Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 07 Maret 2019

MENJAMU TAMU


Meskipun KHA Dahlan seorang pedagang, mamun juga kadang mengalami paceklik. Suatu sore, KHA Dahlan kedatangan tamu dari jauh. Setelah berbincang-bincang sekedarnya, lalu terdengar suara adzan shalat maghrib. Tamu itu diajak oleh sang Kiyai untuk shalat jama’ah di masjid.
Sebelum pergi ke masjid, KHA Dahlan pesan kepada isterinya agar disediakan makan untuk tamu tadi. Ny. Walidah (isteri KHA Dahlan) matur bahwa porsi makan saat itu tinggal satu piring dengan lauk yang sederhana. Sedianya nasi itu untuk KHA Dahlan. Kiyai Dahlan menjawab
dengan tersenyum; “Kalau begitu, nasi itu disiapkan saja di meja makan dan disiapkan piring kosong dengan sendok dan garpunya. Juga siapkan air putih.Nanti piring yang ada nasinya ditaruh sebelah sana, dan piring kosong ditaruh sebelah sini.
Seusai shalat maghrib, Kiyai Dahlan meminta tamunya menunggu waktu shalat Isya’ sekalian di masjid. Setelah selesai melaksanakan shalat Isya’ berjamaah, beliau dan tamunnya menuju rumah kiyai dan langsung menuju ruang makan. Saat itu lampu ruang makan sengaja tidak dinyalakan.
Sesuai skenario, Kiyai Dahlan duduk di meja yang piringnya kosong. Sedang tamunya duduk di meja yang ada piringnya berisi nasi. Kiyai pun minta maaf kepada tamu, :”maaf ini kamarnya gelap dan lampunya dipakai di ruang lain”. Mari kita makan lanjutnya. Kiyai Dahlan berpura-pura makan dengan sedikit menggerak-gerakkan sendok di atas piring seolah-olah sedang makan. Sesekali beliau minum air putih itu. Sementara itu, tamunya makan nasi yang disajikan itu sampai habis. Tamu tidak tahu bahwa kiyai tidak makan sama sekali karena gelap.

(sumber: Kisah Inspiratif Para Pemimpin Muhammadiyah, 2017)

 Lasa Hs.


0 komentar:

Posting Komentar