Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 01 Februari 2019

106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri BERUBAH UNTUK KEMAJUAN

Tulisan : 7
TEORI PERUBAHAN
 (Teori Roger dan Teori Lippits)




  1. Teori Roger (1962)
Teori ini dikenal dengan teori AIETA, yakni singkatan dari awareness (kesadaran), interest (keinginan), evaluation (evaluasi), trial (mencoba), adoption (penerimaan). Dalam teori ini, Rogers berpendapat bahwa proses penerimaan terhadap perubahan itu lebih kompleks dari teori yang dikemukakan oleh Lewin. Rogers berpendapat bahwa setiap individu yang terlibat dalam perubahan itu mungkin mulanya mereka menerima perubahan, akan tetapi setelah dilakukan proses perubahan, kemudian mereka justru menolak.
  1. Teori Lippits (1973)
Teori perubahan ini ditujukan untuk merubah status quo/kemapanan, baik perubahan itu direncanakan atau tidak direncanakan. Kemapanan ini terjadi dalam individu, jabatan, situasi, proses, maupun sistem kerja.
Memang sering terjadi bahwa sesuatu itu kalau sudah dianggap mapan dan berjalan lama, maka orang-orang tertentu sulit untuk diajak berubah. Begini saja sudah nyaman, mengapa harus berubah kata mereka. Sikap status quo inilah yang kadang menghambat kemajuan. Sebab mereka sudah merasa nyaman.
            Lippits selanjutnya menyatakan bahwa untuk menghadapi perubahan, perlu mengidentifikasi 7 (tujuh) tahap yakni a.mendiagnosis/menentukan masalah; b) mengkaji motivasi dan kapasitas perubahan; c. mengkaji motivasi agen perubahan dan sarana yang tersedia; d. menyeleksi tujuan perubahan; e.memilih peran yang sesuai; f.mempertahankan perubahan yang telah dimulai;  g.menjaga kesinambungan perubahan.
s. Menentukan masalah
     Dalam tahap ini setiap individu yang terlibat dalam perubahan harus membuka diri. Mereka juga harus menghindari suatu tindakan sebelum data dan informasi terkumpul. Sebab dalam usaha perubahan ini setiap individu harus menginformasikan fenomena yang terjadi. Semakin banyak informasi yang diterima manajemen, maka akan semakin bagus dalam pembuatan keputusan untuk melakukan perubahan. Oleh karena itu setiap orang yang memiliki potensi harus diikutsertakan secara aktif dalam proses perubahan ini.
b. Mengkaji motivasi dan kapasitas perubahan
          Perubahan nampaknya merupakan sesuatu yang mudah. Namun keberhasilan perubahan memerlukan kerja cerdas, kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Pada tahap ini setiap individu yang terlibat dalam perubahan harus dikaji kemampuan mereka, hambatan yang mungkin terjadi, dan dukungan yang akan diberikan.
c. Mengkaji motivasi agen perubahan
Pada tahap ini diperlukan komitmen dan motivasi para pimpinan dalam proses perubahan. Pemikiran pimpinan untuk melakukan perubahan harus dipahami betul oleh anak buah dan dapat dipercaya. Disamping itu, pimpinan harus mau mendengar masukan, usulan, dan pemikiran anak buah yang terkait dengan perubahan itu.
d. Menyeleksi tujuan perubahan
Pada tahap ini, perubahan harus sudah disusun sebagai suatu kegiatan secara operasional, terorganisir, berurutan, dan kepada siapa perubahan itu ditujukan. Untuk itu diperlukan target waktu capaian perubahan.
Bersambung

Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar