Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Selasa, 05 Maret 2019

AL QUR’AN ITU BUKAN FIKSI:



                                Apa Kata Buya Hamka

Al Qur’an memberitakan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Berita tentang apa yang akan terjadi yang disampaikan Al Qur’an pasti terjadi. Beda dengan karya fiksi. Meski fiksi meramalkan sesuatu yang akan terjadi, maka belum tentu terjadi. Sebab fiksi hanya khayalan manusia saja. Maka makna kata “akan dan kata “telah itu jauh berbeda. Kalau telah berarti sudah ada bukti, sedangkan akan hanyalah sekedar mimpi.
Kebenaran Al Qur’an diakui banyak pihak, termasuk orang-orang Arab. Dalam hal ini buya Hamka menjelaskan :”Kalau orang Arab yang empunya bahasa itu sendiri telah mengaku bahwa tidak ada kesanggupan manusia menandinginya, usahkan mengatasinya, betapa lagi bangsa yang lain, yang memakai bahasa lain?.
          Sejarah dan perkembangan penilaian terhadap Al Qur’an itu telah memberikan tiga kesimpulan tentang i’jaz. Yang pertama ialah keistimewaan yang telah dicapai oleh bangsa Arab. Yang kedua ialah makna atau ma’ani-nya, yang hakiki, yang telah terbukti bahwa puncak tertinggi yang manapun dari pikiran mereka tidaklah akan sampai ke martabat makna Al Qur’an. Ketiga ialah ajaran akhlaknya.
Sebab itu, i’jaz ini telah menjadi salah satu ilmu yang wajib diperhatikan juga ketika menafsirkan Al Qur’an.
Dan, i’jaz Al Qur’an ini adalah berharap seluruh manusia. Kalau bangsa Arab dengan bahasa Arab adalah bahasa yang tidak mati, malahan bertambah berkembang dan berpengaruh di dalam abad kedua puluh ini, dan orang-orang Arab sendiri, terutama sarjana-sarjana bahasanya, telah mengakui kelemahan mereka, apatah lagi seluruh manusia. Dan memang Muhammad saw . diutus kepada seluruh manusia di muka bumi ini (Q.S. Saba’: 28).
Dengan secara ringkas dan pokok saja, kami hendak  memcoba mengemukakan empat i’jaz Al Qur’an:
Pertama;  fashahah dan balaghah, amat tinggi derajat kata dan maknanya, yang memesona pendengarnya, yang dimulai oleh orang Arab yang empunya bahasa itu sendiri, yang lebih tahu apa susun, irama, gaya, dan pengaruh ungkapan kata yang dapat menarik dan mempesona.
Susunan Al Qur’am bukanlah susunan syair, dengan susun rangkai kata menurut suku kata bilangan tertentu, dan bukan ia puisi, dan bukan ia prosa, dan bukan pula ia sajak, tetapi ia berdiri sendiri melebihi syair, nashar, dan nazham, yang belum pernah sebeumnya turun, orang Arab belum pernah mengenal seperti itu. Demikianlah terpesona mereka itu, lebih terpesona pemuka-pemuka mereka sendiri, sebgimana Abu Jahal, Abu Sofyan, al Walid bin al Mughirah, dan lain-lain.
Kedua; Al Qur’an banyak  menceritakan berita tentang masa-masa telah lalu; seperi berita tentang kaum ‘Ad, kaum Tsamud, kaum Luth, kaun Nuh, kaum Ibrahim, kaum Musa, negeri Madyan, cerita tentang kesucian Maryan dan kelahiran Isa Al Masih. Segala berita yang dibawanya itu benar dan semuanya bertepatan dengan kenyataan yang benar dan banyak persesuaian dengan cerita Ahlul Kitab.
 Ketiga; di dalam AlQur’an pernah diberitakan pula hal-hal yang akan terjadi. Hal ini dapat disimak pada awal Q.S. Ar Rum yang menyatakan bahwa pada mulanya orang Rum kalah perang dengan orang Persia. Tetapi sesudah beberapa tahun kemudian, ternyata orang Rum menang kembali.
Ketika orang Rum kalah pada awalnya, maka para musyrikin Quraisy bergembira ria. Sebab orang Persa (penyembah berhala) dapat mengalahkan orang Rum (pemeluk Nasrani yang pada pokoknya bertauhid, dekat dengan Islam). Namun turunnya ayat ini memberikan kepastian kepada kaum Muslimin bahwa Rum akan menang kembali beberapa tahun kemudian (bidh’I sinina, yakni bilangan antara tujuh sampai sembilan tahun). Saat itu, saking yakinnya atas kebenaran berita dalam S.Ar Rum ini, Abu Bakar bertaruh dengan orang Quraisy beberapa ekor unta. Beliau yakin bahwa orang Rum akan menang kembali. Maka benar bahwa beberapa tahun kemudian orang Rum mampu mengalahkan orang Persia (ketika itu zaman Mekah, belum ada larangan bertaruh). Maka diterimalah kemenangan taruhan itu.
Ke-empat; Dalam Al Qur’an terdapat beberapa pokok ilmiah tentang alam. Sebagai contoh adalah disebutkan dalam S. al Anbiyaa’: 30 (dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman ?).
Dibicarakan pula dalam Al Qur’an tentang asal usul manusia sejak dari tanah, lalu menjadi sperma (nutthfah), ‘alaqah, mudhghah, lalu berbentuk tulang yang kemudian tulang itu diselimuti (dibungkus) dengan daging lalu menjadi manusia yang bernyawa. (Q.S. AL Mu’minun 12 -1 4).
Soal-soal alam yang dibicarakan ini sangat mengagumkan karena bertambah dalam penyelidikan manusia dalam berbagai macam ilmu pengetahuan alam, bertambah jelas maksud ayat-ayat Al Qur’am itu. Padahal Nabi Muhammad saw buanlah seorang ahli ilmu alam.
Dalam Al Qur’an juga dibicarakan tentang ombak, laut, kapal berlayar, yang sangat menarik para pelaut. Sehingga Mr.Brown seorang nakhoda kapal Inggris yang bolak balik berlayar antara Inggris dan India selalu membaca terjemahan Al Qur’an. Beliau sangat kagum apabila membaca  ayat-ayat yang membicarakan tentang laut, kapal, dan bahtera. Beliau pernah bertanya kepada orang-orang Islam di India, pernahkah Nabi Muhammad saw berlayar ?. Merekapun menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw belum pernah berlayar selam hidupnya. Mendengar cerita ini dan ditambah pendalamannya tentang riwayat hidup Rasulullah saw, dan yakin bahwa Al Qur’an itu  wahyu yang mengandung kebenaran,   maka nakhoda Inggris itu masuk Islam.

(Sumber Tafsir Al Alzhar I; juz 1,2,3,)

Baca juga Q.S. As Shaf: 8 :”Mereka akan memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan, cuitan, istagram, pernyataan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir itu membencinya”.

Lasa Hs.


0 komentar:

Posting Komentar