Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Selasa, 18 Desember 2018

KEPEMIMPINAN Seri – 2 Efektivitas Kepemimpinan


l. Kemampuan memotivasi
            Keberhasilan pencapaian suatu lembaga/organisasi dipengaruhi oleh intensitas kepemimpinan dalam melaksanakan proses manajemen dan memberi  motivasi kepada bawahan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, proses kepemimpinan ini tidak bisa lepas  dari motivasi sebagai pendorong. Seorang pemimpin (ketua, kepala) terdorong oleh motivasi kekuasaan dan mereka yang dipimpin didorong oleh berbagai motivasi untuk memenuhi kebutuhan masing-masing.
            Motivasi merupakan energi untuk melaksanakan suatu kegiatan. Motivasi yang tinggi itu bermakna keikhlasan. Mereka yang ikhlas akan bekerja keras dan bekerja cerdas bukan sekedar mengharapkan imbalan materi (uang, jabatan, kedudukan, popularitas).
            Ikhlas berarti menjaga profesionalisme dan prestasi dalam setiap level jabatan. Ketika menjadi bawahan telah berprestasi, maka ketika menduduki jabatan lebih tinggi  juga berusaha untuk berprestasi. Ketika menjadi bawahan, ia tidak mengejar jabatan. Demikian pula, ketika menduduki jabatan, ia bekerja penuh tanggung jawab dan bukan karena takut kehilangan jabatan. Jabatan baginya adalah amanah dan bukan sekedar kesempatan. 
            Pada masa pemerintahan ‘Umar bin Khattab terjadi perang dahsyat dengan panglima perang Khalid bin Walid. Ketika perang berkecamuk, beliau menerima sepucuk surat dari Khalifah ‘Umar bin Khattab. Surat ini berisi penggantian panglima perang dari Khalid bin Walid kepada Abu Ubaida bin Jarrah. Setelah membaca surat itu, Khalid bin Walid tetap berperang di garis depan dan tidak surut ke belakang dan berkata:”Aku berperang bukan karena ‘Umar bin Khattab, tetapi aku berperang karena Allah s.w.t.” (Djalaluddin, 2014). Ketika menjadi panglima perang, beliau selalu di depan, dan ketika menjadi anak buah, beliaupun tetap di garis depan.
            Makna ikhlas bagi seorang pemimpin adalah meningkatkan kualitas anak buah dan menyiapkan generasi penerus. Baginya, anak buah merupakan pilar-pilar organisasi yang harus ditumbuhkembangkan. Bila anak buah maju, justru harus didukung dan dibina. Mereka bukan pesaing pimpinan yang dianggap penghalang popularitas pimpinan.
            Pimpinan yang ikhlas akan berusaha keras untuk menyiapkan generasi penerus. Bagi pemimpin yang ikhlas, ukuran keberhasilan suatu kepemimpinan itu tidak hanya diukur dari capaian prestasi di era kepemimpinannya, tetapi juga diukur dari kesuksesan kepemimpinan generasi penerusnya.
3.Komitmen
Komitmen adalah sikap menyesuaikan diri dengan mantap pada sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau kelompok. Mereka yang memiliki komitmen tinggi akan terlihat kinerjanya. Namun bagi mereka yang komitmennya rendah, mereka akan menghindar dari tugas dan tanggung jawab. Bahkan mereka mendahulukan menuntut hak daripada melaksanakan kewajiban.
Orang-orang yang memiliki komitmen tinggi biasanya memiliki kecakapan :
  1. Mau berkorban untuk mencapai sasaran, profesi, maupun bidang tertentu;
  2. Selalu mencari peluang, berusaha memanfaatkan peluang, mengembangkan peluang, bahkan menciptakan peluang;
  3. Merasa ada dorongan dalam dirinya untuk selalu berkembang dan meningkatkan prestasi
Orang yang memiliki komitmen tinggi (madep mantep) akan memiliki inisiatif. Mereka yang memiliki inisiatif akan bisa membaca peluang, memanfaatkan peluang, dan menciptakan peluang. Dengan demikian, orang atau pemimpin yang mampu membaca, memanfaatkan, dan menciptakan peluang berarti sudah menang satu langkah dari yang lain. Sebab tidak semua orang mampu membaca peluang, apalagi memanfaatkan peluang.
Adapun ciri-ciri orang atau pimpinan yang inisiatif:
  1. Siap memenfaatkan peluang;
  2. Mampu melampaui batas atau kemampuan rata-rata orang lain. Dengan kata lain, orang yang memiiki komitmen tinggi akan memiliki keunggulan dari rata-rata orang lain;
  3. Dalam kondisi tertentu berani melawan arus dan sudah diperhitungkan tidak akan terbawa arus;
  4. Berani melakukan petualangan dan siap berkorban untuk orang lain (rakyat, anggota, anak buah);
  5. Mengajak pihak lain untuk memperbaiki langkah-langkah yang selama ini dianggap lemah, kurang, atau salah;
  6. Siap menghadapi cemooh, celoteh, nyinyir, asbun, maupun suara-suara miring dari manapun.
Orang-orang yang memiliki inisiatif biasanya bersikap berani menanggung resiko. Orang-orang seperti ini akan memeroleh keberhasilan tersendiri. Sementara itu, orang yang tidak punya inisiatif cenderung mudah menyerah, pasrah sebelum melangkah, merasa kalah sebelum maju perang.

Bersambung

Lasa Hs



0 komentar:

Posting Komentar