Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 11 Oktober 2018

KEBOHONGAN ITU KEJAHATAN Tulisan – 2 Efek Kebohongan


Kebohongan bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat, etika politik, dan tatanan negara. Korupsi, penggelapan, manipulasi, penyuapan, make up anggaran, fitnah, dan memutarbalikkan fakta merupakan bentuk kebohongan yang meresahkan masyarakat dan merusak citra diri.
Munafiq
          Apa yang dikatakan itu berbeda dengan kenyataan dan bertentangan dengan hati nurani itu namanya kebohongan. Inilah kebohongan dan dapat dikategorikan sikap nifaq  dan orang yang melakukannya disebut munafiq. 
          Dalam Tafsir at-Tanwir ( 2016) Juz 1 : 121 dijelaskan bahwa kata munafiq  merupakan kata benda (pelaku) dari sebuah perbuatan nifaq  (kemunafikan). Kata munafiq  berasal dari kata nafaqa yang secara umum berarti lewat dan lepas. Dalam bahasa Arab, sesuatu yang “lewat dan lepas” seperti yang diungkapkan dengan kata nafaqa  berhubungan dengan persoalan jual beli (al ba’i), atau kemusnahan  (al-fana’) , dan kematian (al-maut). (lihat al –Mufradat  fi Gharib al – Qur’an: 502). Penggunaan kata ini menunjukkan bahwa makna “lewat dan lepas” itu terjadi setelah adanya kemeriahan, eksistensi, dan kehidupan. Pengertian ini dapat dilihat penggunaan ungkapan nafaq al-qaum  yang berarti pasar mereka telah mati. Begitu juga pada ungkapan afaqat  ad-darahim yang berarti uang telah habis. Dari beberapa pegertian ini, maka munafiq  adalah orang yang telah kehilangan kemeriahan, eksistensi dan kehidupannya, baik dari sisi akidah maupun amaliyahnya. Maka menurut pendapat Ibnu Katsir, nifaq itu ada nifaq i’tiqadi (nifaq dalam akidah dan nifaq ‘amali (nifaq dalam perbuatan).
Agar kita terhindar dari kebohongan dan  nifaq  kiranya perlu dipahami  
indikator orang-orang munafik. Untuk itu Rasulullah Saw memberikan penjelasan tentang indikator orang-orang munafiq dalam sabdanya:” Empat sifat apabila terdapat pada seseorang maka dapat disebut munafik sejati, apabila memiliki salah satunya maka ia menyandang satu sifat munafik sampai ia meninggalkannya; 1) apabila dipercaya/diberi kepercayaan (jabatan, kedudukan, kepemimpinan) maka dia berkhianat; 2) apabila berbicara (memberikan pernyataan,statemen) dia berdusta/bohong; 3) apabila berjanji, dia menginkari; 4) apabila bermusuhan (konflik , beda pendapat, beda pilihan) dia berbuat fajir (memutarbalikkan fakta, membuat fitnah “ (HR Bukhari nomor 34, dan HR Muslim nomor 58)

Melakukan kebohongan
Ketika mereka itu berbicara, membuat pernyataan,  gertak sambal, maka hal itu berbeda dengan yang sesungguhnya/fakta atau berbeda dengan hati nurani yang bersih. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Q.S. al-Baqarah: 14 yang artinya:”Dan apabila mereka bertemu orang-orang beriman. Mereka mengatakan/menyatakan : “Kami telah beriman”, dan apabila mereka itu kembali kepada syetan-syetan (kroni-kroni)  mereka, mereka mengatakan :” Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu,kami hanyalah berolok-olok”. 
          Dalam salah satu riwayat  disebutkan bahwa suatu ketika ‘Abdullah bin Ubay (tokoh munafiq dan pembuat hoaks) bertemu Abu Bakr ash-shiddiqi berjabat tangan dan mengatakan :”Selamat wahai Penghulu Bani Taim dan Syaikhul Islam, orang kedua beserta Rasulullah di Gua Tsur, dan yang mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk Rasulullah”. Kemudian dia bertemu ‘Umar bin Khattab r.a. berjabat tangan dan berkata :” Selamat Penghulu Bani ‘Adi bin Ka’ab, yang mendapat gelar “al Faruq”, yang kuat memegang agama Allah, yang mengorbankan jiwa dan hartanya untuk Rasulullah”. Setelah itu Abdullah bin Ubay si tokoh pembohong itu bertemu ‘Ali bin Abi Thalib r.a. dan besalaman lalu menyatakan :”Selamat saudara sepupu Rasulullah, menantunya, dan Penghulu  Bani Hasyim sesudah Rasulullah:. Setelah bertemu dengan 3 orang sahabat utama Rasulullah itu, lalu Abdullah bin Ubay bertemu teman-temannya yang munafiq lalu mengatakan :”Sebagaimana kalian lihat tadi akan perbuatanku. Maka bila ketemu mereka, berbuatlah seperti yang baru saja saya lakukan”. Lalu kroni-kroninya itu memuji-muji perilaku si munafiq ini. Di satu pihak,maka ketiga sahabat (Abu Bakar, ‘Umar bin Khathab, dan’Ali bin Abi Thalib) sowan kepada Rasulullah s.a.w. memberitahukan perihal pertemuannya dengan ‘Abdullah binUbay. Kemudian turunlah Q.S. al –Baqarah ayat 14 yang membeberkan kebohongan dan kepalsuan orang-orang munafiq dalam menghadapi kaum Muslimin.    (Asbabun Nuzul, 2000: 13-14).
Kebohongan adalah bentuk penipuan, baik secara lisan maupun perbuatan. Maka perlu kita jaga lisan, perkataan, SMS, WA, dan statemen kita. Hal ini sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah S.a.w. dalam sabdanya:”Siapa yang mampu menjaga lisannya, maka Allah akan menutupi ‘aibnya, siapa yang mampu mengendalikan amarahnya, maka Allah akan melindunginya dari siksaan, siapa yang mengakui kesalahan lalu mohon ampun, maka Allah akan mengampuninya (ditahrij Ibnu Abi ad Dunya dalam ash-shumt  dengan sanad yang hasan).  
          Penipuan dan kebohongan itu bisa berupa tindakan. Suatu ketika Rasulullah Saw pergi ke pasar. Saat itu beliau mendapatkan seorang penjual makanan. Makanan yang baik ditaruh di atas dan yang jelek ditaruh di bawah/disembunyikan. Melihat keadaan ini, lalu Rasulullah menegur “ Apa ini wahai penjual makanan ?. Penjual itu menjawab :” Terkena hujan ya Rasulullah.  Kemudian Rasulullah Saw memberikan nasihat :”Mengapa (makanan yang kena hujan) itu tidak kamu letakkan di atas agar diketahui orang (yang akan membelinya) ?.Siapa yang menipu, maka orang itu tidak termasuk  golonganku “. (HR Muslim nomor 102). 
Bersambung

Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar