Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 26 Oktober 2018

KETEGUHAN SEORANG HAMKA



Judul           : Jalan Cinta Buya
Penulis: Haidar Musyafa
Penerbit: Tangerang Selatan: Imania, 2017
ISBN : 98-602-7926-32-5
Tebal: 524 halaman
Umat Islam Indonesia bangga pernah memiliki ulama kharismatik, multitalenta, toleran, dan teguh pendirian. Adalah Buya Hamka  yang memiliki prinsip, keteguhan, keuletan, dan ketawakalan yang tinggi. Beliau merupakan putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, bahkan Asean dan muslim Jepang.
Dalam perjalanan hidupnya beliau menunjukkan sikap toleran kepada kawan yang beda pendapat. Beliau sangat dekat dengan K.H.Idham Khalid seorang tokoh NU. Apabila keduanya bertugas dakwah berbarengan di suatu daerah, dan Buya menjadi imam shalat Shubuh, maka beliau mengunakan do’a qunut. Hal ini untuk menghormati rekannya (KH Idham Khalid) yang biasa shalat shubuh dengan membaca qunut. Sebaliknya apabila KH Idham Khalid menjadi imam shalat Shubuh, maka beliau tidak membaca do’a qunut. Sikap ini untuk menghormati Buya Hamka yang biasanya shalat Shubuh tidak menggunakan do’a qunut.
Meski beda pendapat bahkan pernah hidup di penjara pada rezim Soekarno, Hamkapun tidak dendam dan tetap baik kepada mereka yang tak sepaham. Buktinya ketika Bung Karno wafat dalam usia 69 tahun. Hamkalah yang menjadi imam shalat jenazah di Wisma Yaso. Seusai melaksanakan shalat jenazah, Hamka bergabung dengan para tokoh penting yang sudah hadir lebih dulu. Banyak orang memuji dan menyanjungnya atas sikap kepada orang yang pernah memenjarakannya selama 2 tahun 6 bulan. Namun ada juga seseorang yang menanyakan sikap Hamka ini, katanya :” Apakah Hamka tidak dendam atau sakit hati dengan Bung Karno?. Padahal dia yang memerintahkan untuk menangkap dan memasukkan Buya Hamka ke dalam tahanan ?. Orang itupun masih mlanjutkan protesnya “Bung Karno itu adalah seorang munafik, karena menginkari ajaran agamanya sendiri dan membela kepentingan orang-orang komunis. Mengapa Buya Hamka yang seorang ulama alim dan pernah didzalimi oleh Bung Karno bersedia menjadi imam shalat jenazahnya?. (halaman 432). Mendengar klaim seperti ini, ulama tersohor ini memberikan penjelasan dengan tenang, katanya:” Sungguh, hanya Allah Ta’ala yang Mengetahui, apakah seseorang itu munafik atau tidak. Yang Jelas, sampai Bung Karno meninggal dunia, aku melihat beliau masih tetap sebagai seorang Muslim. Oleh karena itu, kita sebagai sesama Muslim berkewajiban untuk menyempurnakan jenazah beliau dengan cara yang sebaik-baiknya, termasuk menshalatkan jenazahnya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam. Selain itu, Bung Karno adalah orang yang memiliki jasa besar untuk rakyat negeri ini, khususnya umat Islam di Indonesia. Berkat usaha dan kerja keras Bung Karnolah dua masjid megah berdiri di negeri ini. Satu masjid Baiturrahim yang ada di kompleks Istana Negara Jakarta dan satunya lagi adalah Masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar dan termegah di seluruh Asia Tenggara. Sebagai rakyat biasa, aku hanya bisa berdo’a, semoga dengan adanya dua masjid itu Allah Ta’ala mencatat Bung Karno sebagai seorang yang memiliki tabungan amal jariyah, sehingga ruhnya mendapat tempat terbaik di sisiNya” (halaman: 433).  
Selayaknya tak perlu saling manyalahkan masalah furu’iyah. Saatnya kita toleran terhadap perbedaan, dan bukannya membesar-besarkan perbedaan, apalagi mencari-cari kelemahan pihak lain hanya untuk kepentingan sesaat.  
            Dalam buku berbentuk novel biografi ini dijelaskan betapa teguhnya seorang Buya Hamka dalam memegang prinsip yang tidak larut oleh kepentingan sesaat (jabatan, politik, popularitas, dll) . Suatu ketika dr. Tarmizi Tahir (saat itu sebagai Menteri Agama RI) menanyakan kepada beliau mengapa beliau mundur dari jabatan  Ketua  Majelis Ulama Indonesia/MUI (Hamka sebagai ketua MUI pertama kali). Buya pun menyatakan :”Tarmizi, Ulama itu tidak boleh dipaksa-paksa. Ulama itu yang justru dengan ilmu dan ijtihadnya yang harus memaksa umat yang salah agar bersedia mengakui kesalahannya dan kembali pada jalan yang benar” (halaman:: xx).
            Penulis Tafsir Al Azhar itu sejak 1942 telah bersahabat akrab dengan Bung Karno dan Haji  Karim Oei (nama lengkap  Oei Tjen Hien), saat itu Bung  Karno sebagai tahanan politik Belanda. Sedangkan Hamka sebagai aktivis Muhammadiyah dan penulis muda yang sangat produktif. Kecuali berjuang dengan pena, beliau juga bergabung dalam Barisan Pertahanan Nasional (BPN) dan Front Pertahanan Nasional (FTN). Ketika berjuang di medan perang itu, beliau juga harus membahagiakan isteri dan putra-putranya yang masih kecil.
Sebagai seorang manusia, kadang muncul keraguan dalam hatinya. Mana yang harus dipilih antara berjuang membela negara atau menghidupi isteri dan anak-anak yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua. Dalam kebimbangan ini, beruntunglah Hamka memiliki istri yang shalihah, tabah, dan tawakal dan memotivasi suami untuk berjuang mengenyahkan ketidak adilan. Ketika Buya akan berangkat ke medan perang dan pamit pada Siti Raham (istri Hamka). Siti Rahampun menyatakan:”Selama ini aku selalu berusaha untuk menunaikan amanah Engku Haji dengan sebaik-baiknya. Selama Engku Haji berada di luar rumah, saya selalu membimbing anak-anak untuk belajar dan mengaji. Saya ingin anak-anak tumbuh menjadi anak yang shaleh dan berbakti pada kedua orang tua, juga berguna bagi agama dan negara seperti harapan Engku Haji selama ini “. (halaman :104)
Novel biografi ini mengisahkan perjalanan hidup seorang Hamka yang mengalami berbagai penderitaan, kesedihan, dan fitnah. Duka dan derita dirasakan sebagai seorang pejuang kemerdekaan dan kebenaran. Ketika di Maninjau (1948) beliau berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Jakarta, 1950
            Atas dorongan Bung Karno, Hamka dan keluarga diminta hijrah ke Jakarta. Di Ibu kota RI ini, Hamka memulai karir sebagai pegawai Kemenag RI, penulis, sastrawan, ulama, pemikir, dan penceramah. Hamka bukan hanya milik bangsa Indonesia, namun kiprahnya dikenal luas di mancanegara seperti Malaysia, Brunei, dan Jepang.
            Sebenarnya ketika mendapat surat dari Bung Karno agar pindah ke Jakarta, Hamkapun ragu-ragu atas tawaran itu. Beliaupun minta pendapat kepada kakak iparnya yakni Kiyai Haji Sutan Mansyur. Tokoh Muhammadiyah ini menyatakan :” Sebaiknya kamu turuti saja permintaan Presiden Soekarno, dinda Hamka. Saya yakin, jika kamu menuruti permintaan proklamator kemerdekaan Indonesia itu, maka kamu akan mendapat banyak hikmah nantinya”.(halaman 107)
            Buku kisah ulama besar yang ditulis dalam bentuk novel oleh Haidar Musyafa ini sangat menginspirasi pembaca tentang semangat berjuang, nilai-nilai istiqomah, kesabaran, katawakalan, dan sabar menghadapi perbedaan pendapat. Memang karya penulis muda berbakat ini merupakan karya yang memikat, ditulis dengan bahasa yang apik, menarik, sehingga seorang pembaca seolah-oleh menyimak penuturan seorang tokoh yang ditulisnya.

Lasa Hs


0 komentar:

Posting Komentar