Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 04 Oktober 2018

KEBOHONGAN ITU KEJAHATAN (Tulisan – 1)


Kebohongan merupakan penyakit kejiwaan manusia dan sekaligus penyakit kronis masyarakat yang akibatnya dapat menurunkan kredibiltas seseorang dan menggerus kepercayaan masyarakat. Kebohongan adalah memberikan sesuatu (perkataan, pernyataan, perilaku) lisan maupun tertulis yang berlainan dengan keadaan yang sebenarnya.
Orang-orang yang tamak harta, kekuasaan, jabatan, kehormatan kadang tidak segan-segan melakukan kebohongan untuk meraih maupun mempertahankan jabatan. Mereka tak malu memalsu ijasah, memalsu tanda tangan, merubah nama atau tanggal lahir misalnya.
Orang berlaku bohong lantaran ketidakberdayaan dalam mengendalikan hawa nafsu terutama syahwat politik, nafsu kekuasaan, gengsi, maupun kelompok. Pada saat itu hati nurani manusia tertutup oleh berbagai kepentingan duniawiyah, sehingga hati nuraninya tidak mampu membuat keputusan yang jernih. Seharusnya hati nuranilah yang harus memberikan keputusan terakhir dalam menentukan suatu tindakan. Sebab hati nurani yang sehat (tidak kena penyakit hati) itu sesungguhnya tidak pernah bohong. Hati nurani ini dapat memutuskan sesuatu dengan tepat dan mengetahui persis mana yang baik dan mana yang buruk.
Besar kecilnya dampak kebohongan dipengaruhi oleh status dan peran seseorang  dalam struktur masyarakat. Kebohongan yang dilakukan oleh orang yang memiliki status sosial tinggi dalam masyarakat (public figure) maka akan memengaruhi imej masyarakat terhadap kedudukan tersebut. Sebaliknya kebohongan yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki status sosial tinggi, maka hal ini tidak banyak memengaruhi imej masyarakat pada orang itu.
Namun demikian, pada hakekatnya kebohongan adalah penipuan pada diri sendiri dan dampaknya akan menimpa orang lain. Masyarakat tidak mempercayainya lagi dan akan menurunkan status sosial diri, bahkan keluarga juga kena dampaknya. Mereka itu sebenarnya tertipu oleh nafsunya (duniawiyah, syahwat politik, jabatan, harta) sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Baqarah: 8 – 9, yang artinya:” Dan diantara manusia ada yang mengatakan bahwa aku iman kepada Allah dan hari akhir, namun sebenarnya mereka itu tidak beriman/mempercainya. Mereka itu menipun Allah dan orang-orang mukmin, mereka itu sebenarnya menipu diri sendiri akan tetapi mereka tidak merasa (tidak menyadari)”.
Memang dalam penampilannya (performance) nampak beriman kepada Allah Swt dan hari kiamat. Namun dalam tindakan, perkataan, dan perilakunya sama sekali bertentangan dengan penampilan itu. Hal ini merupakan kebohongan dan menipu diri sendiri dan masyarakat luas. Justru perilaku seperti inilah yang sebenarnya menjermuskan diri ke lembah kesengsaraan sebagai akibat rekayasanya sendiri.
Begitu besar dampak kebohongan pada diri dan masyarakat. Oleh karena itu, Rasulullah Saw menekankan pentingnya kejujuran dan mengingatkan kepada kita agar menjauhi kebohongan. Beliau bersabda :”Hendaklah kamu sekalian selalu berlaku jujur, sebab kejujuran itu akan menuju pada kebaikan, dan kebaikan akan menuju ke surga. Dan senantiasalah seseorang berlaku benar dan berusaha kebenaran sehingga dicatat sebagai orang benar di sisi Allah. Hendaklah kamu sekalian menjauhi kebohongan, sebab kebohongan itu akan menuntun kamu sekalian pada kejahatan, dan kejahatan itu aan menuju ke neraka. Orang-orang yang berbuat kebohongan dan selalu  bohong, maka juga selalu berupaya berbuat kebohongan, maka mereka itu akan dicatat sebagai pembohong di sisi Allah Swt ( HR.Bukhari dan Muslim).
Bersambung

Lasa Hs.


0 komentar:

Posting Komentar