Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 19 Oktober 2018

Antisipasi Konflik : Tulisan ke 4



Terjadinya konflik dapat diantisipasi sedini mungkin. Antisipasi ini dapat dilakukan antara lain dengan cara memahami ekspresi seseorang. Ekspresi konflk dapat diketahui secara jelas, tersembunyi, pasif, dan agresif (Lasa Hs., 2016)
1.Jelas
Konflik ini disebut juga dengan konflik terbuka. Ekspresi konflik terbuka ini bisa dalam bentuk sikap yang agresif seperti ejekan, olok-olokan, kritik yang tidak jelas atau WTS (waton suloyo), teriakan, maupun tindakan kekerasan.
Konflik semacam ini  dapat disaksikan pada pertandingan sepak bola atau pertarungan tinju. Para bebotoh kadang saling mengejek, melempar batu, mencegat sebelum, saat , atau sesudah bertanding.
2. Agresif
Konflik ini diekspresikan dalam bentuk sopan santun yang dibuat-buat, pura-pura taat, tidak mau bicara, bahkan diajak makan pun tidak mau. Kalau dibiarkan konflik ini akan berkembang, karena mereka di belakang suka kasak kusuk.
3.Pasif
Konflik ini diekspresikan dalam perilaku diam, tidak mau bekerjasama, tidak mau membantu, datang terlambat, sering membolos dengan alasan yang tidak jelas. Kalau rapat mesti pamit. Pagi datang, siang pergi tak jelas menurus apa. Nanti menjelang pulang datang lagi untuk presensi.
4.Tersembunyi
Sebenarnya konflik ini merupakan lanjutan konflik agresif. Namun dalam ekspresinya tidak terus terang. Ekspresi konflik ini dapat dikenali dari bentuk komentar yang sekedar cari-cari masalah, kritikan asal-asalan, mencela, dan terus menerus mencari kesalahan pihak-pihak yang tidak sependapat. Mereka yang tidak sependapat cenderung dianggap sebagai kompetitor, penghalang, bahkan dianggap musuh   
Bersambung

Lasa Hs


SEPUTAR  KONFLIK
Tulisan - 5
        Solusi Konflik


Perbedaan pendapat, salah paham, dan beda keinginan dalam suatu lembaga/perpustakaan merupakan hal lumrah terjadi, dan kewajaran dalam kehidupan ini. Namun konflik ini apabila tidak diantisipasi dan dicari solusinya, maka bisa menimbulkan perpecahan bahkan permusuhan yang berlarut-larut. Dalam hal ini Lubatoruan dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 8 (1990: 98) memberikan saran penyelesaian konflik antara lain  dengan:
1.     Mengidentifikasi tingkat konflik;
2.     Mencegah pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan;
3.     Memelajari kemungkinan perlunya penetapan sanksi kepada pihak yang terlibat;
4.     Berusaha memadukan persepsi kedua pihak agar masing-masing memahami dasar pemikiran pihak lain;
5.     Mencari jalan keluar dengan meminta toleransi kedua belah pihak demi kepentingan organisasi (perpustakaan);
6.     Memberi umpan balik kepada kedua belah pihak agar masing-masing menyadari kekurangannya dan dapat mencegah timbulnya konflik yang bisa menimbulkan keadaan negatif di masa mendatang.
Memang banyak teori yang dikemukakan beberapa penulis dan pakar untuk mengantisipasi dan sebagai solusi suatu konflik. Dalam teori lain disebutkan bahwa konflik dapat diatasi dengan cara negoisasi, kompetisi, akomodasi,smoothing, menghindar, dan kolaborasi.
1.     Negoisasi
Negoisasi ini bisa disebut pula dengan kompromi. Kompromi merupakan penyelesaian konflik ketika semua pihak yang terlibat saling menyadari dan sepakat pada keinginan bersama. Penyelesaian dengan strategi ini sering diartikan dengan lose-lose situation. Yakni kedua belah pihak yang terlibat saling menyerah dan menyepakati yang yang telah diperbuat.
2.     Kompetisi
Strategi kompetisi ini bisa disebut cara penyelesaian konflik dengan win-lose situation. Dalam penyelesaian konfik ini menekankan hanya ada satu orang, pihak, atau kelompok yang menang tanpa mempertimbangkan pihak yang kalah. Akibat negatif dari strategi ini adalah timbulnya kemarahan, putus asa, bahkan kerusuhan di kemudian hari;
3.     Akomodasi
Teori akomodasi ini bisa disebut dengan penyelesaian konflik dengan cooperative situation. Pada strategi ini seseorang berusaha  mengakomodasi permasalahan dan memberi kesempatan pihak lain untuk menang. Pad cara ini, masalah utama yang terjadi sebenarnya tidak terselesaikan. Strategi ini biasanya digunakan oleh partai politik atau kelompok-kelompok yang berebut kekuasaan dengan segala cara dan konskuensinnya;
4.     Smoothing
Teknik ini merupakan cara penyelesaian konflik dengan cara mengurangi komponen emosional dalam konflik. Pada strategi ini, individu yang terlibat dalam konflik berupaya mencapai kebersamaan dari perbedaan dengan penuh kesadaran dan introspeksi diri. Strategi ini biasanya diterapkan pada konfik yang ringan.
5.     Menghindar
Pada strategi ini, semua pihak yang terlibat dalam konflik menyadari tentang masalah yang dihadapi. Namun mereka memilih menghindar atau sengaja tidak menyelesaikan masalah. Strategi ini kalau tidak hati-hati sewaktu-waktu dapat muncul kembali
6.     Kolaborasi
Strategi ini sering disebut cara penyelesaian konflik dengan istilah win-win solution. Dalam strategi ini, kedua belah pihak yang terlibat menentukan tujuan bersama dan bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan. Keduanya yakin akan bisa mencapai tujuan bersama itu. Strategi kolaborasi tidak akan bisa berjalan apabila kompetisi insentif sebagai bagian dari situasi tersebut, kelompok yang terlibat tidak mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan masalah, dan tidak adanya kepercayaan dari kelompok (Bodwdtich dan Buono, 1994 dalam Nursalam, 2015).

          Selesai
         
Lasa Hs


0 komentar:

Posting Komentar