Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 07 Desember 2018

Bulan Terbelah di Langit Amerika


a. Judul buku                                       : Bulan Terbelah di Langit Amerika
b. Pengarang                                       :  Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
c. Penerbit                                           : Gramedia
d. Tahun terbit beserta cetakannya     : September, 2014
e. Deskripsi buku                                : 344 hlm.
f. ISBN                                               : 978-602-03-0545-5

Bertemu dengan kurator museum yang juga seorang keturunan suku yang tersingkir di benua adidaya. Dialah yang akan menjawab pertanyaan Hanum sebagai seorang reporter. Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?. Pertanyaan yang dibuat oleh Gertrud, atasan yang sekaligus sahabat itu membuatnya kehilangan intuisi.
Dua malam perjalanan bak drama yang Hanum lalui dengan tegar. Padahal ia sangat mengenal dirinya bahwa ia tak pandai mengenali arah. Bertemu dengan Julia, bermalam dan bercakap tentang banyak hal juga tak lupa tentang kisah kelam 11 September itu. Menguak identitas yang baru dari seorang  Julia. Ya, ada sosok baru yang telah lama tak tampak darinya. Julia adalah Azimah Hussein yang sosoknya ia kenal sebab Julialah yang menolongnya saat terkulai dimasjid. Azimah adalah Julia, Julia sama dengan Azimah. Azimah Hussein adalah nama muslim Julia.
Tertegun bukan kepayang saat petanyaan Gertrud di hamparkan pada Azimah. Menyatakan bahwa ia hanyalah mualaf yang belum kaffah dan dia hanyalah mualaf labil. Terkejut!. Bagaimana tidak? Seorang mualaf wanita yang ditinggal wafat suami tercintanya. Memilih memeluk Islam dan berbeda haluan dengan ayahnya yang merupakan pendeta utama di salah satu gereja ternama. Harus bertahan sendiri dengan putrinya untuk tetap meneguhkan imannya ditengah keadaan sang bunda yang terkena Alzhaimer. Penyakit saraf otak yang merenggut ingatan dan keadaan emosi sang bunda. Membuat satu-satunya hal yang beliau ingat adalah Azima dan Abe suaminyalah yang telah membuat sang ayah meninggal karna Julia memutuskan untuk memeluk Islam.
Berusaha sangat tegar menjalani kehidupannya sebagai seorang muslimah yang tak ingin membuat ibunya kecewa di hari-hari senjanya. Azimah memutuskan untuk melepas hijabnya. Tak kehabisan akal, Azimah tetaplah sorang muslimah sejati ditutuplah rambut yang menjadi auratnya dengan wig sebagai pengganti hijabnya. Mengenankan baju turtle neck hingga tepat menutup rapat dagunya. Masya Allah, sungguh luar biasa perempuan ini.
Hanum sudah jatuh tidur. Beringsut dengan lelahnya menyisakan sang belahan jwa, Rangga yang memandangi wajah ayu belahan jiwanya itu. Bertemu dengan Phillip Brown yang tentunya merupakan skenario yang telah dirancang sang Maha Hidup hingga antah berantah dengan begitu logisnya bisa terhubung dengan lima orang yang berbeda di CNN Heros. Lima tokoh tersebut adalah Nyonya Collins yang tak lain adalah ibunda Azima, Azima alias Julia. Sarah putri sematawayang Azima, Hanum sang reporter hebat dan Michael Jones pria yang merupakan suami dari Joanna korban tragedi menegrikan di bulan September itu.  
Titik air mata sempurna sudah menggenag di ujung pelupuk matanya sebab pidato “jujur-jururan dan blak-blakan” yang Phillip Brown tuturkan tentang kronologis kelamnya tragedi itu. Sempurna sudah tangis haru pecah saat  Phillip Brown menyerukan bahwa dia telah-mempunyai keluarga baru setelah menyerahkan benda amanah Abe suami Azima, dan menyatakan Lyla putri angkat. Sarah, Azima dan Nyonya Collins merekalah keluargaku yang telah membukakanku pintu kebahagianaan, arti kekayaaan juga memberi.
“Ibrahim mengajarinya sesuatu. Usaha dan berupaya sekuat raga dalam keadaan apapun. Hingga Tuhan melihat kesungguhan itu dan mengulurkan tangan-Nya. Ibrahim mengajari saya sesuatu yang bernama ikhlas. Ikhlas terhadap takdir yang telah digariskan Tuhan setelah usaha maksimal. Harapan terbesar yang kandas, belum tentu sungguh-sungguh kandas. Tuhan tidak akan mengandaskan impian hamba-Nya begitu saja. Dia tak akan menaruh kita dalam kesulitan yang tak terperi tanpa menukarnya dengan kemuliaan pada masa mendatang”. Itulah kata Phillip Brown pada pidatonya.
Runtuhnya menara kembar merupakan runtuhnya kemanusiaan. Tragedi yang menuntun begitu bayak orang larut dengan ganasnya kesedihan tak terperi saat kehilangan orang yang mereka cintai dan mereka sayangi.Peperangan, kekejian terhadap sesama bukanlah sekedar hal yang mengundang simpati dan empati. Akan tetapi dimanapun adanya dua perkara tersebut hanya akan menyisakan kepedihan. Pulanglah dengan damai, sambut orang-orang yang berharga dalam hidupmu cintai mereka, hiduplah dengan berdamai dan damai dalam jiwamu.
“Sekarang, pandanglah aku sekali lagi. Lihatlah aku (bulan) dalam malammu. Sujudlah pada-Nya. Ketika taawakalmu mengalahkan segala nafsu dan egomu, kau akan merasa Tuhan lebih dekat daripada sukmamu sendiri. Pegang teguh menara kembarmu: Iman dan Amalan; maka setiap waktu aku sudi “membelah” lagi sebagai keajaibanmu.
Demi matahari dan cahaya siangnya.
Demi bulan apabila mengiringinya.
Sungguh beruntung orang yang senantiasa menyucikan jiwa.
Pancarkan Islam. Tebarkan salam. Sinarkan kedamaian.
Semoga kedamaian, rahmat, dan berkah Allah meyertai kamu sekalian.”

Oleh : Pradicka Zahra Pertiwi


0 komentar:

Posting Komentar