Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 07 Januari 2019

LION ON THE TABLE


(Kasman Singodimedjo; Pahlawan Nasional & Tokoh Muhammadiyah)

Kalimat tersebut memang pantas disematkan kepada Kasman putra Bagelen Purworejo yang lahir 25 Februari 1904. Ayahnya bernama Singodimedjo  seorang lebai/modin, dan pernah menjadi sekretaris desa (carik). Beliau pernah menjadi pegawai polisi yang dipersenjatai di Tabanan Bali, dan Gunung Sugih Lampung Tengah. Ibunya bernama Kartini yang pernah meragukan kemampuan Kasman ketika minta izin akan sekolah di MULO (Meer Uitgebereid  Lager Onderwijs) di Magelang.
Kasman  telah belajar berorganisasi, memimpin dan pidato sejak kecil. Beliau masuk perkumpulan “Darah Jawi”. Setamat dari MULO, beliau melanjutkan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indiesche Arsten) Batavia (Jakarta). Kasman  dikenal sebagai anak yang ulet, kerja keras, rajin, disiplin, dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Menurut penuturan Mohammad Roem, bahwa selama sekolah di STOVIA di Kwitang, Kasman mencari tambahan penghasilan dengan mencucikan pakaian para mahasiswa. Upah cucian ini ditabung untuk membeayai sekolah adik-adiknya (Kasmah, Kasiyem, Sutiyati).   
STOVIA adalah  sekolah dokter untuk  bumiputra. Ketika masih berstatus sebagai mahasiswa STOVIA inilah, beliau juga menjadi pengurus Jong Islamieten Bond/JIB). Saat itu JIB telah memiliki 4.000 anggota. Ketika menjadi pengrus JIB inilah, Kasman banyak mengenal dan belajar dari para tokoh pergerakan seperti KH Agus Salim, HOS Cokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, Syiekh Ahmad Syurkati, Natsir, Mohammad Roem, Prawoto dan Jusuf Wibisono. JIB  ini juga  menjadi wadah pengkaderan dan penggemblengan kepemimpinan untuk masa depan. Maka wajar kalau Belanda mewaspadai dan mencurigai gerak-gerik organisasi ini. 
            Gara-gara aktivitas ini dan nampak kecerdasannya inilah, Belanda mencurigai Kasman dan dianggap membahayakan. Maka beasiswa studi di STOVIA dicabut dan Kasman dikeluarkan dari sekolah tersebut. Kemudian Kasman masuk  Sekolah Tinggi Hukum (Recht Hoge School/RHS) dan disini beliau ketemu dan belajar banyak dari Mohammad Roem (tokoh Roem-Roeyen). Kasman lulus sebagai sarjana hukum (Meester de Recht/Mr) pada  26 Agustus 1939.  
Sejak muda, Kasman telah mengenal Muhammadiyah dan dekat dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti KH Ahmad Dahlan dan Ki Bagus Hadikusumo. Secara formal, Kasman mengawali karir di Muhammadiyah sejak tahun 1921 sebagai anggota Cabang Muhammadiyah Batavia (Jakarta). Saat itu Cabang Muhammadiyah Jakarta dipimpin oleh Kartosoedarmo. Kemudian mulai masuk jajaran kepemimpinan Muhammadiyah pada periode 1968 – 1971. Bahkan pada periode 1974 – 1977, yakni pada masa kepemimpinan Pak AR, Pak Kasman paling rajin berkantor di PP Muhammadiyah Jl. Menteng Raya No. 62, sehingga dikenal sebagai “penjaga warung”. Saat itu Pak Kasman dipercaya sebagai Ketua II PP Muhammadiyah.
Ketika Kongres Muhammadiyah ke 30 di Yogyakarta, Buya Hamka dan Kasman Singodimedjo pernah tidur bersama di lantai di Gedung Kweek-School Muhammadiyah. Buya sebagai Konsul Daerah Muhammadiyah Sumatera Timur, dan Kasman sebagai Konsul Daerah Muhammadiyah Betawi. Pada saat itu pula tidur berdekatan Sudirman (nantinya menjadi Panglima Besar TNI) selaku Wakil Majelis Pemuda Purwokerto. Mereka tidur di lantai berhimpitan layaknya tidur di dek kapal. Mereka berbahagia. Memang begitulah berMuhammadiyah yang ditunjukkan dengan adanya kebersamaan, keikhlasan, dan kesederhanaan.
Kasman sebagai pejuang berulang kali masuk dan keluar penjara. Tahun 1940, Kasman ditangkap Belanda gara-gara pidatonya di forum Muhammadiyah Bogor. Kasman juga pernah dituduh mengadakan rapat gelap merencanakan makar dan akan menggulingkan Presiden Soekarno. Kasman tidak sendirian ditangkap, tetapi bersma Hamka, m Isa ANshary, dan Ghazali Syahlan (dari Masyumi). Mereka ditangkap dan dipenjara. Hamka selama dipenjara ini berhasil menyelesaikan Tafsir Al Azhar yang menimental itu. Sosok yang benar singa di podium ini ditangkap lagi dengan tuduhan terlibat dalam gerakan PRRI (yang dipimpin Mohamad Natsir, Sjfruddin Prawironegara, dan Burhanuddin Harahap). Beliau ditangpa gara-gara pidatotg. 31 Agustus 1958 di gedung bioskop Magelang tentang wejangan Ronggowarsito.

Bibit perjuangan melalui dunia politik, telah nampak pada kegiatannya di Jong Islamieten Bond/JIB. Pada tahun 1940, Kasman ditangkap dan ditahan karena kegiatan politiknya. Pada masa pendudukan Jepang, beliau menjadi Komandan PETA Jakarta. Dialah salah satu tokoh yang ikut berperan dalam mengamankan pelaksanaan upacara pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945 di lapangan IKADA.
 Pada awal kemerdekaan RI, dibentuklah PPKI yang semula beranggotakan 21 orang, maka Bung Karno menambahkan nama-nama Kasman Singodimedjo, Wiranatakoesoemah,Ki Hadjar Dewantara, Sajuti Melik, Mr. Iwa Koesoema Soemanri, dan Mr. Achmad Soebardjo. Maka jumlah anggota PPKI menjadi 27 orang.
            Pada saat menjelang pengesahan UUD 1945, terjadilah ketegangan tersendiri karena masyarakat Indonesia bagian timur akan memisahkan diri dari Indonesia. Mereka keberatan kalau kalimat :’dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya” kalau tetap dicantumkan pada UUD 1945 itu. Di satu sisi Ki Bagus Hadikusumo dan bberapa orang semula bersikeras agar tujuh kata itu tetap dicantumkan. Melihat situasi yang gawat itu, terbayangoleh Bung Karno jangan-jangan Indonesia bubar karena perbedaan persepsi 7 kata tersebut. Akhirnya Bung Karno minta tolong Kasman Singodimeedjo untuk melobi Ki Bagus Hadikusumo, dan alhamdulilah beliau bisa menerima argumentasi yang dikemukakan Kasman Singodimedja. Dengan diplomasi Kasman dan kesadaran Ki Bagus Hadikusumo dan tokoh lain betapa pentingnya persatuan, maka 7 (tuju) kata itu dihilangkan. Maka Indonesia tidak jadi bubar.
Berkat jasanya kepada negara, bangsa, dan juga masyarakat (terutama Muhammadiyah) beliau diangkat sebagai PahlawanNasional  RI 2018 dengan Suat Keputusan  Presiden RI No. 123/TK/2018 tanggal 6 November 2018.
(Sumber: 100 Tokoh Muhammadiyah, 2014: 152 – 153, Suara Muhammadiyah, 1-15 Januari 2019) 

Lasa Hs.



0 komentar:

Posting Komentar