Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 10 Maret 2019

DEMI IMAN : THALHAH SERAHKAN TANAHNYA, ZAID SERAHKAN KUDANYA


Firman Allah yang artinya: “Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui ” (Q.S Ali Imran: 92)
Menyebut iman itu mudah, namun mencapai hasil iman itu yang sulit. Seseorang belum akan mencapai kebaikan (birr) atau pribadi yang baik kalau dia belum menginfakkan/menyumbangkan sesuatu yang dicintainya.
Setelah ayat ini turun, maka sangat besar pengaruhnya bagi para sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka sangat ingin menjadi pribadi yang baik dengan memperhatikan orang banyak dan tidak individualis.
Adalah Abu Thalhah seorang sahabat Rasulullah saw dari kaum Anshar. Pak Thalhah memiliki kebun/tanah luas yang subur di Bairuhaa’ . Tanah ini tidak terlalu jauh dari Masjid Nabawi Madinah. Kebun ini dipelihara secara baik, dipupuk tanamannya, dijaga kebersihannya. Dibayarnya pekerjanya sebelum keringat kering. Upah mereka tidak dikemplang. Pengemplangan (tidak bayar upah, hutang) menyengsarakan banyak orang. Lingkungan dan sanitasinya dijaga betul. Maka tak heran bila  Rasulullah saw beberapa kali singgahdi kebun ini untuk minum airnya yang sangat bersih. Dengan pemilikan kebun yang subur dan sering dikunjungi Nabi saw ini, maka nama Thalhah menjadi viral saat itu. Thalhah tidak terlalu bangga dengan luasnya tanah yang dimilikinya itu.  Iman yang kuat, mendorongnya untuk menghibahkan tanah itu demi kamaslahatan umat. Beliau pun menemui Nabi Muhammad saw dan menyatakan:”Aku ingin mengamalkan wahyi Ilahi itu, Ya Rasulullah. Kekayaan yang paling aku cintai adalah kebun/tanah di Bairuhaa. Terimalah  ya Rasulullah. Itu sebagai sedekahku. Aku memberikan kuasa kepada Rasulullah untuk menyerahkannya kepada siapapun yang pantas menerimanya.
          Dengan amat gembira, Rasulullah saw menerima penyerahan tanah untuk kemaslahatan umat itu. Beliaupun menghargai Thalhah yang dengan ketulusan hati yang telah menyerahkan tanah itu, meskipun tidak sampai ratusan ribu hektar.
          Dengan kebijakan Rasulullah saw, beliau menguasakan kembali kepada Pak Thalhah untuk membagi tanah itu kepada siapapun yang dikehendakinya. Menurut riwayat hadits Muslim, harta itu diberikan kepada Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.
Demikian pula dengan Zaid bin Haritsah mantan putra angkat Nabi Muhammad saw. Zaid ini sowan kepada Nabi saw dengan menunggang kudanya yang sangat disayanginya. Kuda ini diberi nama Subul. Beliaupun matur kepada Rasulullah saw:”Ya Rasulullah, inilah kuda    tungganganku yang engkau tahu adalah yang paling aku sukai. Terimalah dia sebagai sedekahku dan sudilah Rasulullan memberikannya kepada yang lebih pantas menerimanya, semoga hal ini diterima Allah”.
          Kuda yang tangkas itu diterima Rasulullah saw sampai beliau melihat wajah Zaid membayangkan kesedihan Zaid berpisah dengan kuda yang disayanginya. Akan tetapi kepemimpinan Rasulullah saw adalah kememimpinan yang sangat mulia dan bijaksana. Kemudian beliau menyuruh sahabat lain untuk menjemput Usamah putra Zaid. Usamah sangat dicintai Rasulullah saw seperti cinta Rasul kepada Zaid bin Haritsah. Setelah Usamah tiba, maka bersabdalah Rasulullah saw:” Kuda tunggangan yang cantik ini telah diserahkan Zaid kepadaku, dan aku  telah menerimanya dan aku berhak memberikannya kepada siapapun yang aku kehendaki.Sekarang kuda ini aku serahkan kepada Usamah”. Demikianlah keagungan kepemimpinan beliau. Tanah yang amat dicintai Abu Thalhah disedekahkannya dan menguasakan kepada  Nabi untuk memberikanmya kepada siapapun yang dkehendakinya. Lalu Rasulullah saw menguasakan kembali kepada Pak Talhah. Kemudian Pak Thalhah menghadiahkan kebuh/tanah itu kepada Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.
Demikian pula dengan kuda Subul yang sangat dicintai oleh Zaid bin Haritsah. Setelah kuda itu diterima Nabi saw, maka langsung diserahkan  kepada Usamah yang juga putra Zaid bin Haritsah. Dengan demikian barang yag berharga dan sangat dicintainya itu diterima oleh orang-orang yang tidak jauh dari yang memberikannya.
(Sumber:  Tafsir Al Azhar Juz 4,5,6, , 2015 : 6 – 7)


Lasas Hs.

0 komentar:

Posting Komentar