Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 04 November 2018

Menuju 106 Tahun Muhammadiyah ;Ta’awun Untuk Negeri


        JENDRAL SOEDIRMAN
                    Pahlawan Nasional  & Kader Muhammadiyah
           
Tokoh yang satu ini dikenal sebagai sosok yang bekerja keras, sederhana, berani menghadapi resiko, disiplin, dan bertanggung jawab. Kepribadian ini terbentuk sebagai buah proses pendidikan di Muhammadiyah, Hizbul Wahan, Taman Siswa, dan kemiliteran.
Bapak TNI ini merupakan tokoh penggerak revolusi fisik yang dinilai paling menonjol dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI. Peran itu terutama dalam pertempuran Ambarawa, Semarang, dan Magelang (1949), agresi militer Belanda  I (21 Juli – 5 Agustus 1947), dan agresi militer Belanda II (19 Desember 1948). Beliau bergerilya, naik gunung turun gunung, masuk dan keluar hutan dengan ditandu.Sebab saat itu beliau sakit paru-paru. Meski fisik sakit namun jiwa patriotismenya tidak luntur. Dengan semangat juang yang tinggi dan didukung oleh rakyat, pasukan TNI berhasil memukul mundur pasukan Inggris dalam pertempuran Ambarawa.
Seusai perang, sebenarnya Bung Karno meminta Jendral Soedirman untuk istirahat. Namun permintaan itu tidak dipenuhinya dan menyatakan bahwa yang sakit itu Soedirman, tetapi panglima tidak boleh sakit dan tetap memimpin perang.
Kepribadian beliau ini menjadi suri tauladan bagi kita. Semangat berjuang dengan keikhlasan dan memegang teguh amanah ini diakui banyak pihak. Dalam hal ini Buya Hamka pun pernah memberikan pernyataan bahwa Jendral Soedirman itu “Keluar sebagai serigala yang galak, ke dalam dia merupakan Bapak yang pengasih”.
Kader Muhammadiyah
          Putra dari bapak Karsidi Kartowirodji dan ibu Siyem ini merupakan kader Muhammadiyah. Soedirman yang lahir tanggal 24 Januari 1916 ini mula-mula masuk sekolah HIS di Cilacap 1923 – 1930.Kemudian masuk ke Perguruan Parama Wiworotomo.Setelah itu, ia masuk ke HIK Muhammadiyah di Solo (Surakarta).
Semasa sekolah, Soedirman telah aktif di Muhammadiyah dan kepanduan Semula menjadi anggota Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) kemudian masuk Hizbul Wathan (HW) Muhammadiyah.
Pada tahun1936, beliau kembali ke Cilacap sebagai guru di  HIS Muhammadiyah Cilacap. Pengabdiannya di  Muhammadiyah antara lain ialah pernah menduduki jabatan Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah wilayah Banyumas, bahkan pernah dipercaya sebagai Wakil Majelis Muhammadiyah Jawa Tengah.
Jendral Soedirman meninggal dunia tanggal 29  Januari 1950 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.
Begitu besar jasa-jasa belau terhadap negara, maka Pemerintah memberikan anugrah sebagai Bapak TNI, Pahlawan Nasional, dan Jendral Besar dengan Bintang Lima.   
Sekedar catatan, bahwa  tokoh-tokoh Muhammadiyah yang mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional antara lain:
1.     KH Ahmad Dahlan
2.     Ny. Walidah (Ny.Ahmad Dahlan)
3.     KH Fakhruddin
4.     Ir. H. Djuanda Kartawidjaja
5.     Ki Bagus Hadikusumo
6.     Jendral Soedirman
7.     Prof. Dr. Hamka

Lasa Hs



0 komentar:

Posting Komentar