Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Selasa, 02 Oktober 2018

PERUBAHAN MENUJU KEMAJUAN Tulisan – 3 Efek Samping Perubahan


Kata sebagian orang, tiada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Artinya dalam kehidupan manusia diperlukan adanya perubahan terus menerus. Perubahan pada diri seseorang akan memengaruhi perubahan pada lingkungan dan kinerja lembaga (perpustakaan) . Kemudian dalam dimensi kepustakawanan (ilmu perpustakaan, profesi pustakawan, dan perpustakaan) perubahan itu meliputi dua dimensi. Yakni dimensi berubah dengan inovasi dan dimensi dirubah oleh keadaan dan situasi. Kalau dunia kepustakawanan tidak berusaha berubah dengan kreativitas, keberanian, dan inovasi baru, maka dalam perjalanannya akan dirubah oleh berbagai  faktor, profesi, atau orang  lain.
            Perubahan kepustakawanan merupakan keniscayaan karena faktor internal dan eksternal. Tuntutan perubahan internal didorong adanya perkembangan ilmu pengetahuan, profesi, dan sistem layanan. Kemudian perubahan eksternal didorong oleh tuntutan kualitas akses informasi masyarakat, perkembangan profesi lain, dan perkembangan teknologi informasi. Apabila profesi kepustakawanan tidak berani dan tidak sinergi, maka akan diintervensi oleh profesi lain. Bahkan lahan pustakawan  digusur dengan berbagai peraturan dan kebijaksanaan. Undang-undang  dan peraturan pemerintah kadang dikalahkan oleh keputusan menteri. Katanya langkah ini untuk sementara atau sekedar tanggap darurat.  
Penggusuran mereka ini sekedar akal-akalan lantaran lahan mereka sudah sumpek dan berdesak-desakan penghuni.. Saking banyaknya penghuni, maka banyak yang tidak kebagian lahan. Padahal butuh makan (tunjangan).  Akhirnya mereka bingung takut tunjangannya dicopot. Maka perpustakaanlah tempat berlindung biar tidak kejatuhan genting apabila terjadi    gempa. Keadaan ini terjadi hampir di semua jenis perpustakaan di negeri ini, baik perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, perpustakaan kabupaten/kota, maupun  perpustakaan perguruan tinggi.
Pengembangan profesi kepustakawanan mungkin semakin terdesak oleh suatu kebijakan.Yakni kebijakan yang  tidak ngopeni anak sendiri (pustakawan terdidik), tapi  justru ngopeni anak orang lain (pustakawan kurang terdidik, pustakawan kagetan,pustakawan glundung pringis). 
            Di satu sisi juga terjadi,bahwa ada orang-orang yang perlu jabatan lantaran ada DUK (daftar urutan kedekatan} dengan top management . Nah, di beberapa pos jabatan sudah penuh. Perpustakaanlah mungkin yang pas untuk orang-orang ini.
Perubahan dari faktor eksternal ini perlu diantisipasi dan dicari solusinya.Apabila pengaruh luar itu tidak dicari solusinya, maka profesi kepustakawanan akan terpinggirkan. Oleh karena itu segala bentuk intervensi dan pengebirian profesi itu harus diminimalisir oleh pustakawan , kalau profesi ini tidak ingin dimarjinalkan.
            Perubahan adalah cara pustakawan mempertahankan diri sabagai tenaga profesi, tenaga fungsional, dan tenaga kependidikan di era global ini. Di era ini, pustakawan harus mau bekerja keras bersinergi untuk tetap eksis dan mampu menunjukkan kinerja yang profesional. Para ilmuwan dan profesional kepustakawanan dalam menghadapi era global ini bukan sekedar ancaman yang dihindari. Tetapi era kesejagatan ini dijadikan tantangan yang harus dihadapi.
            Pustakawan   sebagai fungsional dan profesi merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat maju. Semakin maju masyarakat, semakin banyak membutuhkan  informasi, baik kualitas maupun kuantitas. Di satu sisi, kita perlu memahami bahwa kini masyarakat tengah berubah menuju masyarakat informasi (information society).
            Usaha perubahan menuju keadaan yang lebih baik perlu ditangani secara baik. Apabila penanganan perubahan ini buruk, maka sangat mungkin justru bisa menimbulkan hal-hal yang serius. Hal-hal serius ini misalnya stres, menurunnya motivasi, rendahnya kinerja, kepailitan, bahkan  resistensi terhadap perubahan itu sendiri.
1)      Stres
            Stres adalah situasi ketegangan atau tekanan emosional yang dialami seseorang sebagai akibat adanya tekanan, hambatan, penderitaan, dan kesulitan. Ketegangan ini bisa memengaruhi emosi, pikiran, dan konflik fisik. Bahkan bisa menimbulkan perilaku yang aneh-aneh.Kemudan  orang lain menganggapnya nyleneh.
Stres merupakaan keadaan tertekan baik secara fisik maupun psikologis. Kita kadang tidak bisa terhindar dari tekanan internal maupun eksternal. Bahkan keadaan stres ini kadang kurang kita pahami. Oleh karena itu, perlu dipahami adanya gejala stres antara lain; 1) sesak napas; 2) berkeringat dingin; 3) jantung berdebar-debar; 4) tegang; 5) marah; 6) agresif/melawan.
Dalam mengantisipasi munculnya stres pada diri kita perlu adanya pencegahan. Dalam ilmu kedokteran dan kesehatan sering diingatkan bahwa pencegahan lebih murah dan mudah dari pada pengobatan. Maka cara-cara pencegahan stres antara lain; 1) melakukan relaksasi; 2) melakukan olah raga; 3) menjaga asupan gizi yang seimbang; 4) melakukan rekreasi; 5) berkebun, nenanam bunga; 6) membaca Al Quran; 7) banyak berdzikir; 8) melakukan pekerjaan/kegiatan yang variatif; dan 9) melakukan shalat lail. Shalat ini kadang disebut dengan shalat tahajud. Sungguh besar manfaat dan efek shalat tahajud. Yakni diberikan kedudukan yang terpuji, dimasukkan pada kelompok yang benar, diberikan solusi, dan diberikan pertolongan yang luar biasa. Hal ini sebagaimana tersirat dari Q.S. Al Isra’: 79 – 80, yang artinya: Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah (Muhammad) Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar, dan keluarkan (pula) ke tempat keluar (solusi) yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong (ku)”.
            Stres merupakan fenomena universal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang bisa memberikan dampak negatif pada kehidupan emosi,intelektual, dan kehidupan sosial. Stres emosi misalnya, dapat menimbukan perasaan negatif terhadap diri sendiri atau pada diri orang lain. Stres intelektual akan mengganggu persepsi dan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan stres sosial dapat mengganggu hubungan individu dalam kehidupan (Rasmun,2009).
Perubahan keadaan diri orang dan perubahan sekitar bisa menimbulkan kesedihan dan tekanan. Untuk itu, orang perlu memahami diri dan perubahannya. Disamping juga harus siap menghadapi perubahan komunitasnya. Perubahan diri misalnya, pernikahan, kelahiran anak yang tidak dikehendaki, beban hidup, dan lainnya. Faktor luar yang bisa menyebabkan stres antara lain faktor lingkungan kerja, ekonomi, tugas yang berat, teman sekerja, dan lainnya.
            Stres yang dialami oleh tenaga perpustakaan (belum tentu pustakawan) dapat berpengaruh pada kinerja mereka. Untuk itu pimpinan dan seluruh staf perpustakaan perlu memahami gejala stres. Gejala ini dapat diketahui antara lain dengan memerhatikan perilaku seseorang.
            Gejala stres menurut beberapa ahli dapat diketahui melalui gejala fisik, gejala psikologis, dan gejala keperilakuan (Hariandja, 2002).
  1. Gejala fisik, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada metabolisme organ tubuh seperti pada denyut jantung yang meningkat, tekanan darah yang meningkat, sakit kepala, maupun sakit perut.
  2. Gejala psikologis, yakni adanya perubahan-perubahan sikap yang terjadi pada seseorang, misalnya ketegangan, kegelisahan, ketidaksenangan, kebosanan, cepat marah, dan lainnya
  3. Gejala keperilakuan, yakni adanya perubahan-perubahan yang menyebabkan tingkat produktivitas menurun, kreativitas semakin minim, dan semangat kerja berkurang. Gejala ini juga ditunjukkan dengan ketidakhadiran yang tinggi, minum minuman keras, mabuk-mabukan, sulit tidur. Mungkin juga bicaranya ngalor ngidul tidak terarah.
2)      Menurunnya motivasi
            Adanya perubahan bisa menurunkan motivasi seseorang dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini. Mereka yang memiliki motivasi rendah akan memandang hidup ini tidak menggairahkan. Semangat hidup dan semangat kerja padam lantaran tidak bisa memahami makna hidup ini. Mereka loyo dan nglokro itu akan menjadi masalah dan beban tersendri di lembaga tempat kerja dan juga problem profesi.
Motivasi sebenarnya merupakan daya dorong pada diri seseorang untuk melaksanakan kegiatan positif, bermanfaat pada diri dan orang lain. Orang yang memiliki motivasi tinggi memiliki ciri-ciri:
a)      Memiliki rasa ingin tahu yang besar;
b)      Menyenangi tantangan;
c)      Ulet dan gigih dalam memperjuangkan cita-cita;
d)     Tidak mudah putus asa;
e)      Memiliki pandangan bahwa keberhasilan itu merupakan hasil usaha, dan bukan sekedar nasib.
3)      Rendah kinerja
Adanya perubahan bisa memengaruhi kinerja individu  atau kinerja lembaga/perpustakaan. Kinerja individu adalah hasil kerja perorangan dalam suatu lembaga/organisasi/perpustakaan dalam waktu tertentu sesuai kewajiban, tanggung jawab, hak, dan wewenang yang diberikan. Kinerja individu ini akan meningkat apabila memiliki keahlian yang tinggi, mau kerja keras dan memiliki motivasi tinggi.
            Kinerja lembaga/perpustakaan adalah efektivitas jasa yang disediakan perpustakaan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya perpustakaan untuk menghasilkan jasa. Efisiensi dalam hal ini berarti perbandingan antara jumlah sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan dengan jumlah sumber daya yang dimiliki. Makin kecil perbandingan itu, maka semakin kecil pula efisiensinya. Sedangkan kinerja perpustakaan antara lain dapat diukur dari aspek persepsi pemustaka, layanan kepada pemustaka, layanan teknis, promosi, dan pemanfaatan sumber daya manusia.
            Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dapat menurunkan kinerja seseorang dan lembaga/perusahaan. Sekedar contoh, dengan adanya Go Jek, Uber, dan lainnya ternyata memengaruhi kinerja biro jasa transportasi taksi misalnya. Menjamurnya jasa Go Jek dan jasa transportasi sepeda motor plus penggunaan teknologi informasi (handphone, smartphone dll) ternyata membuat resah dan cemas perusahaan transporasi dengan armada taksi.
.           Dengan kemajuan teknologi informasi ini pula berakibat menurunnya kunjungan fisik ke perpustakaan. Oleh karena itu perlu kiat, inovasi, dan keberanian merubah sistem layanan untuk menarik mereka. Perubahan dan inovasi ini antara lain peningkatan fasilitas perpustakaan dengan lay out ruang, peningkatan kebersihan, kesejukan, dan kenyamanan. Bisa juga upaya ini dengan menambah layanan pelatihan literasi informasi, cek aplikasi deteksi plagiasi, layanan biblioterapi, bedah film, bedah buku, dan lainnya. Tanpa adanya keberanian berubah, maka lama kelamaan perpustakaan ditinggalkan pemustakanya. 


(bersambung)
Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar