Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 30 Desember 2018

KOMUNIKASI POLITIK


Judul               : Komunikasi Politik Soekarno; Mengguncang Dunia Lewat Pidato dan Tulisan
Penulis             : Roni Tabroni
Penerbit           : Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015                        
ISBN               : 978-602-7973-19-0
Tebal               : 350 hlm.
            Pesan HOS Cokroaminoto kepada murid-muridnya (termasuk Soekarno) :”Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”. Pesan ini direnungkan, diresapi, bahkan dipraktekkan oleh Soekarno (Kusno) yang nanti menjadi Bung Karno.
            Untuk bisa menulis, beliau memelajari ratusan bahkan ribuan judul buku dalam berbagai bidang, belajar langsung kepada para tokoh politik, dan berguru kepada para kiyai (termasuk Kiyai Ahmad Dahlan). Kemampuan itu ditambah dengan semangatnya untuk menguasai bahasa sebagai kunci ilmu pengetahuan (language is the key of science). Beliau belajar dan menguasai berbagai bahasa,  yakni bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Sunda, bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Prancis, dan bahasa Jepang (halaman : 48).
            Dengan penguasaan berbagai bidang, bahasa, dan kekuatan baca inilah Bung Karno menjadi penulis ratusan buku. Buku atau tulisan lain itu menjadi media komunikasi politik  Bung Karno dengan rakyatnya, dan para  penentangnya. Diantara buku-bukunya antara lain; Sarinah, Indonesia Menggugat, Di Bawah  Bendera Revolusi, dan lainnya. Maka Bung Karno sebagai penulis yang baik dan sekaligus sebagai pembaca yang baik. Sebaliknya, tidak semua pembaca baik menjadi penulis yang baik. 
            Bung Karno mampu melakukan komunikasi politik dengan lancar, juga didukung oleh kemampuan berorasi. Kemampuan ini telah nampak ketika masih berusia 16 tahun, ketika beliau mengikuti Studieclub. Kemampuan ini diasah antara lain dengan mengikuti kemanapun HOS Cokroaminoto berorasi dan tekun berlatih berorasi. Beliau berlatih di kegelapan malam, tanpa sinar listrik dengan suara lantang, berirama, menghentak, dan menghanyutkan. Sesekali beliau berperan sebagai tokoh Yunani, dan presiden Amerika Serikat.
            Soekarno bukan komunikator biasa, sebab kemampuan komunikasinya (tulis & lisan) diatas rata-rata politikus pada umumnya. Memang saat itu orang sangat tertarik mendengarkan/mengikuti pidato beliau meskipun hanya melalui radio. Radiopun kadang satu desa hanya seorang yang memilikinya. Bahkan konon di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, sebuah pesta pernikahan ditunda, gara-gara para tamu lebih tertarik untuk mendengarkan pidato Bung Karno.
            Keahlian berpidato dengan intonasi yang baik, tutur kata yang sistematis, dan keluasan wawasan membuat Soekarno tidak hanya memesona rakyat Indonesia, tetapi juga masyarakat internasional. Bung Karno juga pernah menyitir Q.S. Al Hujurat 13, ketika menyampaikan pidato berjudul To Build The World a New di depan Sidang Umum PBB pada tahun 1960 (halaman 54). Bahkan W.S. Rendra pernah menulis bahwa Bung Karno sebagai orator terkemuka dunia, di samping Santo Johanes Pembaptis, Santo Ignasius, Martin Luther, Hitler, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Billy Graham, dan Buya Hamka.
Buku yang ditulis oleh Roni Tabroni yang aktivis Muhammadiyah ini, menyajikan tema-tema komunikasi politik. Kelancaran komunikasi politik antara lain perlu didukung oleh wawasan yang luas, gemar membaca, kemampuan menulis, dan kemampuan sebagai orator.
            Untuk menjadi pemimpin hebat, kadang harus mengalami berbagai penderitaan. Sebagai calon pemimpin bangsa, beliau berulang kali hidup dari penjara ke penjara lain. Bahkan berulang kali mengalami percobaan pembunuhan. Pada tanggal 29 Desember 1929 beliau ditangkap ketika mengadakan rapat di Yogyakarta. Kemudian beliau dijebloskan ke Penjara Banceuy, kemudian ke Sukamiskin. Selama 2 tahun, Bung Karno dipenjara di Sukamiskin ini,  lalu dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931. Setelah itu, beliau terus mengadakan pergerakan antipenjajah melalui tulisan, rapat, dan orasi. Maka pada 31 Juli 1933 tengah malam beliau ditangkap di rumah M. Husni Thamrin Jl. Sawah Besar Jakarta. Dari sini, kemudian pada tahun 1934, beliau diasingkan ke Ende Flores selama 4 tahun. Kemudian pada 14 Februari 1938, Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu, yang kemudian ke Padang. Ketika di Bengkulu, beliau sempat mengajar di sekolah rakyat. Disini, beliau kenal dengan Fatmawati yang nantnya menjadi isteri Bung Karno. Fatmawati bernama asli Fatimah adalah putra Hassan Din, seorang tokoh dan pmpinan Muhammadiyah Bengkulu.
            Buku ini ditulis dengan bahasa populer, dengan gaya mencair, sehingga mudah dipahami. Juga disertai cuplikan-cuplikan pidato Bung Karno dalam berbagai event. Hal ini menambah segarnya ingatan pada masa lalu, seolah-olah kita berkomunikasi langsung kepada Sang Proklamator.
            Komunikasi politik melalui lisan dan tulis kea rah yang jelas merupakan kebutuhan tersendiri bagi pendidikan politik masyarkat. Tulisan dan orasi yang membangun, menumbuhan semangat berkemajuan itulah yang dibutuhkan. Bukannya saling merendahkan, mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), suudz dzan, dan lainnya. Rakyat yang cerdas ini selayaknya disuguhi informasi yang cerdas dan mendidik. Bukan informasi tanpa data, prediksi yang asal-asalan, dan bukan  kebohongan-kebohongan lain. 

Lasa Hs. 



0 komentar:

Posting Komentar