Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 06 Januari 2019

106 Tahun Muhammadiyah : Ta’awun untuk Negeri Tulisan : 1



 BERUBAH UNTUK KEMAJUAN PERPUSTAKAAN
                                    Makna Perubahan

Perubahan pada hakikatnya adalah tranformasi dari keadaan lalu menuju keadaan sekarang, dari keadaan sekarang menuju keadaan yang akan datang. Kalau keadaan sekarang berubah menjadi lebih baik, berarti suatu kemajuan dan keberhasilan. Apabila keadaan sekarang sama (tidak berubah) dengan keadaan yang lalu, maka berarti suatu kerugian karena mengalami kemandegan. Apabila keadaan sekarang berubah menjadi lebih buruk dari keadaan yang lalu, maka berarti suatu kecelakaan bahkan musibah.
            Adanya perubahan sebagai tanda adanya kehidupan dan perkembangan. Maka apabila tidak terjadi perubahan, maka berarti bahwa kehidupan itu mandeg dan tidak berkembang. Namun demikian, pengalaman empiris menunjukkan bahwa adanya usaha perubahan sering mampu meningkatkan kinerja lembaga lebih maju pesat. Perlu juga disadari bahwa banyak pula usaha perubahan, namun kenyataannya tidak berhasil. Hal ini kadang menimbulkan keragu-raguan pada diri orang/kelompok lain untuk berusaha berubah.
            Perubahan merupakan keniscayaan yang perlu dilakukan terus menerus dalam rangka menuju  kemajuan. Maka logis bila Allah menyiratkan perlu perubahan dalam Q.S. Ar Ra’d: 11 yang artinya:”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka”. Merubah pada hakekatnya meningkatkan kebaikan dan menjauhi kegiatan-kegiatan yang merusak. Oleh karena itu, Rasulullah s.a.w. menegaskan untuk merubah kemunkaran dengan kekuasaan, lisan, maupun diam (tidak melakukan kejahatan). Perintah ini ditegaskan dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Abu S’ad Al Khudhri yang artinya:” Apabila kamu sekalian menyaksikan/mengetahui kemunkaran,hendaknya dirubah dengan tangan (kekuasaan). Apabila kamu tidak mampu, maka hendaknya dirubah dengan lisan (nasehat, tulisan). Apabila dengan lisan ternyata tidak mampu, maka hendaknya dirubah dengan hati, yang demikian adalah selemah-lemah iman”.
            Memahami hadits tersebut, sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan tangan (kekuasaan) yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan. Kemudian yang dimaksud dengan lisan dilakukan oleh para ilmuwan atau ulama. Sedangkan melakukan perubahan dengan hati dapat dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Merubah dengan hati berarti minimal mencegah diri agar tidak melakukan tindak kejahatan.
            Perpustakaan sebagai lembaga yang selalu berubah (library is the growing organism) harus selalu melakukan perubahan. Perubahan ini dapat dilakukan pada manajemen, koleksi, sistem, sumber daya manusia, anggaran, layanan, pengolahan, maupun pada anggaran. Perubahan ini hendaknya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan informasi masyarakatnya.
Namun demikian, perlu disadari bahwa untuk menuju proses perubahan itu selalu dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang memengaruhi perubahan ini antara lain dari internal perpustakaan itu sendiri, dimana kepala/manajemen perpustakaan harus bisa mengendalikan. Sedangkan faktor eksternal antara lain adanya tekanan global dan semakin ketatnya kompetisi.
            Bertitik tolak dari sini, maka untuk berubah dan mengembangkan pengelolaan suatu perpustakaan diperlukan manajemen/kepemimpinan yang profesional. Dalam hal ini banyak teori tentang kepemimpnan yang profesional. Salah satu teori kepemimpinan yang profesional menyatakan bahwa kepemimpinan yang profesional adalah kepemimpinan yang memiliki pemahaman visi (the need for vision), etika (the need for ethics), keberagaman budaya (the need for cultural diversity), dan pelatihan (the need for training (Stoner dan Freeman (1992:16).
  1. The Need for Vision
Manajer/kepala perpustakaan membawa perubahan dan kemajuan yang signifikan apabila memiliki visi yang jelas. Oleh karena itu, kepala perpustakaan harus mampu melihat jauh ke depan tentang perpustakaan yang dipimpinnya dan tujuan perpustakaan yang akan dicapainya. Visi ini akan menjadi acuan utama semua staf perpustakaan yang dipimpinnya. Tanpa adanya visi yang jelas,maka tenaga perpustakaan akan melakukan kegiatan yang tidak jelas arahnya. Sebab sang komandan tidak bisa membuat perencanaan jangka panjang dan tidak mampu memberikan pengarahan. Hal ini lantaran kepala perpustakaan tidak memiliki pengetahuan/pengalaman tentang manajemen dan kurang paham seluk beluk perpustakaan. Jadinya, perpustakaan asal jalan meskipun jalan di tempat.
  1. The Need for Ethics
Dalam memenej perpustakaan, diperlukan pemahaan etika. Baik etika lembaga, etika profesi, maupun etika komunikasi. Tanpa pemahaman ini, perjalanan kepemimpinan perpustakaan akan terhambat oleh masalah moral. Maka tak heran bila terjadi pemogokan kerja, protes tersembunyi, bahkan stress terselubung. Hal ini antara lain disebabkan bahwa kepala perpustakaan tidak memahami etika tersebut. Maka wajar kalau langkahnya trunyak trunyuk.
  1. The Need for Cultural Diversity
Orang-orang yang bekerja di perpustakaan terdiri dariberbagai macam tingkat pendidikan, ras, suku, agama, paham, dan politik. Faktor ini harus dipahami oleh manajemen. Untuk itu, manajemen harus memiliki komitmen yang kuat untuk memberikan perlakuan yang adil tanpa memandang ras, suku, agama, dan perbedaan politik. Sebab keberagaman budaya (cultural diversity) ini merupakan kenyataan dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat.
  1. The Need for Training
Dalam memenej perpustakaan diperlukan ketrampilan manajemen. Oleh karena itu, kepala perpustakaan perlu menyadari akan pentingnya peningkatan sumber daya manusia perpustakaan. Peningkatan ini antara lain dalam bentuk kesempatan studi lanjut, magang, pengikutertaan dalam kompetisi kepustakawanan, pendidikan dan pelatihan, dan kagiatan peningkatan kompetensi kepustakawanan.
Pelatihan adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memeroleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, kedisiplinan, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan (UNdang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 dalam Lasa Hs 2017).

Bersambung


Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar