Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 08 Maret 2019

PESIMIS ITU MATI SEBELUM PERANG


Pesimis adalah sikap takut, putus asa, bahkan merasa kalah sebelum menghadapi masalah. Mereka merasa tidak mampu mengatasi kesulitan masa depan yang menghadang. Mereka menyerah kalah sebelum maju perang. Mereka takut melangkah begitu melihat masa depannya gelap gulita. Bahkan mereka bunuh diri akibat penderitaan dan kesusahan yang mendera hidup dan kehidupan mereka. Baik kehidupan ekonomi, kehidupan rumah tangga, maupun kekuasaan.
Mereka menggantung diri karena kesulitan ekonomi. Tidak sedikit seorang ayah atau ibu tega meninggalkan anak-anak mereka dengan bunuh diri lantaran keretakan rumah tangga. Bahkan bisa terjadi seseorang menenggak racun lantaran gagal menggapai kekuasaan/jabatan tertentu.
          Kondisi semacam itu bisa terjadi lantaran tipisnya iman, sempit memandang kehidupan, kuatnya tekanan, dan lingkungan.
Tipis iman
Orang-orang yang memiliki iman kuat, akan berkeyakinan bahwa hidup ini ada yang mengatur. Mereka akan baik sangka/khusnudz dzan terhadap apa yang akan terjadi, termasuk penderitaan yang sedang dialami. Kehidupan yang menyenangkan dan menyusahkan diterimanya sebagai anugerah. Bila senang, mereka bersyukur, bila sedih mereka sabar. Ketika ditimpa kesedihan, mereka yakin bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan akan diangkat derajatnya. Mereka yakin kebenaran apa yang disabdakan Rasulullah saw:” Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu musibah dan keletihan, kekhawatiran, kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah swt akan mengampuni dosanya”.(H.R.Abu Hurairah, hadis hasan).
Orang yang imannya kuat akan menyadari bahwa kekuasaan itu ada yang mengatur. Meskipun tidak bermodal besar (ekonomi) dalam meraih kekuasaan,namun bila Allah menghendaki, maka kekuasaan akan berpihak padanya. Sebaliknya bisa saja terjadi ada orang yang syahwat kekuasaannya tinggi. Dengan menebar janji, hutang sana hutang sini,  sikut sana sikat sini dan kebetulan tidak jadi. Bisa saja dia akan mengantung diri dengan tali di pohon pinggir kali. Saking gemuknya,   putuslah tali, dan tercebur ke sungai. Padahal belum mati. Dari kejauhan nampak seperti  babi mati terapung di sungai. Hal ini lantaran tipisnya iman. Tidak kuat menanggung malu, lantaran ditagih hutang kanan kiri. Malu pada masyarakat lantaran tingginya janji.  
Seharusnya disadari bahwa bagaimanapun usaha manusia, namun Allah yang menentukan. Pepatah Arab mengatakan :al insanu bit tafkiri wallahu bittadbiri (manusia berpikir/merecanakan, Allahlah yang menentukan).
Dalam hal  kekuasaan sebaiknya direnungkan peringatan Allah dalam Q.S. Ali Imran: 26 yang artinya: katakanlah (Muhammad) “Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki.Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan/kekuasaan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”.
Karena keroposnya fondasi iman, mereka yang pesimis beranggapan bahwa penderitaan itu merupakan siksaan. Mereka beranggapan apalah artinya hidup kalau menderita terus menerus. Mereka menanggung malu dan lainnya.

(bersambung)

Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar