisan (nasehat, tulisan). Apabila dengan lisan ternyata tidak mampu, maka rubahkan dengan hati, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman”.  Memahami hadist ini, sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan tangan (kekuasaan) yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan. Kemudian yang dimaksud dengan lisan dilakukan oleh ilmuwan/ulama, sedangkan dengan hati dapat dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Perubahan dengan hati artinya minimal mencegah diri agar tidak melakukan tindak kejahatan.
              Perpustakaan sebagai lembaga yang selalu berubah (library is the growing organism) harus selalu melakukan perubahan. Perubahan ini sesuai tingkat kebutuhan informasi masyarakat. Namun demikian perlu disadari bahwa untuk menuju perubahan selalu dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah adanya tekanan global dan semakin ketatnya kompetisi. Faktor internal berasal dari internal perpustakaan itu sendiri, dimana manajemen/kepala perpustakaan harus bisa mengendalikannya.
              Oleh karena itu dalam upaya merubah dan mengembangkan pengelolaan dan layanan perpustakaan diperlukan manajemen/kepemimpinan  yang profesional. Yakni manajemen yang memiliki pemahaman visi (the need for vision) , etika (the need for ethics) , keberagaman budaya (the need for cultural diversity), dan pelatihan (the need for training) (Stoner dan Freeman (1992: 16)
1)      The Need for vision
Manajer/kepala perpustakaan akan membawa perubahan dan pengembangan yang signifikan apabila memiliki visi yang jelas. Oleh karena itu kepala perpustakaan harus mampu melihat jauh ke depan tentang perpustakaan yang dipimpinnya dan tujuan perpustakaan yang akan dicapai. Visi ini akan menjadi acuan utama semua staf perpustakaan itu. Tanpa adanya visi yang jelas dari kepala perpustakaan, maka sumber daya manusia perpustakaan akan melakukan tugas dan pekerjaan yang tidak terarah. Sebab sang komandan tidak bisa membuat perencanaan jangka panjang dan tidak mampu memberikan pengarahan. Sebab kepala perpustakaan itu tidak memiliki ilmu tentang perpustakaan dan buta manajemen. Jadinya, perpustakaan asal jalan meskipun jalan di tempat.
Oleh karena itu, kalau suatu  perpustakaan ingin maju, maka tidak bisa penugasan sebagai kepala perpustakaan asal tunjuk. Cara ini tidak akan membawa perubahan apa-apa. Bahkan akan menjadi masalah. Model seperti  ini perlu dihindarkan.
2)      The Need for ethics
Dalam memenej perpustakaan, diperlukan pemahaman etika. Baik etika lembaga, etika profesional kepustakawanan, maupun  etika komunikasi. Tanpa pemahaman ini, perjalanan kepemimpinan perpustakaan akan terhambat oleh masalah moral. Maka tak heran kalau terjadi pemogokan kerja, protes tersembunyi, bahkan stres terselubung. Hal ini antara lain disebabkan kepala perpustakaan tidak memahami ketiga etika tersebut. Maka dalam melangkah mereka cenderung trunyak trunyuk.
3)      The Need for cultural diversity
Orang-orang yang bekerja di perpustakaan terdiri dari berbagai macam tingkat pendidikan, suku, agama,paham, dan budaya. Faktor ini  harus dipahami oleh manajemen. Untuk itu, manajemen harus memiliki komitmen kuat untuk memberikan perlakuan yang adil tanpa memandang ras, suku, aliran politik, budaya, maupun jenis kelamin. Sebab keberagaman budaya (cultural diversity) ini merupakan kenyataan dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat.
4)      The Need for training
Dalam memenej organisasi, lembaga, maupun perpustakaan diperlukan ketrampilan manajemen tersendiri. Oleh karena itu kepala perpustakaan perlu menyadari akan pentingnya pendidikan lanjut, magang,  pelatihan di dalam organisasi/perpustakaan dan di luar perpustakaan. Pelatihan manajemen ini dilakukan oleh kepala perpustakaan dan staf perpustakaan.
Pelatihan adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memeroleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan (Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 dalam Lasa Hs, 2017)
             
            Lasa Hs
            (Bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar