Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 24 Februari 2019

FATMAWATI; Putri Tokoh Muhammadiyah


Fatmawati yang nama aslinya Fatimah itu adalah putri Hasan Din, seorang Konsul Muhammadiyah Bengkulu. Fatmawati  semula sekolah di Sekolah Gedang (sekarang SD), lalu ke HIS sekolah berbahasa Belanda. Namun ketika ia duduk di kelas 3, lalu oleh bapaknya dipindah ke HIS Muhammadiyah.
Kehidupan ekonomi saat itu rata-rata masih susah. Hal ini juga dialami oleh keluarga Hasan Din. Untuk membantu meringankan beban orang tuanya, Fatmawati kecil menjajakan kacang bawang yang digoreng ibunya. Bahkan sering menunggu warung di depan rumahnya. Kemudian untuk mengatasi kondisi ekonomi, Pak Hasan Din pindah ke Palembang. Di kota ini, beliau mendirikan percetakan. Fatmawati melanjutkan sekolahnya ke HIS Muhammadiyah Palembang.
            Suatu hari, Pak Hasan Din mengajak Fatmawati untuk silaturrahmi kepada Ir. Soekarno yang saat itu dibuang Belanda di Bengkulu. Pertemuan pertama Fatmawati dan Ir. Soekarno membawa kesan tersendiri. Kesan pertama sulit dilupakan kata orang. Pertemanan ini berlangsung semakin dekat, akrab, daan terbuka. Maka suatu ketika Fatmawati minta pendapat Ir. Soekarno perihal dirinya dilamar oleh pemuda putra seorang Wedono. Mendengar masalah ini, berubahkan raut wajah Bung Karno. Akhirnya, beliau menyatakan ketulusan hatinya yang paling dalam bahwa beliau telah jatuh cinta sejak  pandangan pertama. Pertemuan ini berlanjut sampai jenjang berumah tangga. Keduanya menikah pada Juli 1942.
            Dalam perkembangan selanjutnya, Fatmawati mengikuti suaminya hijrah ke Jakarta. Rumah tangganya dilakoni dengan harmonis, sederhana. Meski sebagai isteri presiden, Fatmawai tetap sederhana dalam bersikap, bertingkah, dan berpenampilan. Kemanapun pergi, beliau selalu memakai kerudung. Inilah yang selalu dipuji oleh Bung Karno. Saking sederhananya, beliau dipinjami perhiasan isteri Sekretaris Negara ketika beliau mendampingi Bung Karno melakukan lawatan ke India dan Pakistan.
            Ibu Fatmawati sangat setia mendampingi Bung Karno dalam suka dan duka. Dari beliaulah, lahir putra putri Bung Karno . Muhammad Guntur putra pertama lahir tahun 1944 yang oleh orang Jepang disebut Osamu. Ketika ibu kota pindah ke Yogyakarta, maka di kota Gudeg ini lahirlah Megawati Soekarno Putri 23 Januari 1946. Kelahiran Megawati saat itu menjelang adzan Magrib, hujan lebat disertasi halilintar.
            Suatu hal yang membuat hati Ibu Fatmawati sedih dan pilu adalah ketika terpaksa harus hidup mandiri. Sebab saat itu Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan Belanda ke Pulau Bangka. Keluarga tidak boleh ikut, Kemudian ketika perang usai, Soekarno-Hatta kembali ke Yogyakarta dan kemudian dilantik menjadi presiden dan wakil presiden RIS yang kemudian kembali ke Jakarta.
            Menjalani kehidupan di Jakarta dilakoni dengan ketabahan dan kesadaran tinggi mendampingi tokoh perjuangan. Di Ibu kota RI ini, kemudian Ibu Fatmawti melahirkan putra-putrinya berturut-turut; Dyah Permana Rachmawati (lahir 27 September 1951), Dyah Mutiara Sukmawati, dan Muhammad Guruh Irianto Sukarno Putro (lahir 13 Januari 1953).
            Kehidupan manusia memang naik turun, suka dan duka mendampingi perjalanan manusia. Setelah kelahiran Guruh, Bung Karno berniat nikah dengan Hartini. Hal itu dikemukakan kepada Ibu Fatmawati. Putri Hasan Din ini menanggapinya dengan meminta Bung Karno, agar beliau dikembalikan ke orang tuanya. Fatmawati berprinsip tidak menyetujui poligami yang dianggap tidak menghormati martabat wanita. Ia memilih berpisah dengan suami dari pada poligami.
Ibu Fatmawati wafat 14 Mei 1980 setelah menunaikan ibadah umrah. Beliau mengalami serangan jantung ketika pesawat singgah di Kuala Lumpur menuju Jakarta dari Makkah Mukaramah. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Karet Jakarta.


Lasa Hs. 
.

0 komentar:

Posting Komentar