Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 31 Januari 2019

106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri BERUBAH UNTUK KEMAJUAN


Tulisan : 6 
TEORI KEMAJUAN

Memang sering terjadi perbedaan pesepsi adanya perubahan. Manajemen sering memandang bahwa perubahan itu peluang. Namun di kalangan akar rumput sering muncul anggapan bahwa perubahan itu menakutkan dan khawatir munculnya kekacauan. Pada dasarnya mereka itu ingin adanya perubahan, namun apabila perubahan ini menyangkut diri mereka dan keluarga, justru usaha perubahan ini ditentang dan dimusuhinya. Dalam hal ini Peter Scholters berpendapat bahwa pada dasarnya karyawan/pegawai itu tidak menolak perubahan, tetapi mereka menolak untuk diubah (Wibowo, 2016: 152). Dikatakan selanjutnya bahwa resistensi perubahan itu bersifat afektif (affective), perilaku (behavior), dan kognitif (cognitive).
            Komponen afektif adalah bagaimana orang merasakan adanya perubahan. Komponen perilaku adalah bagaimana orang berperilaku dalam perubahan. Kemudian komponen kognitif adalah bagaimana orang berpikir tentang perubahan.
Perubahan akan dialami oleh setiap manusia dalam berbagai aspek kehidupan, baik kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, kehidupan berprofesi, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak teori perubahan yang telah dikemukakan oleh para pakar. Diantara teori-teori ini adalah teori Kurs Lewin, teori Roger, dan teori Lippits.
  1. Teori Kurs  Lewin (1951)
Dalam mengantsipasi perubahan, Lewin menyatakan bahwa perubahan itu dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) tahapan, yakni tahapan pencairan (unfreezing), bergerak (moving), dan pembekuan (freezing). Tahapan pencairan (unfreezing)  merupakan upaya menyadarkan dan menumbuhkan  motivasi yang kuat perlunya perubahan. Yakni beranjak dari keadaan semula dan mengubah kesimbangan yang ada. Pada tahap ini perlu ditumbuhkan sikap siap untuk berubah, menyiapkan mental karyawan/pegawai, dan disusun rencana perbahan yang sitematis, bertahap, berkesinambungan. Maka dalam tahap ini perlu ditanamkan bahwa perubahan itu merupakan keniscayaan. Maka apabila tidak mau berubah, maka akan kalah.
Tahapan bergerak (moving) adalah tahapan adanya sikap untuk bergerak menuju pada keadaan baru atau tahapan baru. Kemauan bergerak menuju kemajuan ini harus didukung dengan penguasaan ilmu dan informasi, sikap dan kemauan untuk berubah, pemahaman terhadap masalah, dan mengetahui langkah-langkah penyelesaian maslah yang dihadapi nanti.
            Adapun yang dimaksud tahapan pembekuan (freezing) adalah keadaan di saat motivasi telah mencapai tingkatan baru atau mencapai keseimbangan baru. Tingkatan baru yang telah dicapai ini harus dijaga agar tidak mengalami kemunduran pada tahap sebelumnya. Oleh karena itu harus selalu diberi umpan balik bahkan tantangan kepada para staf perpustakaan, pegawai/karyawan.

Bersambung


Lasa Hs.


0 komentar:

Posting Komentar