Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 04 Oktober 2018

AKUR DALAM PERBEDAAN


Kita datang  ke dunia ini memang telah dilahirkan berbeda; jenis kelamin, rupa, suara, sifat, dan watak. Kita memang beda suku, bahasa, budaya, dan paham. Perbedaan ini kadang menjadi perpecahan bagi suatu bangsa apabila tidak bisa menyikapinya. Namun demikian di satu sisi, perbedaan itu justru sebagai rahmat dan keindahan dalam kehidupan suatu bangsa apabila mampu menyikapinya dengan arif. Disinilah pentingnya saling memahami perbedaan diantara kita. Allahpun menegaskan adanya perbedan itu dan perlunya saling memahami dan menghormati perbedaan itu. Firman Allah Swt dalam  Q.S.Al Hujurat: 13 yang artinya:”Wahai manusia . Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”. Perbedaan agama, paham, dan pilihan semestinya dapat menjadikan dinamika kehidupan dan bukannya mendatangkan perpecahan. 
          Dalam hidup bermasyarakat , berbangsa, dan bernegara, kita tidak bisa hidup satu partai dan kelompok secara sendirian. Kehidupan ini memerlukan bantuan dan pertolongan pihak lain. Maka disinilah perlu dipahami hak dan kewajiban dalam bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa.
          Diantara hak dan kewajiban tersebut ialah agar sesama kita itu saling menghormati kedaulatan, wewenang, dan hak orang kain, Sesama kita tidak pantas saling mengolok-olok, saling merendahkan, saling menghina, merasa lebih hebat dari yang lain tentang kehidupan pribadi, kelompok maupun kehidupan politik. Sangat mungkin bahwa kelompok maupun individu yang dihina itu justru lebih baik dari individu atau kelompok yang mengolok-oloknya. Dalam hal ini, baiklah kita pahami dan renungkan firman Allah Swt: Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperlok-olokan) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok, dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) itu lebih baik dari mereka (yang diperolok-olokkan). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim” (Q.S. Al Hujurat: 11)..
Kecenderungan untuk menghina itu sebenarnya menunjukkan kekerdilan jiwa seseorang dan sempitnya wawasan dalam bermasyarakat dan bernegara. Suka mencari-cari kesalahan pihak lain itu pada hakikatnya adalah usaha menutupi borok sendiri.
Merendahlah pihak lain, menuduh, maupun mengumpat pada dasarnya juga menyangkut diri sendiri. Maka perbuatan ini diibaratkan makan bangkai saudaranya sendiri yang tentunya tidak dikehendaki oleh siapapun.

Lasa Hs.


Jum’at Cerah

0 komentar:

Posting Komentar