Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 01 Oktober 2018

PERUBAHAN MENUJU KEMAJUAN Tulisan - 2



Perubahan itu dari diri sendiri

Untuk merubah sikap dan tindakan orang lain, lembaga, atau masyarakat yang dipimpin perlu dimulai dari diri sendiri. Oleh karena itu hanya orang yang bisa menjadi contoh/panutanlah yang akan mampu merubah pihak lain. Sebab mereka telah berhasil merubah cara berpikir dan bertindak diri sendiri. Mereka mampu menjadi contoh dan mampu memengaruhi orang lain berkat kemampuan menempa dirinya dalam mengatasi berbagai persoalan dan penderitaan/cobaan. Hal ini sebagaimana dikatakan Lukman Al-Hakim yang pernah berwasiat kepada putraya :”Wahai anakku! Keahuilah, apabila emas itu ditempa/diuji dengan api,maka manusia itu diuji dengan bala’ (cobaan, penderitaan) (Al Far, 2008: 37).
Mereka yang mampu dan sukses memimpin menuju perubahan itu mengalami proses panjang. Kesuksesan merupakan buah komitmen dan proses terus menerus untuk mencapai suatu tujuan. Mereka itu ibarat besi yang dibakar dan ditempa dengan berbagai penderitaan dan ternyata lolos dari segala percobaan (difitnah, dipenjara, dimusuhi, dicaci maki dan lainnya). Mereka menjadi hebat.
Menjadi orang hebat tidak harus pintar secara akademik dan tidak harus memiliki jabatan tertentu. Sebab kenyataan lapangan menunjukan bahwa  tidak sedikit orang-orang pintar justru untuk membodohi orang lain seperti plagiasi, pemalsuan ijasah, korupsi, menyuap, melakukan kebohongan publik, dan lainnya. Berjajarnya gelar di depan dan di belakang namanya, jabatan tinggi, maupun kekayaan luar biasa belum tentu menjadi orang hebat, kalau semua itu diperoleh dengan cara-cara kebohongan dan mendhalimi orang lain.
Orang akan mampu merubah diri sendiri apabila ; visioner, optimis, berani  menghadapi resiko, mampu membaca peluang, mengedepankan negoisasi, dan bekerja profesional (kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja keras).
1.      Visioner
Orang yang sukses antara lain ditunjukkan cara pandang kehidupan terhadap suatu bidang, pekerjaan, atau tugas. Mereka yang mampu memandang kehidupan (bidang, keilmuan, pekerjaan,dan jabatan) dengan pandangan jauh ke depan/visioner adalah mereka yang berhasil. Mereka yang memandang kehidupan tersebut dengan pandangan yang pendek, maka mereka hanya akan memeroleh keberhasilan yang semu. Apabila kita memandang kehidupan ini dengan pandangan jauh ke depan/visioner, maka tujuan jangka pendek/dekat akan tercapai juga.
2.      Optimis
Sikap optimis adalah sikap individu yang berkeyakinan bahwa masalah yang dihadapi akan membawa keberhasilan, manfaat, dan keberuntungan dalam arti luas. Optimisme merupakan energi yang mampu mendorong manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Para orator maupun para penulis besar mampu mengubah dunia dengan kemampuan berkomunikasi (lisan dan tulis). Mereka berani menghadapi resiko dan mampu memberikan solusi lantaran optimisme yang mereka miliki, jauh sebelum mereka dikenal orang.
        Optimisme  atau berpikir positif (positive thinking, khusnudz dzon) merupakan formula atau sistem yang memandang segala sesuatu itu dari segi baiknya saja meskipun orang lain memandang buruk. Orang optimis selalu berharap bahwa semuanya berakhir baik. Mereka yang optimis akan mencapai keberhasilan bahkan sebelum melakukan kegiatan. Mereka menang (mengalahkan diri) sebelum perang (menghadapi tantangan). Orang optimis akan berpikir positif dan itu menjadi kunci sukses menghadapi stres. Mereka yang optimis akan mampu menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan sikap positif dan produktif.
Menurut Victor Frankl dalam Rafanani (2017: 37) menyatakan bahwa sikap optimis itu dapat dimunculkan dimana saja, bahkan dalam penderitaan sekalipun. Dari pandangan ini  kemudian memunculkan pendekatan logoterapi dalam psikologi. 
Sebaliknya mereka yang pesimis hanya akan menjadi pecundang, selalu mengeluh, menyalahkan pihak lain, ngambek, dan mati sebelum perang. Bahkan mereka sering menyalahkan diri sendiri atas kegagalannya. Mereka beranggapan bahwa yang namanya kemalangan itu sudah nasib, akibat ketidakmampuan, atau suatu yang sudah digariskan dari sananya.
Optimisme akan menghasilan enerji positif, tetapi pesimisme akan menguras energi dengan membuang-buang yang ada. Optimisme menuntun ke depan, tetapi pesimisme mendorong ke belakang, bahkan jauh tertinggal/terbelakang dan akan menjadi orang-orang yang neoric (Rafanani,2017: 17).
3.      Berani menghadapi resiko
Salah satu hal yang membedakan orang sukses dan gagal adalah keberanian menghadapi resiko. Orang yang berhasil antara lain berani memperjuangkan ide, cita-cita, tujuan, dan  berani menghadapi resiko yang telah diperhitungkan, dan berani bertindak.
Sekedar contoh orang yang berani menghadapi resiko adalah Wright bersaudara.Kakak beradik ini berani mempertaruhkan nyawanya untuk membuktikan  teorinya/gagasannya bahwa mesin yang lebih berat dari udara itu bisa terbang.Mereka berdua nekad melakukan percobaan itu meskipun nyawa taruhannya. Saat itu sebagian besar ilmuwan menyangsikan keberhasilannya. Namun berkat percaya diri dan berani menghadapi resiko, maka penemuan kakak beradik itu dapat kita nikmati bersama melaui penerbangan.
4.      Mampu membaca peluang
Salah satu indikator untuk menuju perubahan dan perkembangan adalah mampu membaca peluang. Betapa banyak diantara pimpinan perpustakaan yang tidak bisa membaca peluang. Kalau pun toh mampu melihat peluang, maka belum tentu bisa memanfaatkan peluang, apalagi mengembangkan peluang. Bahkan tidak mungkin mampu menciptakan peluang. 
Peluang itu harus dicari dan dimanfaatkan secara baik. Beberapa peluang misalnya kebijakan pimpinan lembaga, adanya sponsor, adanya diklat, nama lembaga, dan lainnya.
5.      Bekerja profesional
Sekecil  apapun suatu bidang, pekerjaan,  kalau dilakukan secara tekun,telaten, dan dengan pengetahuan yang memadai, maka akan mencapai keberhasilan. Keberhasilan tidak harus diukur dengan melimpahnya uang dan tingginya jabatan. Keberhasilan dapat diukur dari pencapaian passionnya. Sedangkan passion itu tidak akan jatuh dari langit dan tidak mungkin begitu mudah tumbuh dari bumi. Untuk muwujudkan passion, orang harus mau bekerja ikhlas, bekerja, cerdas, dan bekerja keras.
        Robert Munsch (Rafanani, 2017:11) si penulis cerita anak-anak itu ternyata telah malang melintang menempuh lika liku kehidupan untuk menemukan passionnya. Beliau menyatakan :”Aku  pernah belajar untuk menjadi seorang pendeta namun semuanya berakhir berantakan. Kemudian aku mencoba bekerja di peternakan, ternyata mereka tidak menyukaiku. Setelah itu, aku bekerja di kapal, kebetulan kapalnya tenggelam. Aku juga mencoba berbagai hal yang berbeda  dan ternyata semua itu tidak berjalan secara baik. Namun demikian aku tidak menyerah. Aku justru terus berusaha dan berusaha yang akhirnya aku menemukan sesuatu yang bisa berhasil dengan baik”. Ternyata Robert Munsch menemukan passionnya sebagai penulis cerita anak-anak.  Robert telah menjual bukunya lebih dari 40 juta buku di 20 negara.

Lasa Hs
Bersambung


0 komentar:

Posting Komentar