Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 06 Januari 2019

106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri Tulisan : 2



                             BERUBAH UNTUK KEMAJUAN  
                      PERUBAHAN ITU DARI DIRI SENDIRI
Untuk merubah sikap dan tindakan orang lain, masyarakat, atau perpustakaan perlu dimulai dari perubahan diri. Kalau ingin merubah korupsi, tentunya dirinya maupun kroninya/partainya tidak korupsi. Oleh karena itu hanya orang yang bisa menjadi teladanlah yang akan bisa memengaruhi dan merubah pihak lain. Maka bukti kepemimpinan inilah yang akan membawa perubahan, dan bukan sekedar janji.
Mereka yang bisa menjadi panutan ini telah mampu menempa dirinya dalam mengatasi berbagai persoalan dan penderitaan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Lukman Al Hakim yang pernah kepada putranya :”Wahai anakku.Ketahuilah, apabila emas itu ditempa / diuji dengan api, maka manusia itu diuji dengan bala (al Far, 2008: 37).
Mereka yang mampu dan sukses memimpin menuju perubahan itu mengalami proses panjang. Kesuksesan merupakan buah komitmen dan proses terus menerus untuk mencapai suatu tujuan. Mereka  itu ibarat besi yang dibakar dan ditempa dengan berbagai penderitaan dan ternyata lolos dari segala percobaan (difitnah, dipenjara, dicaci maki, kena nyinyir, dibulli dll.). Maka mereka menjadi hebat.
Menjadi orang hebat, tidak harus pintar secara akademik dan tidak harus memiliki jabatan tertentu. Sebab kenyataan, bahwa justru kerusakan besar  itu dilakukan oleh orang-orang yang pintar. Korupsi milyaran rupiah itu dilakukan oleh orang pintar bukan oleh kuli bangunan. Plagiasi dilakukan oleh ilmuwan, dan bukan oleh penggali kubur.
Orang akan mampu merubah diri apabila memiliki visi (visioner), optimis, berani menghadapi resiko, mampu membaca peluang, mengedepankan negoisasi, dan bekerja profesional (kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas). 

1.Visioner
Mereka yang berhasil antara lain ditunjukkan dengan cara pandang terhadap suatu bidang yang dipimpinnya. Mereka yang mampu memanda kehidupan (bidang, pekerjaan, dan jabatan) dengan pandangan jauh ke depan/visioner adalah mereka yang berhasil.
Sebaliknya, mereka yang memandang kehidupan tersebut dengan pandangan yang pendek, maka mereka hanya akan memeroleh keberhasilan yang semu. Apabila kita memandang kehidupan ini dengan pandangan jauh ke depan/visioner, maka tujuan jangka pendek/dekat akan tercapai.

2.Optimis
            Sikap optimis adalah sikap individu yang berkeyakinan bahwa masalah yang dihadapi akan membawa keberhasilan, manfaat, dan keberuntungan dalam arti luas. Optimisme merupakan energi yang mampu mendorong manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
Para orator dan penulis besar mampu mengubah dunia dengan kemampuan berkomunikasi (lisan dan tulis). Mereka berani menghadapi resiko dan mampu memberikan solusi lantaran optimisme yang mereka miliki jauh sebelum mereka dikenal orang.
            Optimisme atau berpikir positif (khusnudz dzan) merupakan formula atau sistem yang memandang segala sesuatu itu dari baiknya saja, meskipun orang lain memandang buruk.
Orang yang optimis selalu berharap bahwa semuanya berakhir baik. Mereka yang optimis akan mencapai keberhasilan bahkan sebelum melakukan kegiatan. Mereka menang (mengaaalahkan diri sendiri) sebelum perang (menghadapi tantangan).
Orang yang optimis akan berpikir positif dan itu menjadi kunci sukses menghadapi stress.Mereka itu akan mampu menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan sikap positif dan produktif.
            Menurut Victor Frankl dalam Rafanani (2017: 37) dinyatakan bahwa sikap optimis itu dapat dimunculkan dimana saja, bahka dalam penderitaan sekalipun. Sebaliknya   mereka yang pesimis, hanya akan menjadi pecundang, selalu mengeluh, menyalahkan pihak/orang lain, ngambek, dan mati sebelum perang. Mereka beranggapan bahwa kemalangan dankegagalan itu sudah nasib dan sudah digariskan dari sononya.
            Optimisme akan menghasilkan energy positif, tetapi pesimis akan menguras energy dengan membuang-buang yang ada.Optimisme menuntuk ke depan, tetapi pesimis mendorong ke belakang, bahkan jauh tertinggal/terbelakang dan akan menjadi orang-orang yang neoric (Rafanani, 2017: 17).  
 Bersambung

Lasa Hs



0 komentar:

Posting Komentar